Ibu. Dialah yang acapkali membangunkanku untuk shalat ‘malam. Shalat isya yang tertunda. Dia bangun tengah malam, sekitar jam dua pagi, untuk membangunkan agar segera menunaikan shalat isya. Waktu yang seharusnya untuk tahajjud.
Sejak masuk SMP, ibadahku agak menurun. Maklum, aku masuk siang, pulang hampir maghrib. Capek pastinya. Maghrib yang dulunya lebih sering berjamaah, sekarang lebih sering sendiri. Aku makan dulu, baru shalat. Makan pun sambil baca buku. Gimana nggak lama?
Al-Fatah, musholla dekat rumahku – yang diambil dari namaku sendiri – mulai agak jarang aku naiki. Mengaji sebentar, ngajar anak-anak tetangga, sebelum isya kumandang, aku lebih sering pulang. Tidur. Padahal isya sebentar lagi akan dimulai. Tapi, itulah Fatah. Godaan setan di ranjang lebih menarik daripada lantunan merdu azan isya.
Isya berjamaah pun lewat.
Ibuku sih menasehati, agar shalat dulu, baru tidur. Tapi, seorang remaja bernama Fatah suka abai. Lalai. Ah, entar aja! Paling jam 10 bangun buat isya. Tapi, siapatah yang paham trik setan? Manusia dibuat terbuai. Manusia dibuat lalai. Manusia ditipu dengan muslihat yang sangat manis.
Namun, malaikat itu masih ada. Malaikat itu akan terus terjaga, mengawasi anak-anaknya agar tidak lupa pada Sang Kuasa. Shalat harus ditegakkan, gimana pun kondisi. Anak-anak harus dibiasakan sejak kecil. Biar terbawa hingga dewasa.
Malaikat itu adalah ibuku.
Shalat isya-ku yang sering keteteran, terlewatkan, beliau yang ingatkan, bangunkan dari tidurku. Dan, seorang Fatah jika tidur nyenyak, tak mau diganggu. Antara mata membuka dan merem tertutup, dia akan ngamuk. Ngedumel nggak jelas. Marah-marah. Ya, karena setan masih asyik nempel di mata dan hatinya.
Namun, malaikatku itu – ibuku – tidak mau kalah. Ia perangi terus setan yang membelitku di tempat tidur. Kamu harus bangun, Nak! Bangun! Shalat isya dulu. Jika aku tak mau bangun, malaikat itu akan mengintirkan bulu ayam di hidung atau telingaku. Kadang menggitik telapak kakiku dengan sapu lidi. Aku geli, berontak. Teriak. Menggumam nggak jelas. Intinya, jangan ganggu aku!
Tapi, bukan malaikat namanya kalau tidak berjuang keras sampai titik darah penghabisan. Malaikat itu dengan segala cara, diam-diam memerangi setan yang nongkrong di kepalaku. Dia memercikkan air di atas mukaku. Menarik selimutku. Takkan mau keluar dari kamarku, jika aku belum bangun. Lampu kamarku akan dibiarkan pendar. Padahal tidur, aku lebih suka lampu mati. Tapi, malaikat itu sengaja membiarkan lampu kamarku nyala. Hingga aku bangun, mengambil air wudlu, dan menunaikan shalat isya.
Kini, saat aku beranjak dewasa, tak ada lagi gelitikan, bulu ayam di lubang hidung, cubitan, kitikan di tapak kaki, atau tangan yang memercikkan air di mukaku. Tak ada. Tak ada lagi malaikat itu. Aku merasa amat sangat kehilangan.
Maka, sekarang semua keputusan ada di tanganku. Saat aku lalai shalat, itu
semua ulahku. Saat aku abai isya hingga subuh menjelang, itu ulahku. Saat aku, terbangun sebentar, tapi lebih tertarik dengan bantal, itu juga ulahku.
Tugas malaikatku sudah selesai.
Siapa lagi yang akan ingatkanku saat lalai, nasehatiku saat khilaf, dan bangunkanku saat abai, kecuali diriku sendiri???
Surabaya, 13 Mei 2008
Ibu... Terima kasih sudah jadi malaikatku...
