Ada satu ruangan kecil di rumah kami yang lama. Ruangan tersebut terisi oleh sebuah meja, lemari berpintu kasa, dan sebuah dipan dengan kasur tipis. Kadang kardus dan beberapa jenis benda lainnya disimpan di situ. Disebut gudang juga kurang tepat. Sebab, di situlah, di atas dipan, ibu saya kerap membentangkan sajadah lusuhnya dan beribadah lima waktu.
Ruangan itu terdapat di bagian selatan rumah kami. Berdekatan dengan dapur pula kamar mandi. Mungkin itu alasan ibu memilih ruangan tersebut sebagai tempat shalat. Sehabis lelah bekerja di dapur dan menunaikan tugas melayani kami untuk makan, misalnya, ibu bisa bergegas ke ruangan itu dan menggenapkan segala amalannya.
Namun, ibu tidak melulu shalat di situ sebab di samping belakang rumah kami terdapat mushola. Mushola Al-Fatah. Namanya dicomot dari nama saya karena memang awal mula pendiriannya saat saya baru lahir, yakni di tahun 1988. Hingga saat ini, mushola tersebut masih kokoh berdiri. Bersih dan semakin rapi. Cat luarnya telah diperbarui. Oke, bangunan fisik memang berubah jadi lebih bagus. Ironisnya, suara ramai anak-anak yang mengaji sedari magrib hingga isya, kini sudah mulai jarang. Maklum, anak-anak tetangga di sekitar lingkungan kami rata-rata telah beranjak remaja dan dewasa. Ada yang telah berumah tangga, ikut suaminya ke kampung lain, melanjutkan sekolah di luar kota, bahkan di luar pulau. Contohnya, saya.
Baik. Sedikit saja saya bahas mushola tersebut. Kembali ke topik awal mengenai ibu saya.
Nah, sekalipun ruangan tersebut tetap ‘istimewa’ buat beliau, namun keberadaan mushola tidak beliau kesampingkan. Shalat berjamaah, meraup pahala berlipat, siapa yang tidak mau? Apalagi – maaf – mengingat usia yang makin tua, di atas lima puluh, adalah suatu kesadaran yang baik untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah. Sebab, siapa yang tahu kapan malaikat maut kapan datang menjemput. Tak seorang pun. Namun, alangkah beruntungnya manusia yang diberikan tanda-tanda akan hal itu. Setidaknya, dia tetap waspada dan berusaha untuk selalu lebih baik dari hari ke harinya. Menanam amal kebaikan dalam tiap detak jantungnya. Untuk dipanen nanti ketika memasuki etape kehidupan berikutnya. Insya Allah ibu saya menyadari akan hal itu.
Ruangan itu. Ruangan yang sejak 2007 tidak saya ketahui lagi rupanya seperti apa. Sebab, rumah yaang pada mulanya rumah untuk keluarga besar, telah disewakan. Ini terkait pula persoalan warisan. Jadi, mau tidak mau, bapak memboyong kami sekeluarga ke rumah baru. Tidak begitu jauh sebenarnya dari rumah lama. Berjalan kaki sepuluh menit, bisalah sampai. Saya meski beberapa kali sempat menengok rumah lama, itu sekadar memandang luarnya saja. Tidak masuk. Menyesapi kenangan demi kenangan yang telah tertanam hampir 18 tahun saya hidup di rumah lama tersebut. Tidak masuk. Hanya berusaha mengekalkannya di dalam ingatan saja. Apalagi saya mengalami beragam momen dengan ibu, di rumah tersebut. Tak sedikit juga beliau sempat mencicipi tinggal di rumah baru kami yang sekarang. Ya, beliau terlebih dulu menempati rumah barunya di alam lain.
Semoga ibu senantiasa mendapat siraman cahaya Surga. Dan, ruang ibadah beserta benda-benda di dalamnya itu bisa menjadi saksi di akhirat kelak akan ketaatan beliau shalat lima waktu.
Amin… Ya Robbal ‘Alamiiin…
14 Juni 2010
11 Mei 2010
Muslimah, Bukan Guru Andrea Hirata, Tapi...
Anda pernah membaca novel atau menonton film berjudul “Laskar Pelangi”? Tentu sosok Ibu Muslimah sudah tidak asing lagi. Ya, beliau adalah guru si Ikal semasa duduk di sekolah dasar. Guru yang menginspirasi seorang Andrea Hirata untuk menuliskan kisah beliau dan perjuangan kawan-kawannya selama menuntut ilmu di SD Muhammadiyah Belitong itu. Maka, lahirlah sebuah karya besar dan fenomenal yang kemudian difilmkan dan berhasil menyedot lebih dari 4 juta penonton. Istimewa!
Bila di dalam Laskar Pelangi, Muslimah adalah seorang guru, maka dalam kehidupan saya, Muslimah adalah seorang ibu kandung. Ya, itulah nama sosok perempuan yang dari rahimnya saya terlahir ke dunia. Muslimah binti H. Muhammad Yunus. Muslimah yang berhasil menjadi ibu rumah tangga hebat, setidaknya di mata saya. Muslimah yang Insya Allah mencerminkan namanya. Muslimah yang mampu menderaskan sumur ide saya untuk terus menulis tentang beliau. Sebagai bukti, sebuah jurnal elektronik alias blog bahkan saya buat khusus untuk mengenang beliau yang kini telah berada dalam pelukan cinta-Nya.
Pertengahan Juli 2005…
Tepat saat azan Subuh dikumandangkan, beliau menuntaskan kewajibannya sebagai manusia, sebagai istri, sekaligus sebagai ibu. Saya yang saat itu masih kelas 2 SMA, belum percaya dengan kepergian beliau. Berdiri di depan cermin, saya memandang diri dan menggumam, “Piatukah aku kini? Seorang Fatah sudah tidak beribu lagi?”
