30 November 2007

Aku Nggak Percaya Aku Piatu


Dua tahun yang lalu…

Masih jam tiga malam ketika Kak Amat, kakak iparku, membangunkan seisi rumah Taman – sebutan untuk rumah kami di Mataram. Dia menjemput kami (aku dan saudara-saudaraku yang lain) agar segera ke RS Islam Siti Hajar, Mataram. Masih dengan mata yang setengah melek, aku segera cuci muka. Kami pun berangkat. Ada apa??? Satu tanya itu yang terus berputar di kepala.

Sampai di rumah sakit, kami langsung ke kamar nomor sekian, tempat ibu dirawat. Beberapa pamanku sudah duluan berada di sana.

“ Ambil wudlu! Kita ngaji…”

Masih dengan napas tak teratur, aku pun ambil wudlu dan mengambil mushaf kecil. Kami membaca surat Yassin yang dipimpin oleh Mamiq Muhsan.

Sambil membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, tak henti-hentinya mata kami tertuju pada sosok ibuku yang tergolek lemah. Selang udara dan selang infus menggerogoti tubuhnya yang makin pucat itu. Salah seorang bibiku dari pihak ayah, sedang mengipasi-ngipasi beliau. Aku, Oki, Ofah, Arif (ketiganya adikku), Enong, Jahed, Kak Atun, dan Kak Iyah (keempatnya kakakku), terus saja melantunkan ayat-ayat cintaNya.

Ngaji dihentikan. Masih pukul setengah lima pagi. Belum shubuh memang. Tinggal setengah jam lagi. Diserang kantuk, aku dan kakakku yang laki-laki pergi ke musholla rumah sakit. Mau ambil wudlu sekalian duduk-duduk menunggu azan maghrib. Bapakku mondar-mandir. Di samping ibuku, kadang keluar bicara dengan kami, menerima dan menelepon seseorang, dan macam-macamlah. Dua kakak perempuanku di dalam kamar ibu dirawat. Mereka rupanya tertidur pula di lantai. Ngantuk berat.

Ketika azan shubuh makin dekat, aku dan dua kakakku yang laki-laki masuk ke kamar ibu. Bapak dan bibiku sedang duduk di samping ibu. Kakak-kakak perempuanku juga telah terjaga. Adik-adikku, Ofah dan Arif juga sudah terjaga. Kondisi ibu makin kritis. Kami panik. Perawat yang sedang istirahat pun dipanggil agar segera memeriksa kondisi ibu.

Denyut nadi diperiksa. Tekanan darah ibu di-stetoskop-i. Napas ibu terlihat makin tidak teratur. Bapakku tak henti-hentinya membisikkan kalimat syahadat.

“ Laa ilaaha Illallahi… Muhammadar Rasuulullah… Laa ilaaha Illallahi… Muhammadar Rasuulullah…”

Bibiku juga ikut membantu agar ibu mengucapkan dua kalimat ampuh itu. Aku terus saja komat-kamit dalam hati agar ini bukan saatnya. Ini bukan saatnya. Ini bukan saatnya. Panjangkan umur beliau, Ya Allah! Sementara itu mata kami tak lepas jua dari dua perawat perempuan yang sedang berusaha memeriksa ibu.

……………………..

……………………..

……………………..

Titik panjang. Napas ibu telah berhenti. Detak ibu telah berganti menjadi detikjam dinding kamar rumah sakit. Gelombang biru menyergap, menghantam kami terendam dalam sedih yang sempurna. Seorang perempuan, ibu dari sepuluh anak, nenek dari dua cucu, istri dari seorang Mamiq Hamid, telah meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Meskipun, jujur saja, aku tidak menangis saat itu. Sungguh, aku tidak menangis. Air mataku telah habis satu malam sebelumnya. Ya, aku dibiarkan oleh Allah untuk menumpahkan air mataku satu malam sebelum ibu tiada.

Azan shubuh berkumandang, mengantarkan kepergian ibuku, Muslimah.

