26 Mei 2008

Masihkah Kau Mencium Tangan Ibumu???

Saat masih kecil, oleh orang tua, kita diajarkan untuk selalu memberi salam sebelum pergi. Terlebih-lebih, sebelum berangkat sekolah. Mencium tangan sekaligus mengucapkan “Assalamu’alaikum” sudah merupakan satu paket lengkap. Orang tua yang agak ‘modern’ sedikit, tak lupa cipika cipiki anaknya.

Setelah beranjak dewasa, katakanlah memasuki masa remaja, masihkah kebiasaan itu kita terapkan?

Saya sendiri, jujur, tidak selalu demikian. Entah kenapa kalau terhadap bapak, saya seringkali tidak salaman. Tapi, kalau ibu, berasa wajib bagi saya! Sedapat mungkin saya mencium tangan sang bunda, sekalipun beliau sedang berkutat di dapur dengan tangan yang coreng-moreng atau pun baru pulang dari pasar dengan tangan masih penuh belanjaan. Saya akan cium tangan beliau. Kalau akan ujian, tak lupa, plus doa.

Sekalipun surga itu terletak di kaki ibu – yang mana amat jarang sekali kita mencium kaki ibu – gimana dengan mencium tangannya??? Bagi saya, justru di tangan ibu kitalah surga itu berada.

Bagaimana tidak?

Tangan ibu kitalah yang membelai kita lembut saat kita masih di dalam kandungan. Tangan bunda pula yang menyentuh kita dengan kasih sayang ketika telah terlahir menjadi ‘sosok merah tak berdaya’. Tangan itu yang memandikan, mencucikan kain (popok) yang kotor karena kotoran dan air kencing kita. Tangan itu yang menggelar selimut di atas tubuh kita agar tidak kedinginan. Tangan itu pula yang memeluk kita saat kita butuh penguatan.

Lalu, sudahkah kita ciumi tangan itu? Sudahkah kita temukan wangi surga di situ? Atau justru, sudah lama tangan itu kita biarkan mendingin, mengasar, dan tak tersentuh di bibir, pipi, atau jidat kita?

Apalagi mencium kakinya!

Surga itu tak sulit mencarinya, Sobat!

Ia ada di samping kita, dekat dengan kita. Akankah kita melepaskannya begitu saja? Membiarkan surga itu hingga waktu ‘kan tiba mendinginkannya???


Surabaya, 23 Mei 2008

21 Mei 2008

Aku: Partner Masak Ibu

Aku suka sekali makan. Gak heran kalo misalnya ada makanan yang gak disuka ama orang di rumah, akulah yang bakal ngelahapnya. Hehehe... kata ibuku, lidahku itu tawar. Dikasih makanan apa pun, belum berasa kalo perutku sendiri belum ngasih lampu merah agar berhenti.

Well, karena suka makan, maka otomatis aku juga suka masak. Meskipun bukan sebagai head chef di rumah, tapi kalo ada acara masak-masak, aku akan dengan senang hati membantu. Entah bantu goreng-goreng, ngiris-ngiris, icip-icip, etc. Pokoke, masak itu... menyenangkan...juga mengenyangkan! Hehehe...

Kalo boleh jujur, ibuku juga gak terlalu pinter-pinter amat memasak. Sebab, selama ini, yang masak itu bibiku yang tinggal satu rumah dengan kami. Tapi, sejak bibiku punya kesibukan lain, so mau gak mau ibuku yang harus turun ke dapur. Masak buat kami semua. Dan...aku amat sangat senang dan suka bantu masak-masak. Yeah, seperti my confession tadi di awal.

Masak apa aja? Ooopppssss...perlu dibagi deh kayaknya antara masak jajanan sama masak masakan ‘besar’. Bikin kueh-kueh tradisional, ibuku emang jago. Tapi, kalo jajanan yang agak modern gitu, kakakku yang cewek ahlinya. Tapi, berhubung yang kami makan tiap hari adalah masakan ‘besar’, so ibuku yang meng-handle. Bikin kue tradisional pun, kayak pisgor, peyek, nagasari, lemang, dan sejenisnya, agak jarang-jarang. Tergantung, ada momen apa atau sikonnya gimana. Mood masak juga ngaruh. Hehehe...