Kesadaran saya semakin mendapat jawaban tatkala saya mengikuti semua prosesi pemakaman beliau. Bersama saudara yang lain, membopong jenazah beliau yang telah dimandikan dan dikafani ke ruang tengah. Mencium wajah beliau untuk terakhir kalinya. Menyalatjenazahkan beliau. Membacakan ayat-ayat suci terakhir kalinya di depan sosok terbujur kaku ibu. Mengiringi jenazah beliau ke masjid untuk dishalatkan kembali, lantas ke Pekuburuan Gayong. Di sanalah, ketika jasad ibu diturunkan ke dalam liang yang basah, saya baru yakin benar, antara saya dan ibu sudah berbeda alamnya. Sore itu, langit berwarna senada dengan jiwa saya. Kelabu.
Lantas, hari-hari saya berikutnya diisi oleh gelombang kenangan mengenai beliau. Rumah serasa kosong. Ada yang hilang. Tentu. Meskipun bapak dan delapan saudara saya yang lain masih ada, namun keganjilan itu tidak bisa kami tepiskan. Ketika saya masuk ke kamar ibu, misalnya, akan terbayang bahwa ibu saya masih di situ. Tiduran di kasur karena kelelahan mengurus sekian banyak anaknya sepanjang hari. Bayangan saya, beliau juga masih duduk di kursi kayu itu, menekuri ayat-ayat-Nya selepas Maghrib. Bayangan saya, beliau tiap pagi tetap akan membuka lemari bercermin itu, kemudian mengambil beberapa lembar uang dan recehan untuk dibagikan secara adil pada anak-anaknya. Saya mengenang beliau dalam puisi-puisi dan curhatan hati di sebuah buku harian. Itu kala rindu saya sudah tidak tertahankan.
Subuh hari, saya bangun dan beranjak ke kamar mandi yang berdampingan dengan dapur. Sebuah dapur tradisional dengan tiga tungku tanah liat dan onggokan kayu bakar. Saya tidak lagi menemukan sosok ibu saya di situ. Sosok yang selalu bangun pagi paling awal, lantas menyalakan kayu bakar, dan menjerang air dengan ketel berpantat hitam di atas tungku. Air itu kemudian dipindahkan ke termos, lalu air berikutnya dijerang lagi karena belum cukup. Air panas itulah yang nantinya akan terhidang sebagai kopi untuk bapak, susu untuk kami, atau rebusan mie.
Saat bapak berangkat ke kantor dan kami ke sekolah masing-masing, ibu akan menjalankan tugas mulianya sebagai ibu rumah tangga. Ke pasar, memasak, membersihkan rumah, mencuci, dan berbakti pada ibunya (nenek kami) yang tinggal satu atap dengan kami. Siapa yang tidak girang saat pulang ke rumah dalam keadaan lapar, masakan telah terhidang. Ibu mendisiplinkan kami agar mengganti seragam sekolah dulu, baru mulai makan. Terkadang, beliau akan menemani anak-anaknya makan sambil bercerita mengenai ini-itu. Tidak jarang pula kami makan ditemani tontonan televisi, sementara beliau rehat siang.
Rutinitas beliau sebagai ibu rumah tangga sempat terkoyak semasa saudara bungsu saya, Arif, harus menanggalkan masa pengasuhannya di rumah untuk masuk Madrasah Ibtidaiyah No. 3 Pancor. Orang tua saya sepakat menyekolahkan Arif di situ karena dalam keluarga kami, sekolah setingkat SD tersebut memiliki riwayat yang jempolan. Hampir semua paman dan bibi saya mengawali pendidikan dasar formal di situ. Bahkan, saya dan tujuh saudara kandung saya juga bersekolah di situ, kecuali si Uswatun yang masuk SD No. 4 Pancor. Nah, sekarang giliran si bungsu.
Tidak seperti saudaranya yang lain di sekolah baru, Arif mengalami phobia sekolah. Dia merasa tidak nyaman harus berangkat sendiri ke sekolah dan menjalani kegiatan belajar di kelas. Jika tidak ada yang mengantar, dia mengancam untuk tidak sekolah. Menangis dan meronta-ronta menolak. Karena bapak tidak bisa meninggalkan kantor dan kami, kakak-kakaknya harus sekolah, maka ibu mengambil keputusan untuk mengantarkan si Arif. Naik dokar tiap pagi.
Masih mending sekadar mengantarkan. Ini tidak. Si Arif mengancam mogok sekolah jika ibu tidak menemaninya sepanjang pelajaran di dalam kelas. Bayangkan? Arif yang sudah berumur enam tahun, tidak mengecap bangku TK memang, harus ditemani oleh ibu di dalam kelas. Duduk berdampingan! Begitu selama satu semester sebelum dia akhirnya dipindahkan ke SD No. 4 Pancor.
Setelah ibu tiada, barulah saya memikirkan hal itu. Selama satu semester menemani si bungsu belajar di kelas, duduk satu meja, menjadi satu-satunya orang tua murid yang ‘kembali’ mengenyam bangku sekolah dasar, menahan rasa malu karena akhirnya terdengar juga cemoohan para guru, apa sebenarnya yang menggerakkan hati ibu saya? Mengapa beliau bertahan? Mengapa si Arif tidak disekolahkan saja di rumah? Mengapa dan mengapa? Lalu, terbukalah pikiran saya. Semua ini dilakukan oleh ibu demi masa depan anaknya. Demi cita-cita dan mimpi beliau agar kesembilan anaknya mengenyam pendidikan tinggi, minimal menggenggam gelar sarjana. Entah berhubungan atau tidak, beliau sendiri sepertinya berkeinginan sekolah yang lebih tinggi lagi jika saja tidak dilamar oleh bapak begitu beliau lulus Madrasah Aliyah (setingkat SMA).