17 Mei 2008
18 April 2008
Air Mata Ibu
Itu bukanlah judul sinetron yang pernah kami gilai sekeluarga. Sinetron yang dibintangi oleh Raslina Rasyidin dengan berperan sebagai tokoh ibu. Kalo gak salah, Tabah Penemuan dan Anjasmara juga pemainnya. Tamara Blezinsky juga iya. Kalo gak lupa dink!
Tapi, saya gak akan bahas sinetron Indonesia yang semakin lama semakin membosankan. Tema mirip-mirip. Gak kreatif. Di sini, saya akan nulis tentang air mata ibunda saya. Ibu Muslimah.
Sempat beberapa kali saya melihat beliau menangis. Sengaja dan tidak sengaja. Ketika saya mulai ‘dekat’ dengan beliau, tak segan-segan beliau curhat macam-macam ke saya. Menceritakan kepiluan hatinya sebagai seorang istri dari bapak saya. Istri yang sudah memberikan sepuluh anak dari rahimnya, namun ketika uban putih mulai bermunculan di rambutnya, ada seseorang yang membuat hatinya sedih, sakit.
Sambil bercerita, beliau kadang menangis. Aku tahu hatinya sakit. Aku tahu hatinya pilu. Namun, aku heran, kenapa orang yang menyakiti beliau, tak pernah paham. Kenapa? Ini yang masih menjadi misteri, meskipun sudah banyak teori dalam psikologi yang membahas ini. Teori tinggallah teori. Terkadang teori tidak memberi solusi.
Ujung-ujungnya, hubunganku dengan orang yang menyakiti hati bunda ini pun, jadi renggang. Bahkan muncul bibit-bibit benci dalam hatiku. Tapi, untuk ungkapkannya, rasanya tidak mungkin. Berat. Dan, aku tidak terbiasa mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di hati secara verbal. Aku lebih suka memendam. Ya, itulah aku.
Lain cerita lain kesempatan, ibuku menangis tatkala kakakku mengalami kecelakaan lalu lintas. Kejadiaannya pas hari Raya Iedul Adha gitu. Terus malamnya, rumah bibiku yang bertetangga dengan rumah kami, kemalingan. Hari yang kurang menguntungkan.
Ibuku sempat pula nangis. Tepatnya, menangisi perilaku kakak laki-laki pertama. Yeah, sekeluarga tahu kalau kakakku memang ‘nakal’. Meski tidak sampai berbuat onar. Namun, nakalnya itu dalam bentuk pulang malam, sering keluyuran, trek-trekan dengan motor, ngecat rambut. Tapi, nggak sampai ngelakuin hal-hal yang ekstrem kok! Dan, keluargaku yang memang sudah terpatri dengan lingkungan yang alim dan kondusif, beranggapan bahwa kakakku itu nakal. Padahal dalam kacamata psikologi yang baru-baru ini mulai aku sukai, itu wajar. Orang mencari jati dirinya dengan beragam cara. Dan, kita tidak berhak untuk men-judge secara sepihak. Dan, aku pun baru nyadar hal itu, sekarang.
Secara garis besar, ibuku menangis sebab ada dua konsekuensi: sebagai IBU sekaligus sebagai ISTRI. Masalah rumah tangga, itulah kunci pembuka keran air mata beliau. Dan aku sebagai anaknya, hanya bisa belajar dan memahami hal itu.
Oh...ternyata begitu tho?!
Surabaya 18 April 2008
Tapi, saya gak akan bahas sinetron Indonesia yang semakin lama semakin membosankan. Tema mirip-mirip. Gak kreatif. Di sini, saya akan nulis tentang air mata ibunda saya. Ibu Muslimah.
Sempat beberapa kali saya melihat beliau menangis. Sengaja dan tidak sengaja. Ketika saya mulai ‘dekat’ dengan beliau, tak segan-segan beliau curhat macam-macam ke saya. Menceritakan kepiluan hatinya sebagai seorang istri dari bapak saya. Istri yang sudah memberikan sepuluh anak dari rahimnya, namun ketika uban putih mulai bermunculan di rambutnya, ada seseorang yang membuat hatinya sedih, sakit.