Nah, kalo misalnya, aku pulang sekolah lebih awal, dan menjumpai ibuku masih berkutat di dapur, aku takkan segan-segan menyingsingkan lengan baju (cieeee) untuk bantu beliau masak. Yeah, motong-motong apa gitu, goreng-goreng sambel goreng, jagain api di tungku, dsb. Meski kadang egois juga jadi anak. Kalo lagi capek dan gak mood bantu beliau, yeahhh...aku mantengin tipi. Sorry mom, i couldn’t help you!

Tapi, yang namanya ibu itu ya... pengertian banget gitu! Meskipun sebagai anak sering gak pengertian, tapi sang ibu seolah-olah punya banyak stok ‘pengertian’. Aku baru nyadar hal itu setelah besar gini. Dulu mungkin karena pikirannya masih anak-anak dan menganggap ibuku emang ‘robot’ yang canggih dan tangguh. so, everything she can handle! Tapi, setelah mikir dan mikir, namanya manusia pasti akan capek, lelah, ingin istirahat, dsb. Dan... aku menyesal banget karena tidak bisa berbuat banyak untuk beliau.

Mom...though u’re not here besides me now, but i always try to do my best for you!

Well, sekalipun ibuku tidak terlalu pinter-pinter amat memasak dan kadang-kadang masakannya ada yang kurang pas di lidah, tapi aku angkatin dua jempolku untuk beliau! Beliau udah mencoba ngasih yang terbaik dari dirinya, dan alangkah bodohnya aku kalo tidak menghargai usaha ibuku itu...

So, thanks guys for reading this! My message for you all: don’t ever let your chance n moment with your mom! U never know, when the time is coming...


Surabaya, 20 Mei 2008
Bu, aku rindu masakanmu

17 Mei 2008

Dia Malaikatku

Ibu. Dialah yang acapkali membangunkanku untuk shalat ‘malam. Shalat isya yang tertunda. Dia bangun tengah malam, sekitar jam dua pagi, untuk membangunkan agar segera menunaikan shalat isya. Waktu yang seharusnya untuk tahajjud.

Sejak masuk SMP, ibadahku agak menurun. Maklum, aku masuk siang, pulang hampir maghrib. Capek pastinya. Maghrib yang dulunya lebih sering berjamaah, sekarang lebih sering sendiri. Aku makan dulu, baru shalat. Makan pun sambil baca buku. Gimana nggak lama?

Al-Fatah, musholla dekat rumahku – yang diambil dari namaku sendiri – mulai agak jarang aku naiki. Mengaji sebentar, ngajar anak-anak tetangga, sebelum isya kumandang, aku lebih sering pulang. Tidur. Padahal isya sebentar lagi akan dimulai. Tapi, itulah Fatah. Godaan setan di ranjang lebih menarik daripada lantunan merdu azan isya.

Isya berjamaah pun lewat.

Ibuku sih menasehati, agar shalat dulu, baru tidur. Tapi, seorang remaja bernama Fatah suka abai. Lalai. Ah, entar aja! Paling jam 10 bangun buat isya. Tapi, siapatah yang paham trik setan? Manusia dibuat terbuai. Manusia dibuat lalai. Manusia ditipu dengan muslihat yang sangat manis.

Namun, malaikat itu masih ada. Malaikat itu akan terus terjaga, mengawasi anak-anaknya agar tidak lupa pada Sang Kuasa. Shalat harus ditegakkan, gimana pun kondisi. Anak-anak harus dibiasakan sejak kecil. Biar terbawa hingga dewasa.

Malaikat itu adalah ibuku.

Shalat isya-ku yang sering keteteran, terlewatkan, beliau yang ingatkan, bangunkan dari tidurku. Dan, seorang Fatah jika tidur nyenyak, tak mau diganggu. Antara mata membuka dan merem tertutup, dia akan ngamuk. Ngedumel nggak jelas. Marah-marah. Ya, karena setan masih asyik nempel di mata dan hatinya.

