Sebulan lebih dua minggu...
Saya berada di kampung halaman, Lombok. Dalam rangka liburan semester sekaligus magang di salah satu perusahaan media terbesar di NTB.
Satu bulan pertama saya habiskan dengan liburan. Menemani kawan-kawan dari Surabaya yang menghabiskan 5 hari di Lombok untuk piknik. Lalu, hari-hari berikutnya saya isi dengan membaca dan menulis saja. Sesekali mengantar bapak ke kantor, membantuk beresin rumah, tidur, dan bermain - mengunjungi kawan-kawan. Selebihnya, kekhawatiran karena tempat magang belum juga memberikan respons positifnya.
Tepat, pada hari kemerdekaan 17 Agustus, saya bertolak ke Mataram. Atas saran ibu. Sebenarnya sih, atas desakan dari orang-orang sekitar. Juga kegelisahan saya sendiri akan janji pada dosen untuk magang. Bohong di bulan puasa, bahkan sempat saya jabani. Dengan mengatakan bahwa saya telah diterima magang di kantor berita 'itu'. Meski, saya cukup beruntung karena sempat mengikuti safari Ramadan petinggi di kabupaten dan mengabarkannya di Facebook - untuk dijadikan alibi bahwa saya sedang magang bekerja dan meliput berita - namun, lama-lama hal itu memuakkan saya.
Sempat pula saya ingin berdalih bahwa saya bukan wartawan yang magang di kantor itu, namun sebagai narablog untuk sebuah situs jurnalisme warga. Namun, saya tidak ingin melanggengkan perbuatan 'membohongi diri sendiri' itu.
Dan, gayung bersambut. Setelah semalam sebelumnya saya mengadu pada DIA. Pada Selasa malam itu, saya pun dilepas dengan doa dan duit (hehehe) oleh orang tua. Saya harus dapat tempat magang (yang pasti)! Bismillah...
Keesokan harinya, dengan menekan-nekan luapan rasa segan - tepatnya, malas - pada diri, saya mendatangi kantor berita terbesar di NTB itu. Jawaban menggembirakan saya peroleh sehari setelahnya. Saya diterima dan mulai bekerja. Hingga detik saya menuliskan jurnal ini (yang saya ketik di ruang redaksi).
Sebenarnya, inti yang ingin saya ungkapkan di sini adalah... saya belum jua sempat mengunjungi makam ibu. Saya terlanjur termakan keasyikan yang saya ciptakan sendiri. Memang, lingkungan magang saya sangat mengasyikkan. Dinamika, ketikdakmonotonan, dan tantangan yang saya idam-idamkan telah saya dapatkan. Itu makin membuat saya sedikit alpa pada makam ibu. Sekadar berkunjung. Sekadar menabur air atau bunga kamboja di atas makam beliau. Sekadar mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di sela-sela nisan beliau. Ya, sekadar...
Doa, tentu saja masih terus tertiupkan. Namun, kedekatan fisik juga, saya pikir, perlu ditempuh. Mengingat mati. Mengenang beliau. Mencium aroma ketenangan.
Lebaran nanti, seusai salat iedul fitri, saya berjanji untuk menyambung tali rasa dan doa di pembaringan abadi beliau...
27 Ramadan 1431 H
05 September 2010
17 Juli 2010
Pelajaran dari Daoed Joesoef
“AlANGKAH BAHAGIANYA mempuanyai emak. Dia yang membesarkan aku dengan cinta keibuan yang lembut. Dia yang selalu memberikan aku pedoman di dalam perjalan hidup. Dia yang, di setiap langkah, tahap dan jenjang, membisikkan kepada harapan…”
Epilog dari buku 'Emak' yang ditulis oleh Daoed Joesoef ini saya temukan di sini. Betapa saya tiba-tiba teringat pada judul buku yang sempat saya pegang di Togamas kemarin malam (16/07). Lalu, saat sedang daring, saya pun iseng mencari informasi buku tersebut di Goodreads.com. Komentar dari para pembaca benar-benar membuat saya makin tertarik. Lantas, saya cari pula informasi tambahan melalui Google.
Saya putuskan untuk - Insya Allah - membeli buku ini besok. Jadi oleh-oleh buat saudara saya di Lombok. Tentu saja, untuk saya baca juga sekalian bernostalgia dengan kenangan antara saya dan Inaq - panggilan saya buat ibu.
Dari catatan Mbak Jemie Simatupang, saya juga memeroleh informasi bahwa Daoed Joesoef lahir di Medan, 8 Agustus 1926. Pendidikannya dimulai di Medan hingga akhirnya meraih gelar doktor di Universitas Sorbonne pada tahun 1972. Konon, itu merupakan gelar doktor pertama bagi orang Indonesia plus cum laude pula. Selain pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), Daoed Joesoef juga pernah menjadi Anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung). Kedua jabatan tersebut pada zaman Orde Baru.
Pada paragraf-paragraf selanjutnya, saya membaca bagaimana seorang Emak menanamkan pelajaran hidup pada Daoed Joesoef dalam berbagai hal. Padahal emaknya bukan dari kalangan berpendidikan. Namun, keyakinannya pada kesuksesan yang akan mudah diraih dengan ilmu, menjadikannya bercita-cita tinggi untuk menyekolahkan anak-anaknya, termasuk Daoed Joesoef.