Lalu, ketika aku kembali ke rumah Taman, berkemas-kemas untuk kembali ke rumah Pancor, di sana ibu akan dimakamkan, aku pun sempat-sempatnya memandang diri di cermin. Mencermati diriku baik-baik. Terutama wajahku. Aku tidak sedih. Sungguh, aku tidak berurai air mata. Namun, aku masih belum percaya, aku bahkan senyum, entah artinya apa. Aku piatu??? Sungguhkah, aku piatu???



Aku anak soleh (nama majalah anak-anak – sempat langganan dulu)

Aku anak soleh?

Oya, Anak solehkah aku?





Ibuku Dahulu




Ibuku dahulu marah padaku…

….

Itulah judul puisi Amir Hamzah yang aku baca ketika masih SMP. Aku lupa lanjutan bait-baitnya. Tapi, yang pasti, aku masih ingat pesan moral yang terkandung di dalam puisinya sastrawan angkatan 20-an (benar gak ya? Mohon dikoreksi!) itu.

Puisi yang aku temukan di buku bahasa Indonesia itu, cukup menggugahku. Apalagi jika kukaitkan dengan keadaanku. Aku dan ibuku. Ingin rasanya membaca ulang puisi tersebut, menikmatinya diam-diam di kesunyian kamar, dan entah. Air mata bisa saja keluar.

Ibuku dahulu marah padaku…

….

Ibuku Dahulu” adalah sebuah puisi dengan kata-kata yang sederhana, mudah dicerna, sekalipun oleh otakku yang masih awam waktu itu. Aku menikmatinya. Bisa dikatakan itu pengalaman pribadi sang penyair, Amir Hamzah. Bagaimana dia tatkala dimarahi ibunya gara-gara tidak manut, tidak patuh, tidak menuruti nasihat ibunya. Ibunya yang kadang-kadang sedih, ingin menangis namun ditahan, gara-gara melihat tingkah-polah anaknya. Lalu, si anak pun sadar. Ternyata, selama ini ia telah sering menyakiti hati ibunya. Si anak menyesal.

Aku pun demikian. Jika ingat masa-masa suramku, saat aku masih duduk di kelas 5-6 madrasah hingga masuk di SMP, aku termasuk anak yang suka membantah. Perkataan sang bunda, aku bantah. Suruhannya, aku tolak. Nasihatnya, aku anggap angin lalu. Ia marah, aku lebih marah lagi. Tak ubahnya, aku dan bunda, lawan bersilat lidah.

Jika ingat akan hal itu, maka betapa menyesalnya aku hari ini. Di madrasah pun dulu, kelakuanku ini sampai juga di telinga guruku, hingga aku mendapat teguran. Aku malu, tentu saja. Masih terngiang di telingaku ucapan ibu guru Jalilah, guruku yang kini bersuamikan orang Kalimantan dan tinggal di Jakarta. Sungguh bagus sekali nasib beliau.

“ Fatah memang hebat, ya? Hebat di pelajaran. Namun, hebat juga kalo membantah orang tua…”

Tentu saja aku malu disindir sedemikian rupa halusnya oleh ibu guruku yang cantik itu. Istilah hebat yang tak patut disandang dalam satu pribadi. Hebat yang nggak bener.

Sekarang, bukan hanya puisi Amir Hamzah itu saja yang berkelebat di kepalaku, namun lebih dari itu. Bayangan ibu saat aku melukai hatinya.

Akankah Anda yang masih punya bunda, tega menancapkan pisau kata-kata, di hatinya yang tulus bercahaya???


Suralook (Surabaya – Lombok)

Kadang ia ‘dihadirkan’ oleh gerimis petang

29 November 2007

Gue Yakin, Jamal, Anugrah dari Tuhan



Jamal…

Siapa sih anak HI Unair 2007 yang nggak kenal dia? Angkatan-angkatan sebelumnya juga kenal dia. Dosen-dosen apalagi. Jamal is the most popular student in IR.

` Dia maba (mahasiswa baru) loh! Sama kayak aku. Tapi, pamornya jauh meroket di antara anak-anak yang lainnya. Dia lulusan SMAN 5 Malang, sering juara english debate, pernah tinggal setahun di Amerika (pertukaran pelajar), masuk HI UNAIR (yang seharusnya bisa aja lewat PMDK prestasi, tapi dia milih SPMB), dan nggak usah ditanya gimana pinternya. Semua berdecak kagum.