Namun, malaikatku itu – ibuku – tidak mau kalah. Ia perangi terus setan yang membelitku di tempat tidur. Kamu harus bangun, Nak! Bangun! Shalat isya dulu. Jika aku tak mau bangun, malaikat itu akan mengintirkan bulu ayam di hidung atau telingaku. Kadang menggitik telapak kakiku dengan sapu lidi. Aku geli, berontak. Teriak. Menggumam nggak jelas. Intinya, jangan ganggu aku!

Tapi, bukan malaikat namanya kalau tidak berjuang keras sampai titik darah penghabisan. Malaikat itu dengan segala cara, diam-diam memerangi setan yang nongkrong di kepalaku. Dia memercikkan air di atas mukaku. Menarik selimutku. Takkan mau keluar dari kamarku, jika aku belum bangun. Lampu kamarku akan dibiarkan pendar. Padahal tidur, aku lebih suka lampu mati. Tapi, malaikat itu sengaja membiarkan lampu kamarku nyala. Hingga aku bangun, mengambil air wudlu, dan menunaikan shalat isya.

Kini, saat aku beranjak dewasa, tak ada lagi gelitikan, bulu ayam di lubang hidung, cubitan, kitikan di tapak kaki, atau tangan yang memercikkan air di mukaku. Tak ada. Tak ada lagi malaikat itu. Aku merasa amat sangat kehilangan.

Maka, sekarang semua keputusan ada di tanganku. Saat aku lalai shalat, itu
semua ulahku. Saat aku abai isya hingga subuh menjelang, itu ulahku. Saat aku, terbangun sebentar, tapi lebih tertarik dengan bantal, itu juga ulahku.

Tugas malaikatku sudah selesai.

Siapa lagi yang akan ingatkanku saat lalai, nasehatiku saat khilaf, dan bangunkanku saat abai, kecuali diriku sendiri???


Surabaya, 13 Mei 2008

Ibu... Terima kasih sudah jadi malaikatku...

18 April 2008

Air Mata Ibu

Itu bukanlah judul sinetron yang pernah kami gilai sekeluarga. Sinetron yang dibintangi oleh Raslina Rasyidin dengan berperan sebagai tokoh ibu. Kalo gak salah, Tabah Penemuan dan Anjasmara juga pemainnya. Tamara Blezinsky juga iya. Kalo gak lupa dink!

Tapi, saya gak akan bahas sinetron Indonesia yang semakin lama semakin membosankan. Tema mirip-mirip. Gak kreatif. Di sini, saya akan nulis tentang air mata ibunda saya. Ibu Muslimah.

Sempat beberapa kali saya melihat beliau menangis. Sengaja dan tidak sengaja. Ketika saya mulai ‘dekat’ dengan beliau, tak segan-segan beliau curhat macam-macam ke saya. Menceritakan kepiluan hatinya sebagai seorang istri dari bapak saya. Istri yang sudah memberikan sepuluh anak dari rahimnya, namun ketika uban putih mulai bermunculan di rambutnya, ada seseorang yang membuat hatinya sedih, sakit.

Sambil bercerita, beliau kadang menangis. Aku tahu hatinya sakit. Aku tahu hatinya pilu. Namun, aku heran, kenapa orang yang menyakiti beliau, tak pernah paham. Kenapa? Ini yang masih menjadi misteri, meskipun sudah banyak teori dalam psikologi yang membahas ini. Teori tinggallah teori. Terkadang teori tidak memberi solusi.

Ujung-ujungnya, hubunganku dengan orang yang menyakiti hati bunda ini pun, jadi renggang. Bahkan muncul bibit-bibit benci dalam hatiku. Tapi, untuk ungkapkannya, rasanya tidak mungkin. Berat. Dan, aku tidak terbiasa mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di hati secara verbal. Aku lebih suka memendam. Ya, itulah aku.

Lain cerita lain kesempatan, ibuku menangis tatkala kakakku mengalami kecelakaan lalu lintas. Kejadiaannya pas hari Raya Iedul Adha gitu. Terus malamnya, rumah bibiku yang bertetangga dengan rumah kami, kemalingan. Hari yang kurang menguntungkan.