Sambil bercerita, beliau kadang menangis. Aku tahu hatinya sakit. Aku tahu hatinya pilu. Namun, aku heran, kenapa orang yang menyakiti beliau, tak pernah paham. Kenapa? Ini yang masih menjadi misteri, meskipun sudah banyak teori dalam psikologi yang membahas ini. Teori tinggallah teori. Terkadang teori tidak memberi solusi.
Ujung-ujungnya, hubunganku dengan orang yang menyakiti hati bunda ini pun, jadi renggang. Bahkan muncul bibit-bibit benci dalam hatiku. Tapi, untuk ungkapkannya, rasanya tidak mungkin. Berat. Dan, aku tidak terbiasa mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di hati secara verbal. Aku lebih suka memendam. Ya, itulah aku.
Lain cerita lain kesempatan, ibuku menangis tatkala kakakku mengalami kecelakaan lalu lintas. Kejadiaannya pas hari Raya Iedul Adha gitu. Terus malamnya, rumah bibiku yang bertetangga dengan rumah kami, kemalingan. Hari yang kurang menguntungkan.
Ibuku sempat pula nangis. Tepatnya, menangisi perilaku kakak laki-laki pertama. Yeah, sekeluarga tahu kalau kakakku memang ‘nakal’. Meski tidak sampai berbuat onar. Namun, nakalnya itu dalam bentuk pulang malam, sering keluyuran, trek-trekan dengan motor, ngecat rambut. Tapi, nggak sampai ngelakuin hal-hal yang ekstrem kok! Dan, keluargaku yang memang sudah terpatri dengan lingkungan yang alim dan kondusif, beranggapan bahwa kakakku itu nakal. Padahal dalam kacamata psikologi yang baru-baru ini mulai aku sukai, itu wajar. Orang mencari jati dirinya dengan beragam cara. Dan, kita tidak berhak untuk men-judge secara sepihak. Dan, aku pun baru nyadar hal itu, sekarang.
Secara garis besar, ibuku menangis sebab ada dua konsekuensi: sebagai IBU sekaligus sebagai ISTRI. Masalah rumah tangga, itulah kunci pembuka keran air mata beliau. Dan aku sebagai anaknya, hanya bisa belajar dan memahami hal itu.
Oh...ternyata begitu tho?!
Surabaya 18 April 2008
03 April 2008
Kopi Sangrai Racikan Ibu Sendiri
Menyangrai kopi adalah salah satu kegiatan rutin ibuku. Nggak setiap bulan sih. Pokoknya, kalo persediaan kopi (bubuk) di rumah sudah seret, ibuku akan menyangrai kopi sendiri. Tujuannya, selain menghemat, juga lebih cocok di lidah karena diracik sendiri ‘bumbu-bumbu’ kopinya.
Ibuku biasanya menyangrai kopi di samping rumah sebelah timur, dekat gudang. Ada banyak tumpukan kayu bakar di situ. Jadi gampang diambil. Dibandingkan di dapur, asapnya nggak akan terlalu merajalela. Lebih dari itu, ibuku bisa menyangrai kopi sambil dielus-elusi oleh angin sepoi yang bertiup. Sebab, tahu sendirilah gimana panasnya di dekat tungku perapian.
Kopi racikan ibuku terbilang lain daripada yang ada di toko-toko. Kata orang yang pernah disuguhkan kopi buatan keluargaku dan aku sendiri mengaku: kopi racikan ibu lebih gurih. Kenapa demikian? Karena, bahan-bahan campurannya yang ‘agak’ istimewa. Ada irisan kelapa, kayu manis, cengkeh, dan tentu saja biji-biji kopi nan montok. Semuanya disangrai di atas wajan tanah liat hingga gosong. Prosesnya pun butuh waktu yang cukup lama. Kalo nggak terbiasa, bisa kesemutan hingga kegajahan di depan tungku nan panas. Mesti bolak-balikin kayu bakarnya lagi.