Sampai pada penjelasan itu, saya tercenung. Saya teringat pada Inaq saya. Pada pesan beliau selama masih hidup yang diestafetkan melalui bapak juga nasehat kakak-kakak saya bahwa: KAMI SEMUA HARUS SARJANA! Harus menempuh pendidikan perguruan tinggi. Sungguh, saya tak bisa membayangkan bagaimana bahagia beliau jika nanti melihat kami semua - anak-anaknya - telah menggenggam gelar sarjana. Saya sendiri, saat ini, sedang berjuang memasuki semester tujuh. Berharap sekali untuk lulus tepat 4 tahun. Pertengahan tahun 2011 nanti, saya bertekad untuk lulus dari Ilmu Hubungan Internasional.
Saya ingin membuat Inaq bangga di alam sana. Saya ingin membahagiakan bapak yang selama ini telah membiayai pendidikan saya. Juga membuat bangga dan berkontribusi pada keluarga dan masyarakat. Bagaimana saya selalu tepekur tiap kali mendapat pesan pendek nasehat dari bapak. Misalnya, pesan pendek yang beliau kirimkan pada 12 Juli 2010 setelah keinginan saya mempunyai kamera digital terkabul, "Rajin-rajinlah BELAJAR DAN MEMANFAATKAN WAKTU DALAM MENUNTUT ILMU, itulah harapan bapak, ibu dan semua keluarga dan saudara2 anakda di Lombok."
Inaq, Bapak, Ibu, Kakak-kakak, dan Adik-adik: TIANG AKAN MEWUJUDKAN ITU SEMUA!
N.B. Tiang = Saya (bahasa Sasak, red)
Inaq = Ibu (bahasa Sasak, red)
Saya punya dua ibu. Ibu kandung saya panggil 'Inaq'. Ibu tiri saya panggil 'Ibu'.
Epilog dari buku 'Emak' yang ditulis oleh Daoed Joesoef ini saya temukan di sini. Betapa saya tiba-tiba teringat pada judul buku yang sempat saya pegang di Togamas kemarin malam (16/07). Lalu, saat sedang daring, saya pun iseng mencari informasi buku tersebut di Goodreads.com. Komentar dari para pembaca benar-benar membuat saya makin tertarik. Lantas, saya cari pula informasi tambahan melalui Google.
Saya putuskan untuk - Insya Allah - membeli buku ini besok. Jadi oleh-oleh buat saudara saya di Lombok. Tentu saja, untuk saya baca juga sekalian bernostalgia dengan kenangan antara saya dan Inaq - panggilan saya buat ibu.
Dari catatan Mbak Jemie Simatupang, saya juga memeroleh informasi bahwa Daoed Joesoef lahir di Medan, 8 Agustus 1926. Pendidikannya dimulai di Medan hingga akhirnya meraih gelar doktor di Universitas Sorbonne pada tahun 1972. Konon, itu merupakan gelar doktor pertama bagi orang Indonesia plus cum laude pula. Selain pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), Daoed Joesoef juga pernah menjadi Anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung). Kedua jabatan tersebut pada zaman Orde Baru.
Pada paragraf-paragraf selanjutnya, saya membaca bagaimana seorang Emak menanamkan pelajaran hidup pada Daoed Joesoef dalam berbagai hal. Padahal emaknya bukan dari kalangan berpendidikan. Namun, keyakinannya pada kesuksesan yang akan mudah diraih dengan ilmu, menjadikannya bercita-cita tinggi untuk menyekolahkan anak-anaknya, termasuk Daoed Joesoef.
Sampai pada penjelasan itu, saya tercenung. Saya teringat pada Inaq saya. Pada pesan beliau selama masih hidup yang diestafetkan melalui bapak juga nasehat kakak-kakak saya bahwa: KAMI SEMUA HARUS SARJANA! Harus menempuh pendidikan perguruan tinggi. Sungguh, saya tak bisa membayangkan bagaimana bahagia beliau jika nanti melihat kami semua - anak-anaknya - telah menggenggam gelar sarjana. Saya sendiri, saat ini, sedang berjuang memasuki semester tujuh. Berharap sekali untuk lulus tepat 4 tahun. Pertengahan tahun 2011 nanti, saya bertekad untuk lulus dari Ilmu Hubungan Internasional.
Saya ingin membuat Inaq bangga di alam sana. Saya ingin membahagiakan bapak yang selama ini telah membiayai pendidikan saya. Juga membuat bangga dan berkontribusi pada keluarga dan masyarakat. Bagaimana saya selalu tepekur tiap kali mendapat pesan pendek nasehat dari bapak. Misalnya, pesan pendek yang beliau kirimkan pada 12 Juli 2010 setelah keinginan saya mempunyai kamera digital terkabul, "Rajin-rajinlah BELAJAR DAN MEMANFAATKAN WAKTU DALAM MENUNTUT ILMU, itulah harapan bapak, ibu dan semua keluarga dan saudara2 anakda di Lombok."
Inaq, Bapak, Ibu, Kakak-kakak, dan Adik-adik: TIANG AKAN MEWUJUDKAN ITU SEMUA!
N.B. Tiang = Saya (bahasa Sasak, red)
Inaq = Ibu (bahasa Sasak, red)
Saya punya dua ibu. Ibu kandung saya panggil 'Inaq'. Ibu tiri saya panggil 'Ibu'.