Kalau boleh gue bilang, terlepas dari subjektivitas, Jamal is a phenomenon!!! Terlalu berlebih menilai??? Yeah… terserah! Aku yakin, temen-temenku yang lain bakal punya pandangan yang sama denganku.

Dia Arab keturunan. So pastilah bisa ditebak tuh dari namanya. Jamal Said Bakarsyum. Ada punuk unta di hidungnya (hehehehe…maksudnya, hidungnya mancung gitu). Berbicara udah kayak diplomat. Vokalis banget. Ngomongnya rada-rada cepat. Kata dosenku sih, orang yang ngomongnya cepat, menandakan pikirannya yang jauh ke depan. Dan untuk ukuran Jamal, atribut itu berlaku banget! Nggak heran kalau tulisan tangannya yang berantakan kayak cakar elang itu gara-gara nggak bisa nyeimbangin kecepatan berpikirnya yang melesat-lesat kayak jet.

Aku pertama kali tahu dia – belum kenal loh ya – waktu daftar ulang maba di kampus C Unair. Dia diantar ama ibunya. Ketika Jamal masih di dalam auditorium, kakak tingkatku ngasih tau kalo aku bakal sekelas ama Jamal dan waktu itu kami sempat ngobrol dengan ibunya. Seorang sosok ibu yang menurutku: berwajah Arab (pastilah!), sederhana, mempunyai semangat berapi-api untuk urusan pendidikan, dan satu kalimat yang sempat saya dengar dari beliau yang hingga saat ini melekat betul di ingatan saya: “ Saya tidak pernah mengekang keinginan anak-anak selama itu baik untuk pendidikannya. Biaya sekolah tidak masalah buat saya. Dan satu yang selalu saya tekankan pada Jamal adalah agar selalu shalat tepat waktu. Itu!

Jujur, penuturan ibunya yang bilang kalau anaknya, si Jamal, yang sering ke luar negeri atas biaya pemerintah, langsung bikin saya keder. Satu kelas dengannya gimana ya? Apalagi denger-denger calon temanku – yang sekarang udah jadi temanku – lumayan banyak yang punya pengalaman pertukaran pelajar. Ada yang ke Jepang, Amerika Serikat, juga Jerman. Tahu akan hal itu, jangan-jangan ntar saya jadi under-dog di kelas! Sampai segitu saya mikir. Padahal setelah menjalani, Alhamdulillah tidak separah itu.

Biaya sekolah tidak masalah buat saya…

Seorang ibu Jamal berkata demikian. Padahal sepenuturan Jamal, he comes from divorce family. Ortunya bercerai. Jamal memilih tinggal bersama ibunya. Dia lebih sering dibiayai oleh ibunya yang tidak bekerja ketimbang bapaknya yang jadi wiraswasta – membuka usaha onderdil mobil. Jamal sebagai anak sulung dengan dua adiknya harus ditanggung oleh ibunya sendirian. Meskipun demikian, bapaknya tetap ngasih pesangon. Tapi, tetap saja duit lebih banyak mengalir dari sang bunda. Pun seandainya Jamal minta duit jutaan buat les, ibunya dengan ringan dan cepat ngeluarin tuh duit. Beda ama bapaknya. Gitu cerita Jamal.

Gue mikir di dalam hati, gue masih mending donk ketimbang dia. Apalagi dibandingkan dengan teman-teman HI lainnya yang rata-rata tajir itu. Namun, Jamal juga pernah bilang, apa yang diberikan oleh ibunya, sebisa mungkin ia balas dengan prestasi-prestasi. Jamal tidak ingin mengecewakan ibunya. Dia justru akan takut pada ibunya tatkala nilai atau prestasinya menurun. Dan…itu yang tidak diinginkan oleh seorang Jamal. Gue cuman bisa berdecak kagum di dalam hati. Subhanallah!!!