Ibuku sempat pula nangis. Tepatnya, menangisi perilaku kakak laki-laki pertama. Yeah, sekeluarga tahu kalau kakakku memang ‘nakal’. Meski tidak sampai berbuat onar. Namun, nakalnya itu dalam bentuk pulang malam, sering keluyuran, trek-trekan dengan motor, ngecat rambut. Tapi, nggak sampai ngelakuin hal-hal yang ekstrem kok! Dan, keluargaku yang memang sudah terpatri dengan lingkungan yang alim dan kondusif, beranggapan bahwa kakakku itu nakal. Padahal dalam kacamata psikologi yang baru-baru ini mulai aku sukai, itu wajar. Orang mencari jati dirinya dengan beragam cara. Dan, kita tidak berhak untuk men-judge secara sepihak. Dan, aku pun baru nyadar hal itu, sekarang.

Secara garis besar, ibuku menangis sebab ada dua konsekuensi: sebagai IBU sekaligus sebagai ISTRI. Masalah rumah tangga, itulah kunci pembuka keran air mata beliau. Dan aku sebagai anaknya, hanya bisa belajar dan memahami hal itu.

Oh...ternyata begitu tho?!

Surabaya 18 April 2008

03 April 2008

Kopi Sangrai Racikan Ibu Sendiri

Menyangrai kopi adalah salah satu kegiatan rutin ibuku. Nggak setiap bulan sih. Pokoknya, kalo persediaan kopi (bubuk) di rumah sudah seret, ibuku akan menyangrai kopi sendiri. Tujuannya, selain menghemat, juga lebih cocok di lidah karena diracik sendiri ‘bumbu-bumbu’ kopinya.

Ibuku biasanya menyangrai kopi di samping rumah sebelah timur, dekat gudang. Ada banyak tumpukan kayu bakar di situ. Jadi gampang diambil. Dibandingkan di dapur, asapnya nggak akan terlalu merajalela. Lebih dari itu, ibuku bisa menyangrai kopi sambil dielus-elusi oleh angin sepoi yang bertiup. Sebab, tahu sendirilah gimana panasnya di dekat tungku perapian.

Kopi racikan ibuku terbilang lain daripada yang ada di toko-toko. Kata orang yang pernah disuguhkan kopi buatan keluargaku dan aku sendiri mengaku: kopi racikan ibu lebih gurih. Kenapa demikian? Karena, bahan-bahan campurannya yang ‘agak’ istimewa. Ada irisan kelapa, kayu manis, cengkeh, dan tentu saja biji-biji kopi nan montok. Semuanya disangrai di atas wajan tanah liat hingga gosong. Prosesnya pun butuh waktu yang cukup lama. Kalo nggak terbiasa, bisa kesemutan hingga kegajahan di depan tungku nan panas. Mesti bolak-balikin kayu bakarnya lagi.

Kalo ibuku sedang rehat, aku kadang-kadang diminta untuk menggantikan beliau. Terkadang aku ngedumel, apalagi manggilnya pas aku lagi asyik nonton tv atau baca buku. Tapi, kalo lagi mood dalam bantu-bantu tugas rumah, aku pun akan dengan senang hati menyingsingkan lengan baju dan lengan celana (loh?).

Apalagi kalo kebetulan lagi ada pisang atau ubi jalar atau singkong. Inilah momen yang tepat untuk bereksperimen (cailaaah) bakar-membakar. What?! Bakar singkong, ubi jalar, atau pisang, maksudnya. Enak kok! Mengasyikkan. Ditambah wangi kopi yang merasuk hingga tulang rusuk plus legitnya pisang, lembutnya daging ubi jalar, atau empuknya singkong. Hmmm...merupakan perpaduan hidup yang... MAKNYUSSS...!!!

Sekarang, tradisi menyangrai kopi sendiri sudah hilang ditelan masa. Orang yang biasanya menyangrai kopi telah berada dalam pelukan ‘wangikopi’-NYA.

Orang rumah semakin suka yang serba instan. Serba beli. Membeli hasil. Tidak menikmati proses.

Ya sutralah...

Surabaya, 3 April 2008
Beneath my memories’ injection