14 Juni 2010
Ruang Shalat
Ada satu ruangan kecil di rumah kami yang lama. Ruangan tersebut terisi oleh sebuah meja, lemari berpintu kasa, dan sebuah dipan dengan kasur tipis. Kadang kardus dan beberapa jenis benda lainnya disimpan di situ. Disebut gudang juga kurang tepat. Sebab, di situlah, di atas dipan, ibu saya kerap membentangkan sajadah lusuhnya dan beribadah lima waktu.
Ruangan itu terdapat di bagian selatan rumah kami. Berdekatan dengan dapur pula kamar mandi. Mungkin itu alasan ibu memilih ruangan tersebut sebagai tempat shalat. Sehabis lelah bekerja di dapur dan menunaikan tugas melayani kami untuk makan, misalnya, ibu bisa bergegas ke ruangan itu dan menggenapkan segala amalannya.
Namun, ibu tidak melulu shalat di situ sebab di samping belakang rumah kami terdapat mushola. Mushola Al-Fatah. Namanya dicomot dari nama saya karena memang awal mula pendiriannya saat saya baru lahir, yakni di tahun 1988. Hingga saat ini, mushola tersebut masih kokoh berdiri. Bersih dan semakin rapi. Cat luarnya telah diperbarui. Oke, bangunan fisik memang berubah jadi lebih bagus. Ironisnya, suara ramai anak-anak yang mengaji sedari magrib hingga isya, kini sudah mulai jarang. Maklum, anak-anak tetangga di sekitar lingkungan kami rata-rata telah beranjak remaja dan dewasa. Ada yang telah berumah tangga, ikut suaminya ke kampung lain, melanjutkan sekolah di luar kota, bahkan di luar pulau. Contohnya, saya.
Baik. Sedikit saja saya bahas mushola tersebut. Kembali ke topik awal mengenai ibu saya.
Nah, sekalipun ruangan tersebut tetap ‘istimewa’ buat beliau, namun keberadaan mushola tidak beliau kesampingkan. Shalat berjamaah, meraup pahala berlipat, siapa yang tidak mau? Apalagi – maaf – mengingat usia yang makin tua, di atas lima puluh, adalah suatu kesadaran yang baik untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah. Sebab, siapa yang tahu kapan malaikat maut kapan datang menjemput. Tak seorang pun. Namun, alangkah beruntungnya manusia yang diberikan tanda-tanda akan hal itu. Setidaknya, dia tetap waspada dan berusaha untuk selalu lebih baik dari hari ke harinya. Menanam amal kebaikan dalam tiap detak jantungnya. Untuk dipanen nanti ketika memasuki etape kehidupan berikutnya. Insya Allah ibu saya menyadari akan hal itu.
Ruangan itu. Ruangan yang sejak 2007 tidak saya ketahui lagi rupanya seperti apa. Sebab, rumah yaang pada mulanya rumah untuk keluarga besar, telah disewakan. Ini terkait pula persoalan warisan. Jadi, mau tidak mau, bapak memboyong kami sekeluarga ke rumah baru. Tidak begitu jauh sebenarnya dari rumah lama. Berjalan kaki sepuluh menit, bisalah sampai. Saya meski beberapa kali sempat menengok rumah lama, itu sekadar memandang luarnya saja. Tidak masuk. Menyesapi kenangan demi kenangan yang telah tertanam hampir 18 tahun saya hidup di rumah lama tersebut. Tidak masuk. Hanya berusaha mengekalkannya di dalam ingatan saja. Apalagi saya mengalami beragam momen dengan ibu, di rumah tersebut. Tak sedikit juga beliau sempat mencicipi tinggal di rumah baru kami yang sekarang. Ya, beliau terlebih dulu menempati rumah barunya di alam lain.
Semoga ibu senantiasa mendapat siraman cahaya Surga. Dan, ruang ibadah beserta benda-benda di dalamnya itu bisa menjadi saksi di akhirat kelak akan ketaatan beliau shalat lima waktu.
Amin… Ya Robbal ‘Alamiiin…
Ruangan itu terdapat di bagian selatan rumah kami. Berdekatan dengan dapur pula kamar mandi. Mungkin itu alasan ibu memilih ruangan tersebut sebagai tempat shalat. Sehabis lelah bekerja di dapur dan menunaikan tugas melayani kami untuk makan, misalnya, ibu bisa bergegas ke ruangan itu dan menggenapkan segala amalannya.
Namun, ibu tidak melulu shalat di situ sebab di samping belakang rumah kami terdapat mushola. Mushola Al-Fatah. Namanya dicomot dari nama saya karena memang awal mula pendiriannya saat saya baru lahir, yakni di tahun 1988. Hingga saat ini, mushola tersebut masih kokoh berdiri. Bersih dan semakin rapi. Cat luarnya telah diperbarui. Oke, bangunan fisik memang berubah jadi lebih bagus. Ironisnya, suara ramai anak-anak yang mengaji sedari magrib hingga isya, kini sudah mulai jarang. Maklum, anak-anak tetangga di sekitar lingkungan kami rata-rata telah beranjak remaja dan dewasa. Ada yang telah berumah tangga, ikut suaminya ke kampung lain, melanjutkan sekolah di luar kota, bahkan di luar pulau. Contohnya, saya.
Baik. Sedikit saja saya bahas mushola tersebut. Kembali ke topik awal mengenai ibu saya.