Satu hal lagi yang membuat saya istiqomah di dunia kepenulisan dan ber-azzam kuat menulis kisah ini, juga tidak terlepas dari sokongan semangat dan doa ibu semasa hidup dulu. Prestasi pertama saya di dunia menulis, yakni sebagai juara II menulis puisi tingkat pelajar se-NTB, membuat ibu saya bangga tiada terkira. Ibulah yang pertama kali saya bisikkan agar saya dibelikan komputer, dan beliau mendukung penuh. Ibulah yang kemudian membuat saya merona malu dengan bercerita pada para tamu bahwa saya mempunyai bakat menulis. Ibulah orang pertama dan utama saya mintai doa restu tiap kali saya hendak mengikuti lomba apapun, termasuk lomba menulis.
Kini, saat saya mengikuti lomba menulis biografi ibu ini, saya tahu saya tidak bisa meminta doa ibu lagi. Namun, satu hal tertanam kuat dalam diri saya. Doa ibu, sekalipun sosoknya sudah tiada, akan tetap bergema dan berpendar di langit-langit jiwa saya. Atau bisa saja, doa yang beliau ucapkan secara tulus ikhlas semasa hidup dulu, memang diijabahi oleh Allah Swt. dan tidak akan pernah habis masa berlakunya. Tentu, doa beliau tersebut saya imbangi dengan doa dan usaha maksimal saya.
Rabbighfirli wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa robbaya nii shagiiraa… Ya Allah, ampunilah saya dan kedua orang tua saya, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi saya sewaktu kecil…
NB: Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Blog: Berbagi Kisah Sejati, yang diselenggarakan oleh Anazkia. Lomba ini juga disponsori oleh Denai Hati.
Bagi teman-teman yang ingin mengikuti kontes ini, silakan meluncur ke blog Mbak Anazkia :) Terima kasih.
Bila di dalam Laskar Pelangi, Muslimah adalah seorang guru, maka dalam kehidupan saya, Muslimah adalah seorang ibu kandung. Ya, itulah nama sosok perempuan yang dari rahimnya saya terlahir ke dunia. Muslimah binti H. Muhammad Yunus. Muslimah yang berhasil menjadi ibu rumah tangga hebat, setidaknya di mata saya. Muslimah yang Insya Allah mencerminkan namanya. Muslimah yang mampu menderaskan sumur ide saya untuk terus menulis tentang beliau. Sebagai bukti, sebuah jurnal elektronik alias blog bahkan saya buat khusus untuk mengenang beliau yang kini telah berada dalam pelukan cinta-Nya.
Pertengahan Juli 2005…
Tepat saat azan Subuh dikumandangkan, beliau menuntaskan kewajibannya sebagai manusia, sebagai istri, sekaligus sebagai ibu. Saya yang saat itu masih kelas 2 SMA, belum percaya dengan kepergian beliau. Berdiri di depan cermin, saya memandang diri dan menggumam, “Piatukah aku kini? Seorang Fatah sudah tidak beribu lagi?”
Kesadaran saya semakin mendapat jawaban tatkala saya mengikuti semua prosesi pemakaman beliau. Bersama saudara yang lain, membopong jenazah beliau yang telah dimandikan dan dikafani ke ruang tengah. Mencium wajah beliau untuk terakhir kalinya. Menyalatjenazahkan beliau. Membacakan ayat-ayat suci terakhir kalinya di depan sosok terbujur kaku ibu. Mengiringi jenazah beliau ke masjid untuk dishalatkan kembali, lantas ke Pekuburuan Gayong. Di sanalah, ketika jasad ibu diturunkan ke dalam liang yang basah, saya baru yakin benar, antara saya dan ibu sudah berbeda alamnya. Sore itu, langit berwarna senada dengan jiwa saya. Kelabu.
Lantas, hari-hari saya berikutnya diisi oleh gelombang kenangan mengenai beliau. Rumah serasa kosong. Ada yang hilang. Tentu. Meskipun bapak dan delapan saudara saya yang lain masih ada, namun keganjilan itu tidak bisa kami tepiskan. Ketika saya masuk ke kamar ibu, misalnya, akan terbayang bahwa ibu saya masih di situ. Tiduran di kasur karena kelelahan mengurus sekian banyak anaknya sepanjang hari. Bayangan saya, beliau juga masih duduk di kursi kayu itu, menekuri ayat-ayat-Nya selepas Maghrib. Bayangan saya, beliau tiap pagi tetap akan membuka lemari bercermin itu, kemudian mengambil beberapa lembar uang dan recehan untuk dibagikan secara adil pada anak-anaknya. Saya mengenang beliau dalam puisi-puisi dan curhatan hati di sebuah buku harian. Itu kala rindu saya sudah tidak tertahankan.
Subuh hari, saya bangun dan beranjak ke kamar mandi yang berdampingan dengan dapur. Sebuah dapur tradisional dengan tiga tungku tanah liat dan onggokan kayu bakar. Saya tidak lagi menemukan sosok ibu saya di situ. Sosok yang selalu bangun pagi paling awal, lantas menyalakan kayu bakar, dan menjerang air dengan ketel berpantat hitam di atas tungku. Air itu kemudian dipindahkan ke termos, lalu air berikutnya dijerang lagi karena belum cukup. Air panas itulah yang nantinya akan terhidang sebagai kopi untuk bapak, susu untuk kami, atau rebusan mie.