Kalo ibuku sedang rehat, aku kadang-kadang diminta untuk menggantikan beliau. Terkadang aku ngedumel, apalagi manggilnya pas aku lagi asyik nonton tv atau baca buku. Tapi, kalo lagi mood dalam bantu-bantu tugas rumah, aku pun akan dengan senang hati menyingsingkan lengan baju dan lengan celana (loh?).
Apalagi kalo kebetulan lagi ada pisang atau ubi jalar atau singkong. Inilah momen yang tepat untuk bereksperimen (cailaaah) bakar-membakar. What?! Bakar singkong, ubi jalar, atau pisang, maksudnya. Enak kok! Mengasyikkan. Ditambah wangi kopi yang merasuk hingga tulang rusuk plus legitnya pisang, lembutnya daging ubi jalar, atau empuknya singkong. Hmmm...merupakan perpaduan hidup yang... MAKNYUSSS...!!!
Sekarang, tradisi menyangrai kopi sendiri sudah hilang ditelan masa. Orang yang biasanya menyangrai kopi telah berada dalam pelukan ‘wangikopi’-NYA.
Orang rumah semakin suka yang serba instan. Serba beli. Membeli hasil. Tidak menikmati proses.
Ya sutralah...
Surabaya, 3 April 2008
Beneath my memories’ injection
Ibuku biasanya menyangrai kopi di samping rumah sebelah timur, dekat gudang. Ada banyak tumpukan kayu bakar di situ. Jadi gampang diambil. Dibandingkan di dapur, asapnya nggak akan terlalu merajalela. Lebih dari itu, ibuku bisa menyangrai kopi sambil dielus-elusi oleh angin sepoi yang bertiup. Sebab, tahu sendirilah gimana panasnya di dekat tungku perapian.
Kopi racikan ibuku terbilang lain daripada yang ada di toko-toko. Kata orang yang pernah disuguhkan kopi buatan keluargaku dan aku sendiri mengaku: kopi racikan ibu lebih gurih. Kenapa demikian? Karena, bahan-bahan campurannya yang ‘agak’ istimewa. Ada irisan kelapa, kayu manis, cengkeh, dan tentu saja biji-biji kopi nan montok. Semuanya disangrai di atas wajan tanah liat hingga gosong. Prosesnya pun butuh waktu yang cukup lama. Kalo nggak terbiasa, bisa kesemutan hingga kegajahan di depan tungku nan panas. Mesti bolak-balikin kayu bakarnya lagi.
Kalo ibuku sedang rehat, aku kadang-kadang diminta untuk menggantikan beliau. Terkadang aku ngedumel, apalagi manggilnya pas aku lagi asyik nonton tv atau baca buku. Tapi, kalo lagi mood dalam bantu-bantu tugas rumah, aku pun akan dengan senang hati menyingsingkan lengan baju dan lengan celana (loh?).
Apalagi kalo kebetulan lagi ada pisang atau ubi jalar atau singkong. Inilah momen yang tepat untuk bereksperimen (cailaaah) bakar-membakar. What?! Bakar singkong, ubi jalar, atau pisang, maksudnya. Enak kok! Mengasyikkan. Ditambah wangi kopi yang merasuk hingga tulang rusuk plus legitnya pisang, lembutnya daging ubi jalar, atau empuknya singkong. Hmmm...merupakan perpaduan hidup yang... MAKNYUSSS...!!!
Sekarang, tradisi menyangrai kopi sendiri sudah hilang ditelan masa. Orang yang biasanya menyangrai kopi telah berada dalam pelukan ‘wangikopi’-NYA.
Orang rumah semakin suka yang serba instan. Serba beli. Membeli hasil. Tidak menikmati proses.
Ya sutralah...
Surabaya, 3 April 2008
Beneath my memories’ injection
31 Maret 2008
Belajar dari Arif
Arif. Semoga sebijak namanya. Amiiin...
Arif. Adikku bungsu. Sekarang dua belas tahun. Masih duduk di kelas enam SD. Sebentar lagi dia UNAS. Sempat kutawarkan untuk masuk SMPN 1 Selong – sekolah favorit di kotaku – sekolahku dulu. Tapi, dia tidak mau. Dia ingin melanjutkan sekolah di MTs Negeri di Gelang saja.