Nah, sekalipun ruangan tersebut tetap ‘istimewa’ buat beliau, namun keberadaan mushola tidak beliau kesampingkan. Shalat berjamaah, meraup pahala berlipat, siapa yang tidak mau? Apalagi – maaf – mengingat usia yang makin tua, di atas lima puluh, adalah suatu kesadaran yang baik untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah. Sebab, siapa yang tahu kapan malaikat maut kapan datang menjemput. Tak seorang pun. Namun, alangkah beruntungnya manusia yang diberikan tanda-tanda akan hal itu. Setidaknya, dia tetap waspada dan berusaha untuk selalu lebih baik dari hari ke harinya. Menanam amal kebaikan dalam tiap detak jantungnya. Untuk dipanen nanti ketika memasuki etape kehidupan berikutnya. Insya Allah ibu saya menyadari akan hal itu.
Ruangan itu. Ruangan yang sejak 2007 tidak saya ketahui lagi rupanya seperti apa. Sebab, rumah yaang pada mulanya rumah untuk keluarga besar, telah disewakan. Ini terkait pula persoalan warisan. Jadi, mau tidak mau, bapak memboyong kami sekeluarga ke rumah baru. Tidak begitu jauh sebenarnya dari rumah lama. Berjalan kaki sepuluh menit, bisalah sampai. Saya meski beberapa kali sempat menengok rumah lama, itu sekadar memandang luarnya saja. Tidak masuk. Menyesapi kenangan demi kenangan yang telah tertanam hampir 18 tahun saya hidup di rumah lama tersebut. Tidak masuk. Hanya berusaha mengekalkannya di dalam ingatan saja. Apalagi saya mengalami beragam momen dengan ibu, di rumah tersebut. Tak sedikit juga beliau sempat mencicipi tinggal di rumah baru kami yang sekarang. Ya, beliau terlebih dulu menempati rumah barunya di alam lain.
Semoga ibu senantiasa mendapat siraman cahaya Surga. Dan, ruang ibadah beserta benda-benda di dalamnya itu bisa menjadi saksi di akhirat kelak akan ketaatan beliau shalat lima waktu.
Amin… Ya Robbal ‘Alamiiin…
11 Mei 2010
Muslimah, Bukan Guru Andrea Hirata, Tapi...
Anda pernah membaca novel atau menonton film berjudul “Laskar Pelangi”? Tentu sosok Ibu Muslimah sudah tidak asing lagi. Ya, beliau adalah guru si Ikal semasa duduk di sekolah dasar. Guru yang menginspirasi seorang Andrea Hirata untuk menuliskan kisah beliau dan perjuangan kawan-kawannya selama menuntut ilmu di SD Muhammadiyah Belitong itu. Maka, lahirlah sebuah karya besar dan fenomenal yang kemudian difilmkan dan berhasil menyedot lebih dari 4 juta penonton. Istimewa!
Bila di dalam Laskar Pelangi, Muslimah adalah seorang guru, maka dalam kehidupan saya, Muslimah adalah seorang ibu kandung. Ya, itulah nama sosok perempuan yang dari rahimnya saya terlahir ke dunia. Muslimah binti H. Muhammad Yunus. Muslimah yang berhasil menjadi ibu rumah tangga hebat, setidaknya di mata saya. Muslimah yang Insya Allah mencerminkan namanya. Muslimah yang mampu menderaskan sumur ide saya untuk terus menulis tentang beliau. Sebagai bukti, sebuah jurnal elektronik alias blog bahkan saya buat khusus untuk mengenang beliau yang kini telah berada dalam pelukan cinta-Nya.
Pertengahan Juli 2005…
Tepat saat azan Subuh dikumandangkan, beliau menuntaskan kewajibannya sebagai manusia, sebagai istri, sekaligus sebagai ibu. Saya yang saat itu masih kelas 2 SMA, belum percaya dengan kepergian beliau. Berdiri di depan cermin, saya memandang diri dan menggumam, “Piatukah aku kini? Seorang Fatah sudah tidak beribu lagi?”
Kesadaran saya semakin mendapat jawaban tatkala saya mengikuti semua prosesi pemakaman beliau. Bersama saudara yang lain, membopong jenazah beliau yang telah dimandikan dan dikafani ke ruang tengah. Mencium wajah beliau untuk terakhir kalinya. Menyalatjenazahkan beliau. Membacakan ayat-ayat suci terakhir kalinya di depan sosok terbujur kaku ibu. Mengiringi jenazah beliau ke masjid untuk dishalatkan kembali, lantas ke Pekuburuan Gayong. Di sanalah, ketika jasad ibu diturunkan ke dalam liang yang basah, saya baru yakin benar, antara saya dan ibu sudah berbeda alamnya. Sore itu, langit berwarna senada dengan jiwa saya. Kelabu.
Lantas, hari-hari saya berikutnya diisi oleh gelombang kenangan mengenai beliau. Rumah serasa kosong. Ada yang hilang. Tentu. Meskipun bapak dan delapan saudara saya yang lain masih ada, namun keganjilan itu tidak bisa kami tepiskan. Ketika saya masuk ke kamar ibu, misalnya, akan terbayang bahwa ibu saya masih di situ. Tiduran di kasur karena kelelahan mengurus sekian banyak anaknya sepanjang hari. Bayangan saya, beliau juga masih duduk di kursi kayu itu, menekuri ayat-ayat-Nya selepas Maghrib. Bayangan saya, beliau tiap pagi tetap akan membuka lemari bercermin itu, kemudian mengambil beberapa lembar uang dan recehan untuk dibagikan secara adil pada anak-anaknya. Saya mengenang beliau dalam puisi-puisi dan curhatan hati di sebuah buku harian. Itu kala rindu saya sudah tidak tertahankan.