Saat bapak berangkat ke kantor dan kami ke sekolah masing-masing, ibu akan menjalankan tugas mulianya sebagai ibu rumah tangga. Ke pasar, memasak, membersihkan rumah, mencuci, dan berbakti pada ibunya (nenek kami) yang tinggal satu atap dengan kami. Siapa yang tidak girang saat pulang ke rumah dalam keadaan lapar, masakan telah terhidang. Ibu mendisiplinkan kami agar mengganti seragam sekolah dulu, baru mulai makan. Terkadang, beliau akan menemani anak-anaknya makan sambil bercerita mengenai ini-itu. Tidak jarang pula kami makan ditemani tontonan televisi, sementara beliau rehat siang.
Rutinitas beliau sebagai ibu rumah tangga sempat terkoyak semasa saudara bungsu saya, Arif, harus menanggalkan masa pengasuhannya di rumah untuk masuk Madrasah Ibtidaiyah No. 3 Pancor. Orang tua saya sepakat menyekolahkan Arif di situ karena dalam keluarga kami, sekolah setingkat SD tersebut memiliki riwayat yang jempolan. Hampir semua paman dan bibi saya mengawali pendidikan dasar formal di situ. Bahkan, saya dan tujuh saudara kandung saya juga bersekolah di situ, kecuali si Uswatun yang masuk SD No. 4 Pancor. Nah, sekarang giliran si bungsu.
Tidak seperti saudaranya yang lain di sekolah baru, Arif mengalami phobia sekolah. Dia merasa tidak nyaman harus berangkat sendiri ke sekolah dan menjalani kegiatan belajar di kelas. Jika tidak ada yang mengantar, dia mengancam untuk tidak sekolah. Menangis dan meronta-ronta menolak. Karena bapak tidak bisa meninggalkan kantor dan kami, kakak-kakaknya harus sekolah, maka ibu mengambil keputusan untuk mengantarkan si Arif. Naik dokar tiap pagi.
Masih mending sekadar mengantarkan. Ini tidak. Si Arif mengancam mogok sekolah jika ibu tidak menemaninya sepanjang pelajaran di dalam kelas. Bayangkan? Arif yang sudah berumur enam tahun, tidak mengecap bangku TK memang, harus ditemani oleh ibu di dalam kelas. Duduk berdampingan! Begitu selama satu semester sebelum dia akhirnya dipindahkan ke SD No. 4 Pancor.
Setelah ibu tiada, barulah saya memikirkan hal itu. Selama satu semester menemani si bungsu belajar di kelas, duduk satu meja, menjadi satu-satunya orang tua murid yang ‘kembali’ mengenyam bangku sekolah dasar, menahan rasa malu karena akhirnya terdengar juga cemoohan para guru, apa sebenarnya yang menggerakkan hati ibu saya? Mengapa beliau bertahan? Mengapa si Arif tidak disekolahkan saja di rumah? Mengapa dan mengapa? Lalu, terbukalah pikiran saya. Semua ini dilakukan oleh ibu demi masa depan anaknya. Demi cita-cita dan mimpi beliau agar kesembilan anaknya mengenyam pendidikan tinggi, minimal menggenggam gelar sarjana. Entah berhubungan atau tidak, beliau sendiri sepertinya berkeinginan sekolah yang lebih tinggi lagi jika saja tidak dilamar oleh bapak begitu beliau lulus Madrasah Aliyah (setingkat SMA).
Satu hal lagi yang membuat saya istiqomah di dunia kepenulisan dan ber-azzam kuat menulis kisah ini, juga tidak terlepas dari sokongan semangat dan doa ibu semasa hidup dulu. Prestasi pertama saya di dunia menulis, yakni sebagai juara II menulis puisi tingkat pelajar se-NTB, membuat ibu saya bangga tiada terkira. Ibulah yang pertama kali saya bisikkan agar saya dibelikan komputer, dan beliau mendukung penuh. Ibulah yang kemudian membuat saya merona malu dengan bercerita pada para tamu bahwa saya mempunyai bakat menulis. Ibulah orang pertama dan utama saya mintai doa restu tiap kali saya hendak mengikuti lomba apapun, termasuk lomba menulis.
Kini, saat saya mengikuti lomba menulis biografi ibu ini, saya tahu saya tidak bisa meminta doa ibu lagi. Namun, satu hal tertanam kuat dalam diri saya. Doa ibu, sekalipun sosoknya sudah tiada, akan tetap bergema dan berpendar di langit-langit jiwa saya. Atau bisa saja, doa yang beliau ucapkan secara tulus ikhlas semasa hidup dulu, memang diijabahi oleh Allah Swt. dan tidak akan pernah habis masa berlakunya. Tentu, doa beliau tersebut saya imbangi dengan doa dan usaha maksimal saya.
Rabbighfirli wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa robbaya nii shagiiraa… Ya Allah, ampunilah saya dan kedua orang tua saya, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi saya sewaktu kecil…
NB: Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Blog: Berbagi Kisah Sejati, yang diselenggarakan oleh Anazkia. Lomba ini juga disponsori oleh Denai Hati.
Bagi teman-teman yang ingin mengikuti kontes ini, silakan meluncur ke blog Mbak Anazkia :) Terima kasih.
Labels:
berbagi kisah sejati,
kontes blog,
muslimah
10 Januari 2010
Novel Ibu
Jauh di lubuk hati saya yang paling dalam, tersemai keinginan untuk menulis sebuah novel tentang ibu saya. Ya, sebuah novel. Bukan sekadar kumpulan catatan tentang beliau. Tentu pula, bukan biografi yang isinya seratus persen harus berdasarkan true story.