Ketika ibu kami meninggal, Arif masih duduk di kelas tiga SD. Ketika itu, orang yang paling kami kasihani dan prihatinkan keadaannya adalah Arif. Dia paling kecil. Masih butuh banyak interaksi dengan sosok bernama ibu. Masih butuh kasih sayang dan perhatian juga belaian seorang ibu. Tapi, apalah hendak dikata. Allah ternyata lebih mencintai ibu kami...
Awal-awal kepergian beliau, rumah kami dirundung ‘kabut tebal’. Seisi rumah menampakkan wajah-wajah sedih, namun saling menguatkan. Jika aku dan saudara-saudaraku tengah berkumpul, yang kami bicarakan adalah almarhumah ibu. Kami bicarakan kebaikan-kebaikan beliau. Kami obrolkan kenangan-kenangan kami bersama beliau ketika masih hidup dulu. Namun, ujung pembicaraan selalu berakhir dengan nada getir. Sekali lagi, kami pun saling menguatkan.
Mungkin yang paling berat adalah Arif...
Kami, kakak-kakaknya sudah banyak merasakan warna-warni kehidupan ibu. Sementara Arif? Bocah delapan tahun yang masih suka merengek-rengek minta sesuatu pada ibu. Bocah yang sedang ingin dimanja, dituruti kemauannya. Bocah yang butuh ‘arti’ seorang ibu. Bocah yang ingin dibuatkan susu panas, rewel kalau nasi goreng belum jadi, atau merengek agar diberi uang untuk beli permen. Dia masih bocah dengan gambaran karakter seperti itu. Dan, itu wajar.
Ada satu momen paling meng-haru-biru-kan yang sempat kualami bersama Arif dan adikku perempuan, Ofah. Kenangan yang selalu mengintaiku tiap kali melihat bocah seumuran dia ini, terjadi di awal-awal tiadanya ibu kami di rumah. Kami yang dibilang sedang berusaha pulih dari kesedihan, ternyata masih menebak-nebak seperti apa sih perasaan seorang anak kecil yang ditinggal mati oleh ibunya. Ya, Arif mengalaminya juga.
Kala itu, maghrib menjelang isya. Arif sedang ‘cari perhatian’. Ia merengek-rengek gak jelas. Kalau tidak khilaf, dia minta dibelikan sesuatu. Sepertinya permintaan yang belum bisa dikabulkan oleh bapak. Aku lupa, itu barang atau apa. Yang pasti rengekannya disertai aksi yang sedikit anarkis. Dia menendang-nendang pintu. Melemparkan bantal, sendal, dan benda-benda kecil lainnya. Dia berguling-guling di lantai yang kotor disertai isakan tangis. Ia membuat kami yang ada di situ ‘agak’ naik darah dengan sikapnya. Tapi, yang pasti kami menaruh keprihatinan. Rasa sayang, kasihan, juga sedikit berang bercampur jadi satu di hati.
Arif terus saja terisak-isak rewel. Ditanya maunya apa, dia nggak jawab. Disuruh diam, dia nggak mau. Bahkan salah seorang bibiku sempat ketus ke dia. Tapi, dasar anak kecil. Entah apa yang sedang dirasakannya saat itu. Aku pun diam-diam kasihan. Perih sekali rasanya mendengar dia menangis. Aku lantas teringat ibu. Ingat pula Tuhan. Lantas, aku protes dalam hati. Kenapa harus kami yang mengalami ini? (Tapi, seiring dengan perjalanan waktu, aku mulai menemukan hikmah di balik semua ini… )
Tidak tahan mendengar Arif nangis. Tidak tahan juga mendengar bentakan yang dia terima agar diam. Aku lantas menawarkan si Arif untuk ikut denganku, jalan-jalan. Kebetulan di Lapangan Umum Selong lagi ada pasar rakyat. Banyak pula hiburan anak-anak di situ. Ya, aku akan ngajak Arif ke komidi putar.
Meski sempat menolak dan bersusah-payah aku membujuknya, akhirnya dia mengangguk. Ketika berusaha melunakkannya tersebut, hatiku juga ikut gerimis.