Padahal jujur aja, gue sempat shock di HI juga gara-gara dia loh! Gue ngeliatnya sebagai threat. Ancaman. Apalagi ketika gue satu kelompok diskusi mata kuliah PIHI selama semester satu ini, gue antara senang dan tidak senang. Senang karena gue satu kelompok ama anak yang tidak diragukan lagi kecerdasannya. Tidak senang karena dia akan menjadi center of attention sementara gue siap-siap aja jadi kambing congek. Hehehehe…segitu ekstrimnya gue mikir. Padahal setelah sekian lama berinteraksi dengan dia dan anak-anak lainnya, gue makin yakin banget, JAMAL ADALAH ANUGERAH DARI ALLAH BUAT ANAK-ANAK HI. I think not only for HIers, but also for his family n society. Amiiiin…

Dan…sebentar lagi gue akan menyaksikan sendiri satu prestasi bakal disabetnya. Gue, insya Allah ini akan ke Malang, nyaksiin lomba debat bahasa Inggris se-Jawa Timur yang akan dihelat di Universitas Negeri Malang. Dia satu-satunya wakil Unair yang berstatus mahasiswa baru!!! Jamal…get the winner, yeah!!! I’m sure you will be the champion!!! Wooooowww…


Kamis Pagi, Surabaya 11/29/2007 6:19:55 AM

25 November 2007

Ibu Baru, Susu, Aku

Sudah seminggu ini, gue rajin minum susu. Nggak maen2 susunya. Susu Ultra Milk kotak yang 125 ml. Padahal jujur aja. Selama setahun ini gue jarang2 banget minum susu. Namun, apa daya. Gue nggak kuasa menahan limpahan rezeki Tuhan itu. Jadi, daripada ngedumel, lebih baek gue protes! Eits… bersyukur kamsudnya!!!

Ini juga gara-gara my new mum…

Beliau ama bapak gue dateng ke surabaye. Kebentulan bapak gue diamanahkan lage untuk jade petugas haje taon ine. Hehehe…

Yups, berhubung gue berada satu kota dan jarak asrama haji tempat pelatihan bapak nggak jauh2 amat dari kosan gue, so kami janjian ketemuan malam Kamis tanggal 5 September kemarin2 ini.

Terang terus *dibalik* this is defez taem gue ketemu ama new mum. Ada rasa deg-degan juga coz di antara semua sodara gue, cuman gue yang kagak ever ngeliat dia. So, mau kagak mau gue sebelum berangkat ke asrama haji sukolilo, berjanji pada diri sendiri untuk jaim dan bercuek itik pada beliau.

Tapi, dasar gue… Gak bisa berlama-lama masang tampang jaim. Begitu gue n new mum ber-face 2 face, tampang dingin gue langsung mencair. Gue nggak rela bersikap begitu. Buang2 energi aja! Betoool???

Alhamdulillah…

Akhirnya, gue bisa juga ketemu ama bapak setelah enam bulan kagak pernah see face. Apalagi sama sodara2 gue yang hampir satu taon nggak ketemu. Duh…kangen berat!!! Btw, ada yang mau bantuin gue ngangkat rasa kangen ini gak??? Ughhhhhhh…

Malam itu, gue cuman bisa surprised dan numpahin rasa kangen gue ama bapak. Gue juga cerita2 ama my new mum. About acara pernikahan beliau yang baru seumuran jagung bakar. Hehehe…

My new mum + bapak gue cerita kalo acara married mereka berjalan dengan lancar. Meski banyak konspirasi bertaburan di belakang layar yang sempat menjadi duri. Namun, gue syalut banget ama ketegaran my new mum dan bapak gue dalam menghadapi itu semua. Congratz deh!!! Allah bakal senantiasa memudahkan langkah kita jika niat ini emang udah lurus… Kira2 begitulah kesimpulan yang bisa gue tarik dari peristiwa sakral kedua bagi bapak gue itu.

Malam itu juga my new mum ngajak gue shopping di Hero. Secara, gue juga mau ngumpulin barang2 kebutuhan kos. Maklum, hari itu juga gue baru pindahan dari Malang. Jadi, kamar gue masih minimalis. Seprei aja nggak dikasih ama pemilik kos gue. Huuuuh…pelit! Oia, tahu kagak, satu peraturan kos yang sempet bikin gue gondok *gak gondok beneran* adalah gue kagak boleh bawa luptup. Diharamkan! But, gue nekad. No luptup, berakhir pula riwayat hidup gue. Heheheh…gak dink!