Sekadar novel. Sekadar.
Saya lumayan sering menjumpai buku-buku yang bertemakan ibu. Terutama tentang kisah kasih seorang ibu, perjuangannya, ketabahan, kesabaran, ketangguhan, juga mengenai hubungan anak dengan ibunya, serta banyak lagi perspektif lainnya. Nah, novel mengenai ibu saya nanti ingin saya lihat berjejer di antara deretan buku tersebut.
Motif terbesar saya apa?
Berbakti. Tidak lebih dari itu. Berbakti melalui ilmu yang berkah serta berusaha seoptimal mungkin menjadi anak shaleh yang selalu mendoakan beliau. Ya, karena saya merupakan salah satu harta karun peninggalan beliau yang masih hidup, maka tidak salah jika saya ingin memotret beliau melalui tulisan. Melalui novel. Dengan harapan agar ibu saya bisa menjadi buah tutur yang baik bagi cucu-cicitnya kelak. Sehingga mereka bangga punya nenek, buyut, dan seterusnya. Itu saja.
Jikalau pun terselip niatan untuk show off, unjuk diri, pamer, dan cap-cap tidak sehat lainnya, itu terserah pada yang menilai. Sebagai manusia biasa, bukan suatu hal yang tidak mungkin jika ada masa dimana saya tergelincir dalam jurang-jurang tidak sehat itu. Ya, godaan itu mesti ada. Namun, sebelum perasaan tidak sehat itu membungkus dan menjerat saya, ada baiknya saya memantapkan niat mulai sekarang sekaligus meminta perlindungan pada Allah SWT. Sebab, kalau pun nanti novel saya mengenai ibu bisa rampung, itu juga tidak lepas dari kehendak-Nya.
Apa saja yang akan saya tuliskan nanti?
Terutama mengenai perangai, sifat, sikap, perilaku, dan kebiasan-kebiasaan baik ibu. Akankah ditampilkan pula sisi buruknya? Jika hal itu bisa memberikan ‘sesuatu’ entah itu pelajaran atau pun hikmah bagi orang lain, kenapa tidak? Ibu saya bukan malaikat yang tidak lekat dari dosa dan alpa. Beliau juga menusia biasa yang punya sisi humanis. Itu akan menjadi tugas saya untuk sebaik mungkin dalam meng-capture sisi-sisi kehidupan ibu saya. Menampilkan sehumanis mungkin. Sebab, saya yakin pembaca akan lebih tertarik pada tokoh yang mempunyai kesesuaian dengan diri mereka. Bukan sekadar tokoh-tokoh yang muluk alias mencapai taraf ‘sempurna’. Tapi, tokoh ibu yang bisa menggamit imajinasi pembaca dan melakukan refleksi terhadap kehidupan pribadi masing-masing. Mungkin perangai ibu saya memiliki kesamaan dengan perangai ibu pembaca. Dan, itu bukanlah suatu hal yang sulit ditemukan.
Inilah sekelumit asa yang sematkan melalui blog ini. Insya Allah akan menjadi pengingat saya. Bisa saja saya menulis ini, memposkan, lalu melupakannya. Namun, saya yakin, akan ada suatu momen yang mengingatkan saya kembali pada niat yang tertanam di tulisan ini.
Sekadar novel. Sekadar.
Saya lumayan sering menjumpai buku-buku yang bertemakan ibu. Terutama tentang kisah kasih seorang ibu, perjuangannya, ketabahan, kesabaran, ketangguhan, juga mengenai hubungan anak dengan ibunya, serta banyak lagi perspektif lainnya. Nah, novel mengenai ibu saya nanti ingin saya lihat berjejer di antara deretan buku tersebut.
Motif terbesar saya apa?
Berbakti. Tidak lebih dari itu. Berbakti melalui ilmu yang berkah serta berusaha seoptimal mungkin menjadi anak shaleh yang selalu mendoakan beliau. Ya, karena saya merupakan salah satu harta karun peninggalan beliau yang masih hidup, maka tidak salah jika saya ingin memotret beliau melalui tulisan. Melalui novel. Dengan harapan agar ibu saya bisa menjadi buah tutur yang baik bagi cucu-cicitnya kelak. Sehingga mereka bangga punya nenek, buyut, dan seterusnya. Itu saja.
Jikalau pun terselip niatan untuk show off, unjuk diri, pamer, dan cap-cap tidak sehat lainnya, itu terserah pada yang menilai. Sebagai manusia biasa, bukan suatu hal yang tidak mungkin jika ada masa dimana saya tergelincir dalam jurang-jurang tidak sehat itu. Ya, godaan itu mesti ada. Namun, sebelum perasaan tidak sehat itu membungkus dan menjerat saya, ada baiknya saya memantapkan niat mulai sekarang sekaligus meminta perlindungan pada Allah SWT. Sebab, kalau pun nanti novel saya mengenai ibu bisa rampung, itu juga tidak lepas dari kehendak-Nya.
Apa saja yang akan saya tuliskan nanti?
Terutama mengenai perangai, sifat, sikap, perilaku, dan kebiasan-kebiasaan baik ibu. Akankah ditampilkan pula sisi buruknya? Jika hal itu bisa memberikan ‘sesuatu’ entah itu pelajaran atau pun hikmah bagi orang lain, kenapa tidak? Ibu saya bukan malaikat yang tidak lekat dari dosa dan alpa. Beliau juga menusia biasa yang punya sisi humanis. Itu akan menjadi tugas saya untuk sebaik mungkin dalam meng-capture sisi-sisi kehidupan ibu saya. Menampilkan sehumanis mungkin. Sebab, saya yakin pembaca akan lebih tertarik pada tokoh yang mempunyai kesesuaian dengan diri mereka. Bukan sekadar tokoh-tokoh yang muluk alias mencapai taraf ‘sempurna’. Tapi, tokoh ibu yang bisa menggamit imajinasi pembaca dan melakukan refleksi terhadap kehidupan pribadi masing-masing. Mungkin perangai ibu saya memiliki kesamaan dengan perangai ibu pembaca. Dan, itu bukanlah suatu hal yang sulit ditemukan.