Ofah, adikku yang perempuan, ikut pula kuajak. Akhirnya, kami bertiga pergi dengan motor. Di perjalanan, aku tidak bisa menahan gelombang haru yang menggedor-gedor jendela hatiku. Saat memacu motor pelan, aku tak kuasa membendung air mata. Aku menangis di atas motor sambil mengingat banyak hal: Ibuku, Arif, adik-adikku, masa depan kami, dan seribu macam kenangan lainnya berkelebat dalam kepalaku.
Aku menangis sementara dua adikku di boncengan belakang asyik dengan pikiran mereka masing-masing.
Ketika hampir sampai, aku pun mencoba menghapus air mataku. Untung rumah salah seorang keluarga teman dekatku, persis di samping Lapangan Umum Selong. Jadi, aku minta izin parkir di situ. Sambil berusaha memalingkan muka dari adik-adikku agar tidak terlihat raut sedihku, aku pun mencari-cari keran. Pengen cuci muka biar bisa lebih segar. Tapi, nggak ada. Ya, sudahlah. Aku pun mengusap bekas air mataku dengan ujung bajuku.
Selanjutnya, aku pun menggandeng dua adikku tersebut menuju ke arena pasar malam yang ramai betul. Kendaraan, terutama motor, terparkir gak rapi. Orang-orang dengan bermacam tabiat dan kepentingan berseliweran. Ada pula yang hanya duduk-duduk, melihat-lihat pedagang kaki lima, penjual mainan, membeli makanan atau pop ice, dan lain-lain. Anak-anak kecil pun berada dalam pengawasan orang tuanya.
Setelah membeli karcis untuk tiga orang, kami pun masuk. Sembari melihat kiri kanan, aku mulai menikmati keramaian. Penjual baju-baju, kelontong, mainan, buku-buku murah, stiker dan poster, cd-cd bajakan, aksesoris, dan tentunya makanan serta minuman, ada di situ. Sempat tertarik untuk membeli makanan, ah…ntar sajalah! Aku ke sini dengan tujuan untuk menghibur adikku…
Aku pun mengantar Arif ke komidi putar yang mengambil tempat di bagian belakang lapangan. Di sana berbagai jenis permainan ada. Kincir asmara, keretaapi-keretaapian, mobil-mobilan, mandi bola, kuda putar, motocross, dan beragam permainan yang tidak kuhapal namanya. Masing-masing permainan masang tarif berkisar 1500-2000 rupiah. Satu yang paling kuingat: banyak permainan digerakkan oleh motor listrik yang amat sangat bising. Memekakkan telinga. Namun, ada pula beberapa yang didorong atau diputar-putar secara manual. Artinya, ada penjaga stand permainan yang bertugas mendorong permainan dengan kedua tangannya. Sangat katrok memang. Tapi, begitulah.
Aku pun menyuruh dua adikku untuk bebas memilih permainan yang ingin mereka naiki. Terserah. Arif mencoba beberapa. Ofah pun demikian. Aku hanya jadi penonton. Kulihat Arif tidak terlalu surprised, tidak pula takut untuk mencoba. Ia diam, senyum pun tidak. Mungkin ingin menikmati. Ofah beda. Ia tampak senang. Sempat tertawa-tawa pula.
Aku hanya asyik menyaksikan mereka. Karena beda arena permainan, aku mesti bolak-balik menengokkan kepala antara Arif dan Opah. Ya, semoga saja mereka senang. Hanya itu harapku.
Setelah puas bermain, meski kutawari lagi mereka untuk mencoba arena yang lain, mereka bilang tidak. Ya sudah, sekarang kita pulang, ajakku.
Sebelum pulang ke rumah, aku ngajak kedua adikku untuk makan bakso. Ku-cek uangku. Ya Allah...hanya cukup untuk beli dua mangkuk bakso. Padahal rencanaku ingin agar masing-masing kami mendapatkan satu mangkuk. Tapi, yah...apa boleh buat. Kami pun menikmati bakso itu dengan lahap.
Dalam perrjalanan pulang, aku tak henti-hentinya mengucap syukur. Aku masih diizinkan oleh Allah untuk berbagi dengan adik-adikku.