Di Hero, gue jadi hero = pahlawan. Halah…gak lah! Gue dengan es-ka-es-de tingkat tinggi, belanja kebutuhan juga barang2 yang gue gak butuh2 amat. Susu, buah apel, nescafe, hit listrik, deterjen daia, sabun, pasta gigi, nutrisari, handuk, dan berbagai macam snek. Jujur, gue nggak pernah belanja seheboh itu. Perhatian banget my new mum! Moga2 sampai akhir hayatnya seperti ini… Amiiin.com

Akhirnya, kami balik ke asrama haji dengan belanjaan yang lumayan berat. Sekitar tiga ratusan perak ludes malem itu. Gue ngrasa jadi anak yang dimanja abis malam itu. But, sesekali kagak ape2 kan? Hehehe…

Malem itu gue bisa numpahin rasa rindu gue ama bapak. Bisa ngeliat face beliau udah lebih dari syukur. Meski wajah lelah tergambar di mukanya *ada gambar2 gitu deh di muka bapak - - eh, gak dink!* namun bapak tetaplah bapak yang gue kenal selama ini. I was so happy!!!

Akhirnya, karena malam udah agak larut gitu, gue pun mengundurkan diri dari asrama. Gue pamit pulang coz besoknya gue ada kuliah. Kuliah perdana bagi gue. Sementara temen2 gue dah kuliah 3 hari. Ah, kagak ape2. Nyelesein yang di Wearnes kan demi masa depan juga. So, what gitu loh!!!

Gue “dipaksa” naek taksi ama my new mum n bapak gue. Yawdah, daripada naek angkot. Padahal dalem hati gue pengen ngangkot aja! Cuman ngabisin duit dua ribu gitu. Ketimbang pake takesi yang malam itu karena gue akhirnya jadi naek taksi, cuman bayar sepuluh ribu. Murah bukan??? *padahal bagi anak kos semacam gue, gak banget deh*

PS: buat my new mum, jangan sering2 manjain gue yah! Gue jadi ilfil coz jarang2 gue dimanja n gak biasa. Mendingan, ibu lebih sering2 aja beliin aku susu biar cepet gemuk. Hiks…badan gue makin lama makin kayak cacing yang cacingan aja *gileeee…cacing aja bisa cacingan* Bayangin, gue dengan tinggi 170 kilometer, eh sentimeter dink, berat gue cuman 48 ons, eh kilogram dink! So, menurut perhitungan BMG, gue termasuk kategori orang2 yang perlu mendapat asupan dan perhatian juga kasih sayang. Ya Allah…semoga gue bisa dapetin itu semua lewat ibu baru gue. Gue yakin, Engkaulah Yang Mahatahu The Best 4 me!!!!


Cerita ini adalah hasil kolaborasi gue dengan nyamuk2 nakal yang banyak berseliweran di kamar gue. Huhuhuhu…

Puisi Buat Calon Ibu Baru

Jika kau memang benar-benar

Ingin jadi ibu bagi kami

Silakan!

Aku takkan menghalangi…

Jika kau memang benar-benar

Pilihan Tuhan dari sekian perempuan

Silakan!

Aku memang tak bisa menghadang…

Jika kau memang benar-benar

Akan kami sebut dengan ‘ibu’

Silakan!

Tapi, jangan kau paksa kami

Menghapus jejak ibu kandung kami

Yang telah lama terukir dalam napas kehidupan kami

Jika kau memang benar-benar

Akan menjadi pendamping bapak

Silakan!

Asalkan…

Kau jangan sampai telantarkan beliau

Kau jangan sampai menyakiti kami

Kau jangan sampai mengecewakan kami

Itu saja…

Itu saja pintaku…

Kalau ada yang kurang…

Besok-besok aku tambahkan lagi…

Selamat menempuh hidup baru…

Entah…