Inilah sekelumit asa yang sematkan melalui blog ini. Insya Allah akan menjadi pengingat saya. Bisa saja saya menulis ini, memposkan, lalu melupakannya. Namun, saya yakin, akan ada suatu momen yang mengingatkan saya kembali pada niat yang tertanam di tulisan ini.
31 Desember 2009
Refleksi Awal Tahun 2010
1 Januari 2010...
Akhirnya, tiba juga tahun baru dengan kombinasi angka yang cukup unik ini. 2010. Ada beberapa hal yang ingin saya tuliskan dan bagi di sini. Tentu saja temanya tidak jauh-jauh dengan apa yang menjadi judul blog ini. Yup, ibu!
Sore tadi, ketika sedang asyik browsing di ruang publik perpustakaan, tiba-tiba hp saya bergetar. Tertera nomor berkode Surabaya. Tanpa menunggu pertimbangan ini itu, langsung saya angkat.
Intinya, saya dinyatakan sebagai juara ke-3 Lomba Menulis Biografi Ibu yang diadakan oleh Majalah Matan, milik Muhammadiyah Jawa Timur. Saya tak lupa mengucapkan syukur pada Allah juga terima kasih pada mbak yang mengabarkan hal itu. Ini bisa jadi kado terindah di akhir tahun 2009 yang saya terima. Sebab, sejak pagi hari, saya berkutat dengan tugas-tugas kuliah yang tak jua kunjung selesai.
Allahu Akbar! Teringat saya pada tulisan sebelumnya. Itulah tulisan yang saya kirimkan dalam lomba tersebut. Awalnya, saya menyangka tulisan saya tidak menang, sebab info lomba menyatakan bahwa pemenang akan diumumkan pada tanggal 22 Desember *apa memang sudah diumumkan pada tanggal tersebut, namun via majalahnya ya?* Sehingga, saya pun tidak berminat lagi melihat-lihat naskah tersebut. Akan tetapi, karena saya menganggapnya bernasib sama dengan naskah cerpen ibu - yang tidak berhasil menang di tangan Penerbit Serambi - maka saya pun bersemangat untuk menampilkannya di blog ini.
Namun, Allah rupanya hanya ingin menguji kesabaran saya. Ya, saya saja yang memang kurang bersabar dan ikhlas. Hingga Allah menegur saya lewat kemenangan ini. Bahwa, saya meskipun menang, namun memiliki tugas yang cukup berat, yakni mempertanggungjawabkan isi tulisan saya tersebut, baik bagi diri saya sendiri, maupun bagi publik. Semoga tidak ada yang keliru dan menyesatkan dari tulisan saya tersebut. Amiiin...
Akhir kata, Selamat Tahun Baru 2010 Masehi! Semoga saya bisa rajin meng-update blog ini. Amiiin... :)
Akhirnya, tiba juga tahun baru dengan kombinasi angka yang cukup unik ini. 2010. Ada beberapa hal yang ingin saya tuliskan dan bagi di sini. Tentu saja temanya tidak jauh-jauh dengan apa yang menjadi judul blog ini. Yup, ibu!
Sore tadi, ketika sedang asyik browsing di ruang publik perpustakaan, tiba-tiba hp saya bergetar. Tertera nomor berkode Surabaya. Tanpa menunggu pertimbangan ini itu, langsung saya angkat.
Intinya, saya dinyatakan sebagai juara ke-3 Lomba Menulis Biografi Ibu yang diadakan oleh Majalah Matan, milik Muhammadiyah Jawa Timur. Saya tak lupa mengucapkan syukur pada Allah juga terima kasih pada mbak yang mengabarkan hal itu. Ini bisa jadi kado terindah di akhir tahun 2009 yang saya terima. Sebab, sejak pagi hari, saya berkutat dengan tugas-tugas kuliah yang tak jua kunjung selesai.
Allahu Akbar! Teringat saya pada tulisan sebelumnya. Itulah tulisan yang saya kirimkan dalam lomba tersebut. Awalnya, saya menyangka tulisan saya tidak menang, sebab info lomba menyatakan bahwa pemenang akan diumumkan pada tanggal 22 Desember *apa memang sudah diumumkan pada tanggal tersebut, namun via majalahnya ya?* Sehingga, saya pun tidak berminat lagi melihat-lihat naskah tersebut. Akan tetapi, karena saya menganggapnya bernasib sama dengan naskah cerpen ibu - yang tidak berhasil menang di tangan Penerbit Serambi - maka saya pun bersemangat untuk menampilkannya di blog ini.
Namun, Allah rupanya hanya ingin menguji kesabaran saya. Ya, saya saja yang memang kurang bersabar dan ikhlas. Hingga Allah menegur saya lewat kemenangan ini. Bahwa, saya meskipun menang, namun memiliki tugas yang cukup berat, yakni mempertanggungjawabkan isi tulisan saya tersebut, baik bagi diri saya sendiri, maupun bagi publik. Semoga tidak ada yang keliru dan menyesatkan dari tulisan saya tersebut. Amiiin...