Subuh hari, saya bangun dan beranjak ke kamar mandi yang berdampingan dengan dapur. Sebuah dapur tradisional dengan tiga tungku tanah liat dan onggokan kayu bakar. Saya tidak lagi menemukan sosok ibu saya di situ. Sosok yang selalu bangun pagi paling awal, lantas menyalakan kayu bakar, dan menjerang air dengan ketel berpantat hitam di atas tungku. Air itu kemudian dipindahkan ke termos, lalu air berikutnya dijerang lagi karena belum cukup. Air panas itulah yang nantinya akan terhidang sebagai kopi untuk bapak, susu untuk kami, atau rebusan mie.
Saat bapak berangkat ke kantor dan kami ke sekolah masing-masing, ibu akan menjalankan tugas mulianya sebagai ibu rumah tangga. Ke pasar, memasak, membersihkan rumah, mencuci, dan berbakti pada ibunya (nenek kami) yang tinggal satu atap dengan kami. Siapa yang tidak girang saat pulang ke rumah dalam keadaan lapar, masakan telah terhidang. Ibu mendisiplinkan kami agar mengganti seragam sekolah dulu, baru mulai makan. Terkadang, beliau akan menemani anak-anaknya makan sambil bercerita mengenai ini-itu. Tidak jarang pula kami makan ditemani tontonan televisi, sementara beliau rehat siang.
Rutinitas beliau sebagai ibu rumah tangga sempat terkoyak semasa saudara bungsu saya, Arif, harus menanggalkan masa pengasuhannya di rumah untuk masuk Madrasah Ibtidaiyah No. 3 Pancor. Orang tua saya sepakat menyekolahkan Arif di situ karena dalam keluarga kami, sekolah setingkat SD tersebut memiliki riwayat yang jempolan. Hampir semua paman dan bibi saya mengawali pendidikan dasar formal di situ. Bahkan, saya dan tujuh saudara kandung saya juga bersekolah di situ, kecuali si Uswatun yang masuk SD No. 4 Pancor. Nah, sekarang giliran si bungsu.
Tidak seperti saudaranya yang lain di sekolah baru, Arif mengalami phobia sekolah. Dia merasa tidak nyaman harus berangkat sendiri ke sekolah dan menjalani kegiatan belajar di kelas. Jika tidak ada yang mengantar, dia mengancam untuk tidak sekolah. Menangis dan meronta-ronta menolak. Karena bapak tidak bisa meninggalkan kantor dan kami, kakak-kakaknya harus sekolah, maka ibu mengambil keputusan untuk mengantarkan si Arif. Naik dokar tiap pagi.
Masih mending sekadar mengantarkan. Ini tidak. Si Arif mengancam mogok sekolah jika ibu tidak menemaninya sepanjang pelajaran di dalam kelas. Bayangkan? Arif yang sudah berumur enam tahun, tidak mengecap bangku TK memang, harus ditemani oleh ibu di dalam kelas. Duduk berdampingan! Begitu selama satu semester sebelum dia akhirnya dipindahkan ke SD No. 4 Pancor.
Setelah ibu tiada, barulah saya memikirkan hal itu. Selama satu semester menemani si bungsu belajar di kelas, duduk satu meja, menjadi satu-satunya orang tua murid yang ‘kembali’ mengenyam bangku sekolah dasar, menahan rasa malu karena akhirnya terdengar juga cemoohan para guru, apa sebenarnya yang menggerakkan hati ibu saya? Mengapa beliau bertahan? Mengapa si Arif tidak disekolahkan saja di rumah? Mengapa dan mengapa? Lalu, terbukalah pikiran saya. Semua ini dilakukan oleh ibu demi masa depan anaknya. Demi cita-cita dan mimpi beliau agar kesembilan anaknya mengenyam pendidikan tinggi, minimal menggenggam gelar sarjana. Entah berhubungan atau tidak, beliau sendiri sepertinya berkeinginan sekolah yang lebih tinggi lagi jika saja tidak dilamar oleh bapak begitu beliau lulus Madrasah Aliyah (setingkat SMA).
Satu hal lagi yang membuat saya istiqomah di dunia kepenulisan dan ber-azzam kuat menulis kisah ini, juga tidak terlepas dari sokongan semangat dan doa ibu semasa hidup dulu. Prestasi pertama saya di dunia menulis, yakni sebagai juara II menulis puisi tingkat pelajar se-NTB, membuat ibu saya bangga tiada terkira. Ibulah yang pertama kali saya bisikkan agar saya dibelikan komputer, dan beliau mendukung penuh. Ibulah yang kemudian membuat saya merona malu dengan bercerita pada para tamu bahwa saya mempunyai bakat menulis. Ibulah orang pertama dan utama saya mintai doa restu tiap kali saya hendak mengikuti lomba apapun, termasuk lomba menulis.
Kini, saat saya mengikuti lomba menulis biografi ibu ini, saya tahu saya tidak bisa meminta doa ibu lagi. Namun, satu hal tertanam kuat dalam diri saya. Doa ibu, sekalipun sosoknya sudah tiada, akan tetap bergema dan berpendar di langit-langit jiwa saya. Atau bisa saja, doa yang beliau ucapkan secara tulus ikhlas semasa hidup dulu, memang diijabahi oleh Allah Swt. dan tidak akan pernah habis masa berlakunya. Tentu, doa beliau tersebut saya imbangi dengan doa dan usaha maksimal saya.