Ya Allah... kuatkanlah kami dalam menjalani hidup ini...
Arif, kudoakan yang terbaik selalu untukmu...
Surabaya, 31 Maret 2008
24 Maret 2008
Uang, Itu Urusan Ibu
Kalau bicara masalah uang, di keluargaku sendiri, uang adalah wewenang ibu. Meskipun pastinya semuanya bersumber dari bapak. Beliau yang bekerja mencari uang. Sementara yang mengurus dan mengelolanya, ibu.
Kalau butuh uang untuk bayar SPP, misalnya, aku lebih suka meminta pada ibu. Padahal tidak menutup kemungkinan, jika kuminta pada bapak, akan ada uang lebih. Sebab, bapakku memang begitu. Ia selalu memberikan uang lebih, meskipun yang kuminta hanya sekian...sekian.
Entah kenapa. Walaupun sikap bapak demikian baik padaku, namun aku lebih suka dan lebih ‘enjoy’ meminta pada ibu. Aku bisa lebih terbuka membeberkan kebutuhan-kebutuhan sekolahku. Saking seringnya aku berurusan dengan ibu masalah uang, sampai-sampai beliau menyuruhku sesekali untuk meminta langsung pada bapak. Begitu buruknya hubunganku dengan bapak!
Namun, Alhamdulillah... sejauh ini masalah finansial keluarga kami terbilang cukup. Tidak berkekurangan, tidak berlebihan. Kami memang dibiasakan untuk hidup sederhana. Mana yang penting, semisal urusan sekolah, beli buku, peralatan belajar, itu dinomorsatukan. Kalau minta uang saku, benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan kami masing-masing. Yang besar, tentu jatahnya lebih banyak. Sebaliknya pun begitu. Namun, seringkali jika uang bagian yang kami terima dari ibu terasa kurang, kami pun nodong ke bapak. Dan...bapak memang seorang yang dermawan dan baik hati. Kami pasti diberi lebih.
Semasa ibu hidup, kami benar-benar diajarkan untuk hidup sederhana, tidak boros. Dijatahi tiap hari, tak lantas kami habiskan semua hari itu juga. Kami, atas kesadaran masing-masing, menyisihkan sebagian untuk ditabung. Aku pun begitu. Meskipun waktu madrasah hingga masuk SMP dulu, masih ada sistem menabung di sekolah, tapi aku lebih suka ‘menabung’ di tas. Semua uangku aku taruh di tas. Aku pikir itu bagus. Tiap pergi ke mana-mana aku bawa tas. Jadi nggak takut kekurangan duit. Itu jadi kebiasaan hingga detik ini.
Seringkali temanku mengingatkan agar aku berhati-hati dengan duit yang aku taruh di tas. Rawan hilang alias kecurian. Bahkan, saking teledorku, aku terbiasa membiarkan tasku terbuka meskipun saat keluar main. Mending aku menaruh duitku di dompet. Ini tidak. Aku meletakkannya begitu saja di saku tas bagian depan. Bahkan, dulu saat tasku pernah rusak retsletingnya, aku pun membiarkan duitku di sana. Sampai ada kawan yang mengingatkan lembaran-lembaran uang dan recehku yang berserakan begitu saja di kantong tas yang terbuka itu. Namun, Alhamdulillah...hingga detik ini aku tak pernah mengalami kecurian atau apa.
Kini, setelah ibu tiada, pola keuangan kami pun berubah. Aku sendiri yang merasakan dan mengalami hal itu. Kami, aku khususnya, jadi kurang terkendali dalam menggunakan uang. Aku sedikit boros. Apa itu karena mudahnya duit keluar dari sang bapak? Begitu kami bilang minta duit segini, bapak justru memberi lebih. Tidak seperti ibu memang. Dari sana, aku belajar bahwa kentara sekali bedanya laki-laki dan perempuan dalam mengurus uang. Apa itu pula yang menyebabkan setiap kali pemilihan bendaharaku di kelasku, yang terpilih pasti dari golongan hawa. Apa karena laki-laki lebih mudah korupsi? Hmmm... Menarik untuk dikaji lebih lanjut, nih!