Akhir kata, Selamat Tahun Baru 2010 Masehi! Semoga saya bisa rajin meng-update blog ini. Amiiin... :)
29 Desember 2009
Ibu: Teman Sebangku Adik Bungsuku
*Tulisan ini saya ikutkan Lomba Menulis Kisah Pendek yang diadakan oleh Penerbit Serambi. Alhamdulillah... belum berhasil menggeret hadiah bukunya*
Aku yakin, ibuku lebih dari sekadar perempuan biasa. Beliau perempuan tangguh, fisik juga batin. Bagaimana tidak? Beliau mampu melahirkan sepuluh jiwa, meski yang bertahan hingga sekarang hanya sembilan. Jika main hitung-hitungan, entah berapa banyak yang beliau korbankan, jiwa dan raga, untuk kesemua anak-anaknya? Tak terhitung. Aku sendiri sering alpa, hanya mampu mengingat sepersekian saja dari total jasa beliau selama hidupnya.
Dan, dari sepersekian itu ada satu kisah yang tidak akan bisa aku lupakan seumur hidup. Kisah yang menjadi sumur hikmah bagiku bahwa pendidikan itu perlu mendapat prioritas. Bagaimanapun kondisi kita, sebisa mungkin, penguasaan ilmu dinomorsatukan. Sebab, ilmu akan menjadi panduan hidup di dunia. Ilmu pula yang nantinya akan mendatangkan kebaikan-kebaikan dan kebahagiaan hingga akhirat nanti.
Kisahnya…
Arif, adik bungsuku yang termasuk keras kepala. Lebih tepatnya, dia takut masuk Madrasah Ibtidaiyah. Memang, pengalaman ‘sekolah’nya hanya di rumah saja. Ibuku yang langsung mengajarkan baca tulis. Dan, sekali lagi. Hanya ibuku yang dia inginkan menjadi gurunya. Bukan kami, para kakaknya.
Ketika Arif dianggap sudah cukup umur, yakni enam tahun, maka orang tua kami mendaftarkannya di Madrasah Ibtidaiyah. Dia tidak menolak. Namun, pada hari-H, yakni hari pertama masuk sekolah, Arif memunculkan sikap aslinya. Dia mengeluarkan protes lewat sikap dan tangisan cengeng, “AKU MAU SEKOLAH KALAU IBU JUGA IKUT BERSAMAKU.”
Kami, para kakaknya, hanya bisa menawarkan untuk mengantarkan dia ke sekolah. Namun, dia memberontak. Tidak mau. Bapak sendiri, tidak mungkin. Sebab, beliau harus berangkat ke kantor. Toh, beliau juga tidak bisa mengantarkan si bungsu ini karena beliau memang tidak bisa mengendarai sepeda motor ataupun menyetir (bahkan, kami pun belum punya mobil saat itu – tahun 2000).
Melihat alternatif-alternatif yang tidak mungkin dijalankan, ibu pun mengambil inisiatif. Beliau sendiri yang mengantarkan si Arif, naik delman tiap hari. Ibu sepertinya mampu membaca psikologis Arif yang kurang siap dengan suasana sekolah. Beliau merasa perlu menemani Arif bisa beradaptasi dan bisa dilepas sendiri di lingkungan barunya.
Tiga hari pertama, ibu masih setia menemani Arif. Tentu saja jadwal ibu menjadi sedikit berantakan karena aktivitas memasak, mencuci, belanja ke pasar, dan mengurus rumah menjadi agak siang dilakukan. Namun, ibu menjalaninya dengan penuh kesabaran. Demi Arif. Demi anak bungsunya itu agar nyaman dengan sekolah.
Lalu, pada hari-hari berikutnya, ibu pun membujuk Arif agar mau berangkat sendiri ke sekolah. Tarif uang saku dinaikkan, tidak juga mempan. Diantar tiap hari pakai motor ke sekolah, sangat tidak ampuh. Apa maunya? Harus selalu bersama ibu. Tidak boleh tidak. Jika keinginannya tidak digubris, mogok sekolah pun dilancarkan.
Tentu saja ibu, bapak, dan juga kami – para kakaknya – tidak menginginkan hal itu terjadi. Lagi-lagi, ibu pun mengalah. Demi Arif.
Dan, kami tidak menyangka, ternyata dewan guru di sekolahnya Arif memprotes kehadiran ibu yang selalu menemani Arif belajar di kelas. Ya, ibu harus duduk satu bangku dengan si bungsu, Arif. Dari jam pertama hingga pulang. Di rumah, ibu bercerita pada kami kalau beliau sebenarnya malu harus duduk sebangku dengan Arif. Beliau juga tidak ‘enak’ dengan reriuhan para guru. Bahkan, salah satu guru perempuan memberikan ultimatum untuk tidak mau mengajar jika ibu tetap mengantar Arif ke sekolah dan duduk sebangku. Ibu berada dalam dilema.
Arif belum mampu memahami keadaan. Ibu pun berlapang dada. Satu caturwulan bertahan, kami sekeluarga menyarankan pada Arif agar dipindahkan saja ke SD 4 Pancor. Kebetulan adik kami yang terkecil kedua, yakni Ofah, juga bersekolah di situ. Nanti, dia bisa menemani si Arif berangkat bersama ke sekolah. Juga salah seorang bibiku menjadi guru di SD tersebut.
Sepertinya mulai bisa membaca kondisi, Arif pun mau. Kami menghela napas lega. Ibu pun bisa menjadi ringan bebannya.
Kini, meskipun beliau telah berada di sisi-Nya, kami yakin beliau tengah senyum bahagia melihat Arif tumbuh menjadi anak kelas 2 Madrasah Tsanawiyah yang mandiri, aktif organisasi, tekun belajar, serta rajin mengaji. Benih keyakinan bahwa perjuangan ibu tak sia-sia, mulai menampakkan hasilnya.