Rabbighfirli wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa robbaya nii shagiiraa… Ya Allah, ampunilah saya dan kedua orang tua saya, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi saya sewaktu kecil…
NB: Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Blog: Berbagi Kisah Sejati, yang diselenggarakan oleh Anazkia. Lomba ini juga disponsori oleh Denai Hati.
Bagi teman-teman yang ingin mengikuti kontes ini, silakan meluncur ke blog Mbak Anazkia :) Terima kasih.
Bila di dalam Laskar Pelangi, Muslimah adalah seorang guru, maka dalam kehidupan saya, Muslimah adalah seorang ibu kandung. Ya, itulah nama sosok perempuan yang dari rahimnya saya terlahir ke dunia. Muslimah binti H. Muhammad Yunus. Muslimah yang berhasil menjadi ibu rumah tangga hebat, setidaknya di mata saya. Muslimah yang Insya Allah mencerminkan namanya. Muslimah yang mampu menderaskan sumur ide saya untuk terus menulis tentang beliau. Sebagai bukti, sebuah jurnal elektronik alias blog bahkan saya buat khusus untuk mengenang beliau yang kini telah berada dalam pelukan cinta-Nya.
Pertengahan Juli 2005…
Tepat saat azan Subuh dikumandangkan, beliau menuntaskan kewajibannya sebagai manusia, sebagai istri, sekaligus sebagai ibu. Saya yang saat itu masih kelas 2 SMA, belum percaya dengan kepergian beliau. Berdiri di depan cermin, saya memandang diri dan menggumam, “Piatukah aku kini? Seorang Fatah sudah tidak beribu lagi?”
Kesadaran saya semakin mendapat jawaban tatkala saya mengikuti semua prosesi pemakaman beliau. Bersama saudara yang lain, membopong jenazah beliau yang telah dimandikan dan dikafani ke ruang tengah. Mencium wajah beliau untuk terakhir kalinya. Menyalatjenazahkan beliau. Membacakan ayat-ayat suci terakhir kalinya di depan sosok terbujur kaku ibu. Mengiringi jenazah beliau ke masjid untuk dishalatkan kembali, lantas ke Pekuburuan Gayong. Di sanalah, ketika jasad ibu diturunkan ke dalam liang yang basah, saya baru yakin benar, antara saya dan ibu sudah berbeda alamnya. Sore itu, langit berwarna senada dengan jiwa saya. Kelabu.
Lantas, hari-hari saya berikutnya diisi oleh gelombang kenangan mengenai beliau. Rumah serasa kosong. Ada yang hilang. Tentu. Meskipun bapak dan delapan saudara saya yang lain masih ada, namun keganjilan itu tidak bisa kami tepiskan. Ketika saya masuk ke kamar ibu, misalnya, akan terbayang bahwa ibu saya masih di situ. Tiduran di kasur karena kelelahan mengurus sekian banyak anaknya sepanjang hari. Bayangan saya, beliau juga masih duduk di kursi kayu itu, menekuri ayat-ayat-Nya selepas Maghrib. Bayangan saya, beliau tiap pagi tetap akan membuka lemari bercermin itu, kemudian mengambil beberapa lembar uang dan recehan untuk dibagikan secara adil pada anak-anaknya. Saya mengenang beliau dalam puisi-puisi dan curhatan hati di sebuah buku harian. Itu kala rindu saya sudah tidak tertahankan.
Subuh hari, saya bangun dan beranjak ke kamar mandi yang berdampingan dengan dapur. Sebuah dapur tradisional dengan tiga tungku tanah liat dan onggokan kayu bakar. Saya tidak lagi menemukan sosok ibu saya di situ. Sosok yang selalu bangun pagi paling awal, lantas menyalakan kayu bakar, dan menjerang air dengan ketel berpantat hitam di atas tungku. Air itu kemudian dipindahkan ke termos, lalu air berikutnya dijerang lagi karena belum cukup. Air panas itulah yang nantinya akan terhidang sebagai kopi untuk bapak, susu untuk kami, atau rebusan mie.
Saat bapak berangkat ke kantor dan kami ke sekolah masing-masing, ibu akan menjalankan tugas mulianya sebagai ibu rumah tangga. Ke pasar, memasak, membersihkan rumah, mencuci, dan berbakti pada ibunya (nenek kami) yang tinggal satu atap dengan kami. Siapa yang tidak girang saat pulang ke rumah dalam keadaan lapar, masakan telah terhidang. Ibu mendisiplinkan kami agar mengganti seragam sekolah dulu, baru mulai makan. Terkadang, beliau akan menemani anak-anaknya makan sambil bercerita mengenai ini-itu. Tidak jarang pula kami makan ditemani tontonan televisi, sementara beliau rehat siang.
Rutinitas beliau sebagai ibu rumah tangga sempat terkoyak semasa saudara bungsu saya, Arif, harus menanggalkan masa pengasuhannya di rumah untuk masuk Madrasah Ibtidaiyah No. 3 Pancor. Orang tua saya sepakat menyekolahkan Arif di situ karena dalam keluarga kami, sekolah setingkat SD tersebut memiliki riwayat yang jempolan. Hampir semua paman dan bibi saya mengawali pendidikan dasar formal di situ. Bahkan, saya dan tujuh saudara kandung saya juga bersekolah di situ, kecuali si Uswatun yang masuk SD No. 4 Pancor. Nah, sekarang giliran si bungsu.