Begitulah, aku benar-benar merasakan perbedaan yang mencolok mengenai urusan duit, saat ibu masih ada dan setelah beliau tiada...
Surabaya, Minggu, 24 Maret 2008
Penghabisan long weekend
Kalau butuh uang untuk bayar SPP, misalnya, aku lebih suka meminta pada ibu. Padahal tidak menutup kemungkinan, jika kuminta pada bapak, akan ada uang lebih. Sebab, bapakku memang begitu. Ia selalu memberikan uang lebih, meskipun yang kuminta hanya sekian...sekian.
Entah kenapa. Walaupun sikap bapak demikian baik padaku, namun aku lebih suka dan lebih ‘enjoy’ meminta pada ibu. Aku bisa lebih terbuka membeberkan kebutuhan-kebutuhan sekolahku. Saking seringnya aku berurusan dengan ibu masalah uang, sampai-sampai beliau menyuruhku sesekali untuk meminta langsung pada bapak. Begitu buruknya hubunganku dengan bapak!
Namun, Alhamdulillah... sejauh ini masalah finansial keluarga kami terbilang cukup. Tidak berkekurangan, tidak berlebihan. Kami memang dibiasakan untuk hidup sederhana. Mana yang penting, semisal urusan sekolah, beli buku, peralatan belajar, itu dinomorsatukan. Kalau minta uang saku, benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan kami masing-masing. Yang besar, tentu jatahnya lebih banyak. Sebaliknya pun begitu. Namun, seringkali jika uang bagian yang kami terima dari ibu terasa kurang, kami pun nodong ke bapak. Dan...bapak memang seorang yang dermawan dan baik hati. Kami pasti diberi lebih.
Semasa ibu hidup, kami benar-benar diajarkan untuk hidup sederhana, tidak boros. Dijatahi tiap hari, tak lantas kami habiskan semua hari itu juga. Kami, atas kesadaran masing-masing, menyisihkan sebagian untuk ditabung. Aku pun begitu. Meskipun waktu madrasah hingga masuk SMP dulu, masih ada sistem menabung di sekolah, tapi aku lebih suka ‘menabung’ di tas. Semua uangku aku taruh di tas. Aku pikir itu bagus. Tiap pergi ke mana-mana aku bawa tas. Jadi nggak takut kekurangan duit. Itu jadi kebiasaan hingga detik ini.
Seringkali temanku mengingatkan agar aku berhati-hati dengan duit yang aku taruh di tas. Rawan hilang alias kecurian. Bahkan, saking teledorku, aku terbiasa membiarkan tasku terbuka meskipun saat keluar main. Mending aku menaruh duitku di dompet. Ini tidak. Aku meletakkannya begitu saja di saku tas bagian depan. Bahkan, dulu saat tasku pernah rusak retsletingnya, aku pun membiarkan duitku di sana. Sampai ada kawan yang mengingatkan lembaran-lembaran uang dan recehku yang berserakan begitu saja di kantong tas yang terbuka itu. Namun, Alhamdulillah...hingga detik ini aku tak pernah mengalami kecurian atau apa.
Kini, setelah ibu tiada, pola keuangan kami pun berubah. Aku sendiri yang merasakan dan mengalami hal itu. Kami, aku khususnya, jadi kurang terkendali dalam menggunakan uang. Aku sedikit boros. Apa itu karena mudahnya duit keluar dari sang bapak? Begitu kami bilang minta duit segini, bapak justru memberi lebih. Tidak seperti ibu memang. Dari sana, aku belajar bahwa kentara sekali bedanya laki-laki dan perempuan dalam mengurus uang. Apa itu pula yang menyebabkan setiap kali pemilihan bendaharaku di kelasku, yang terpilih pasti dari golongan hawa. Apa karena laki-laki lebih mudah korupsi? Hmmm... Menarik untuk dikaji lebih lanjut, nih!
Begitulah, aku benar-benar merasakan perbedaan yang mencolok mengenai urusan duit, saat ibu masih ada dan setelah beliau tiada...
Surabaya, Minggu, 24 Maret 2008
Penghabisan long weekend
Langganan:
Postingan (Atom)