Alhamdulillah!
Aku yakin, ibuku lebih dari sekadar perempuan biasa. Beliau perempuan tangguh, fisik juga batin. Bagaimana tidak? Beliau mampu melahirkan sepuluh jiwa, meski yang bertahan hingga sekarang hanya sembilan. Jika main hitung-hitungan, entah berapa banyak yang beliau korbankan, jiwa dan raga, untuk kesemua anak-anaknya? Tak terhitung. Aku sendiri sering alpa, hanya mampu mengingat sepersekian saja dari total jasa beliau selama hidupnya.
Dan, dari sepersekian itu ada satu kisah yang tidak akan bisa aku lupakan seumur hidup. Kisah yang menjadi sumur hikmah bagiku bahwa pendidikan itu perlu mendapat prioritas. Bagaimanapun kondisi kita, sebisa mungkin, penguasaan ilmu dinomorsatukan. Sebab, ilmu akan menjadi panduan hidup di dunia. Ilmu pula yang nantinya akan mendatangkan kebaikan-kebaikan dan kebahagiaan hingga akhirat nanti.
Kisahnya…
Arif, adik bungsuku yang termasuk keras kepala. Lebih tepatnya, dia takut masuk Madrasah Ibtidaiyah. Memang, pengalaman ‘sekolah’nya hanya di rumah saja. Ibuku yang langsung mengajarkan baca tulis. Dan, sekali lagi. Hanya ibuku yang dia inginkan menjadi gurunya. Bukan kami, para kakaknya.
Ketika Arif dianggap sudah cukup umur, yakni enam tahun, maka orang tua kami mendaftarkannya di Madrasah Ibtidaiyah. Dia tidak menolak. Namun, pada hari-H, yakni hari pertama masuk sekolah, Arif memunculkan sikap aslinya. Dia mengeluarkan protes lewat sikap dan tangisan cengeng, “AKU MAU SEKOLAH KALAU IBU JUGA IKUT BERSAMAKU.”
Kami, para kakaknya, hanya bisa menawarkan untuk mengantarkan dia ke sekolah. Namun, dia memberontak. Tidak mau. Bapak sendiri, tidak mungkin. Sebab, beliau harus berangkat ke kantor. Toh, beliau juga tidak bisa mengantarkan si bungsu ini karena beliau memang tidak bisa mengendarai sepeda motor ataupun menyetir (bahkan, kami pun belum punya mobil saat itu – tahun 2000).
Melihat alternatif-alternatif yang tidak mungkin dijalankan, ibu pun mengambil inisiatif. Beliau sendiri yang mengantarkan si Arif, naik delman tiap hari. Ibu sepertinya mampu membaca psikologis Arif yang kurang siap dengan suasana sekolah. Beliau merasa perlu menemani Arif bisa beradaptasi dan bisa dilepas sendiri di lingkungan barunya.
Tiga hari pertama, ibu masih setia menemani Arif. Tentu saja jadwal ibu menjadi sedikit berantakan karena aktivitas memasak, mencuci, belanja ke pasar, dan mengurus rumah menjadi agak siang dilakukan. Namun, ibu menjalaninya dengan penuh kesabaran. Demi Arif. Demi anak bungsunya itu agar nyaman dengan sekolah.
Lalu, pada hari-hari berikutnya, ibu pun membujuk Arif agar mau berangkat sendiri ke sekolah. Tarif uang saku dinaikkan, tidak juga mempan. Diantar tiap hari pakai motor ke sekolah, sangat tidak ampuh. Apa maunya? Harus selalu bersama ibu. Tidak boleh tidak. Jika keinginannya tidak digubris, mogok sekolah pun dilancarkan.
Tentu saja ibu, bapak, dan juga kami – para kakaknya – tidak menginginkan hal itu terjadi. Lagi-lagi, ibu pun mengalah. Demi Arif.
Dan, kami tidak menyangka, ternyata dewan guru di sekolahnya Arif memprotes kehadiran ibu yang selalu menemani Arif belajar di kelas. Ya, ibu harus duduk satu bangku dengan si bungsu, Arif. Dari jam pertama hingga pulang. Di rumah, ibu bercerita pada kami kalau beliau sebenarnya malu harus duduk sebangku dengan Arif. Beliau juga tidak ‘enak’ dengan reriuhan para guru. Bahkan, salah satu guru perempuan memberikan ultimatum untuk tidak mau mengajar jika ibu tetap mengantar Arif ke sekolah dan duduk sebangku. Ibu berada dalam dilema.
Arif belum mampu memahami keadaan. Ibu pun berlapang dada. Satu caturwulan bertahan, kami sekeluarga menyarankan pada Arif agar dipindahkan saja ke SD 4 Pancor. Kebetulan adik kami yang terkecil kedua, yakni Ofah, juga bersekolah di situ. Nanti, dia bisa menemani si Arif berangkat bersama ke sekolah. Juga salah seorang bibiku menjadi guru di SD tersebut.
Sepertinya mulai bisa membaca kondisi, Arif pun mau. Kami menghela napas lega. Ibu pun bisa menjadi ringan bebannya.
Kini, meskipun beliau telah berada di sisi-Nya, kami yakin beliau tengah senyum bahagia melihat Arif tumbuh menjadi anak kelas 2 Madrasah Tsanawiyah yang mandiri, aktif organisasi, tekun belajar, serta rajin mengaji. Benih keyakinan bahwa perjuangan ibu tak sia-sia, mulai menampakkan hasilnya.
Alhamdulillah!
Langganan:
Postingan (Atom)