Tidak seperti saudaranya yang lain di sekolah baru, Arif mengalami phobia sekolah. Dia merasa tidak nyaman harus berangkat sendiri ke sekolah dan menjalani kegiatan belajar di kelas. Jika tidak ada yang mengantar, dia mengancam untuk tidak sekolah. Menangis dan meronta-ronta menolak. Karena bapak tidak bisa meninggalkan kantor dan kami, kakak-kakaknya harus sekolah, maka ibu mengambil keputusan untuk mengantarkan si Arif. Naik dokar tiap pagi.
Masih mending sekadar mengantarkan. Ini tidak. Si Arif mengancam mogok sekolah jika ibu tidak menemaninya sepanjang pelajaran di dalam kelas. Bayangkan? Arif yang sudah berumur enam tahun, tidak mengecap bangku TK memang, harus ditemani oleh ibu di dalam kelas. Duduk berdampingan! Begitu selama satu semester sebelum dia akhirnya dipindahkan ke SD No. 4 Pancor.
Setelah ibu tiada, barulah saya memikirkan hal itu. Selama satu semester menemani si bungsu belajar di kelas, duduk satu meja, menjadi satu-satunya orang tua murid yang ‘kembali’ mengenyam bangku sekolah dasar, menahan rasa malu karena akhirnya terdengar juga cemoohan para guru, apa sebenarnya yang menggerakkan hati ibu saya? Mengapa beliau bertahan? Mengapa si Arif tidak disekolahkan saja di rumah? Mengapa dan mengapa? Lalu, terbukalah pikiran saya. Semua ini dilakukan oleh ibu demi masa depan anaknya. Demi cita-cita dan mimpi beliau agar kesembilan anaknya mengenyam pendidikan tinggi, minimal menggenggam gelar sarjana. Entah berhubungan atau tidak, beliau sendiri sepertinya berkeinginan sekolah yang lebih tinggi lagi jika saja tidak dilamar oleh bapak begitu beliau lulus Madrasah Aliyah (setingkat SMA).
Satu hal lagi yang membuat saya istiqomah di dunia kepenulisan dan ber-azzam kuat menulis kisah ini, juga tidak terlepas dari sokongan semangat dan doa ibu semasa hidup dulu. Prestasi pertama saya di dunia menulis, yakni sebagai juara II menulis puisi tingkat pelajar se-NTB, membuat ibu saya bangga tiada terkira. Ibulah yang pertama kali saya bisikkan agar saya dibelikan komputer, dan beliau mendukung penuh. Ibulah yang kemudian membuat saya merona malu dengan bercerita pada para tamu bahwa saya mempunyai bakat menulis. Ibulah orang pertama dan utama saya mintai doa restu tiap kali saya hendak mengikuti lomba apapun, termasuk lomba menulis.
Kini, saat saya mengikuti lomba menulis biografi ibu ini, saya tahu saya tidak bisa meminta doa ibu lagi. Namun, satu hal tertanam kuat dalam diri saya. Doa ibu, sekalipun sosoknya sudah tiada, akan tetap bergema dan berpendar di langit-langit jiwa saya. Atau bisa saja, doa yang beliau ucapkan secara tulus ikhlas semasa hidup dulu, memang diijabahi oleh Allah Swt. dan tidak akan pernah habis masa berlakunya. Tentu, doa beliau tersebut saya imbangi dengan doa dan usaha maksimal saya.
Rabbighfirli wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa robbaya nii shagiiraa… Ya Allah, ampunilah saya dan kedua orang tua saya, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi saya sewaktu kecil…
NB: Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Blog: Berbagi Kisah Sejati, yang diselenggarakan oleh Anazkia. Lomba ini juga disponsori oleh Denai Hati.
Bagi teman-teman yang ingin mengikuti kontes ini, silakan meluncur ke blog Mbak Anazkia :) Terima kasih.
Labels:
berbagi kisah sejati,
kontes blog,
muslimah
10 Januari 2010
Novel Ibu
Jauh di lubuk hati saya yang paling dalam, tersemai keinginan untuk menulis sebuah novel tentang ibu saya. Ya, sebuah novel. Bukan sekadar kumpulan catatan tentang beliau. Tentu pula, bukan biografi yang isinya seratus persen harus berdasarkan true story.
Sekadar novel. Sekadar.
Saya lumayan sering menjumpai buku-buku yang bertemakan ibu. Terutama tentang kisah kasih seorang ibu, perjuangannya, ketabahan, kesabaran, ketangguhan, juga mengenai hubungan anak dengan ibunya, serta banyak lagi perspektif lainnya. Nah, novel mengenai ibu saya nanti ingin saya lihat berjejer di antara deretan buku tersebut.
Motif terbesar saya apa?
Berbakti. Tidak lebih dari itu. Berbakti melalui ilmu yang berkah serta berusaha seoptimal mungkin menjadi anak shaleh yang selalu mendoakan beliau. Ya, karena saya merupakan salah satu harta karun peninggalan beliau yang masih hidup, maka tidak salah jika saya ingin memotret beliau melalui tulisan. Melalui novel. Dengan harapan agar ibu saya bisa menjadi buah tutur yang baik bagi cucu-cicitnya kelak. Sehingga mereka bangga punya nenek, buyut, dan seterusnya. Itu saja.
Jikalau pun terselip niatan untuk show off, unjuk diri, pamer, dan cap-cap tidak sehat lainnya, itu terserah pada yang menilai. Sebagai manusia biasa, bukan suatu hal yang tidak mungkin jika ada masa dimana saya tergelincir dalam jurang-jurang tidak sehat itu. Ya, godaan itu mesti ada. Namun, sebelum perasaan tidak sehat itu membungkus dan menjerat saya, ada baiknya saya memantapkan niat mulai sekarang sekaligus meminta perlindungan pada Allah SWT. Sebab, kalau pun nanti novel saya mengenai ibu bisa rampung, itu juga tidak lepas dari kehendak-Nya.
Apa saja yang akan saya tuliskan nanti?
Terutama mengenai perangai, sifat, sikap, perilaku, dan kebiasan-kebiasaan baik ibu. Akankah ditampilkan pula sisi buruknya? Jika hal itu bisa memberikan ‘sesuatu’ entah itu pelajaran atau pun hikmah bagi orang lain, kenapa tidak? Ibu saya bukan malaikat yang tidak lekat dari dosa dan alpa. Beliau juga menusia biasa yang punya sisi humanis. Itu akan menjadi tugas saya untuk sebaik mungkin dalam meng-capture sisi-sisi kehidupan ibu saya. Menampilkan sehumanis mungkin. Sebab, saya yakin pembaca akan lebih tertarik pada tokoh yang mempunyai kesesuaian dengan diri mereka. Bukan sekadar tokoh-tokoh yang muluk alias mencapai taraf ‘sempurna’. Tapi, tokoh ibu yang bisa menggamit imajinasi pembaca dan melakukan refleksi terhadap kehidupan pribadi masing-masing. Mungkin perangai ibu saya memiliki kesamaan dengan perangai ibu pembaca. Dan, itu bukanlah suatu hal yang sulit ditemukan.
Inilah sekelumit asa yang sematkan melalui blog ini. Insya Allah akan menjadi pengingat saya. Bisa saja saya menulis ini, memposkan, lalu melupakannya. Namun, saya yakin, akan ada suatu momen yang mengingatkan saya kembali pada niat yang tertanam di tulisan ini.
Sekadar novel. Sekadar.
Saya lumayan sering menjumpai buku-buku yang bertemakan ibu. Terutama tentang kisah kasih seorang ibu, perjuangannya, ketabahan, kesabaran, ketangguhan, juga mengenai hubungan anak dengan ibunya, serta banyak lagi perspektif lainnya. Nah, novel mengenai ibu saya nanti ingin saya lihat berjejer di antara deretan buku tersebut.
Motif terbesar saya apa?
Berbakti. Tidak lebih dari itu. Berbakti melalui ilmu yang berkah serta berusaha seoptimal mungkin menjadi anak shaleh yang selalu mendoakan beliau. Ya, karena saya merupakan salah satu harta karun peninggalan beliau yang masih hidup, maka tidak salah jika saya ingin memotret beliau melalui tulisan. Melalui novel. Dengan harapan agar ibu saya bisa menjadi buah tutur yang baik bagi cucu-cicitnya kelak. Sehingga mereka bangga punya nenek, buyut, dan seterusnya. Itu saja.
Jikalau pun terselip niatan untuk show off, unjuk diri, pamer, dan cap-cap tidak sehat lainnya, itu terserah pada yang menilai. Sebagai manusia biasa, bukan suatu hal yang tidak mungkin jika ada masa dimana saya tergelincir dalam jurang-jurang tidak sehat itu. Ya, godaan itu mesti ada. Namun, sebelum perasaan tidak sehat itu membungkus dan menjerat saya, ada baiknya saya memantapkan niat mulai sekarang sekaligus meminta perlindungan pada Allah SWT. Sebab, kalau pun nanti novel saya mengenai ibu bisa rampung, itu juga tidak lepas dari kehendak-Nya.
Apa saja yang akan saya tuliskan nanti?
Terutama mengenai perangai, sifat, sikap, perilaku, dan kebiasan-kebiasaan baik ibu. Akankah ditampilkan pula sisi buruknya? Jika hal itu bisa memberikan ‘sesuatu’ entah itu pelajaran atau pun hikmah bagi orang lain, kenapa tidak? Ibu saya bukan malaikat yang tidak lekat dari dosa dan alpa. Beliau juga menusia biasa yang punya sisi humanis. Itu akan menjadi tugas saya untuk sebaik mungkin dalam meng-capture sisi-sisi kehidupan ibu saya. Menampilkan sehumanis mungkin. Sebab, saya yakin pembaca akan lebih tertarik pada tokoh yang mempunyai kesesuaian dengan diri mereka. Bukan sekadar tokoh-tokoh yang muluk alias mencapai taraf ‘sempurna’. Tapi, tokoh ibu yang bisa menggamit imajinasi pembaca dan melakukan refleksi terhadap kehidupan pribadi masing-masing. Mungkin perangai ibu saya memiliki kesamaan dengan perangai ibu pembaca. Dan, itu bukanlah suatu hal yang sulit ditemukan.
Inilah sekelumit asa yang sematkan melalui blog ini. Insya Allah akan menjadi pengingat saya. Bisa saja saya menulis ini, memposkan, lalu melupakannya. Namun, saya yakin, akan ada suatu momen yang mengingatkan saya kembali pada niat yang tertanam di tulisan ini.
Langganan:
Postingan (Atom)