Lama blog ini tidak kujenguk. Serasa berdebu tebal, banyak sarang laba-labanya. Aku sedikit alergi. Takut pilek begitu bersih-bersih di sini. Hei, untuk apa aku bersih-bersih? Ini rumah biarkan saja apa adanya. Rumah yang menyimpan banyak kenangan. Antara aku dan ibuku.
Kadang aku ingin mengunjungi dan mulai menambahkan furnitur di rumah maya ini. Tentu saja, furnitur antik berupa kenanganku tentang ibu. Tapi, selalu saja aku dikalahkan oleh hal lain. Kalau kau pernah baca di blog-ku yang lain, kau tahu alasannya.
Kali ini Ramadhan datang. Hari ke sembilan.
Bulan yang penuh makna, kupikir. Bukan sekadar bulan suci yang mana orang-orang berlomba lebih baik. Berlomba mengisi masjid. Berlomba mengaji. Berlomba memeriahkan bulan suci ini.
Lalu, aku ingat ibu.
Lewat Ramadhan, ibuku mengajarkan banyak hal padaku. Terutama dalam hal bersedekah. Berbagi. Memberi.
Misalnya, dulu sewaktu aku masih berusia belasan tahun, usia anak SD, tiap petang menjelang berbuka puasa, aku selalu ditugaskan oleh ibuku mengantar makanan ke para tetangga. Dengan nampan besi (kami, dalam bahasa Sasak, menyebutnya tapsi) di atas kepala, aku – kadang-kadang mengajak adikku – pergi dari rumah ke rumah. Makanan apa? Ada ketupat, urap-urap, kolak, dan pelecing. Yang wajib adalah ketupat, pelecing, dan urap-urap. Sebab, saban hari selama sebulan Ramadhan penuh, ibu membuat ketupat. Aku juga ikut membantu bikin selongsongnya. Ibu yang mengisi dengan beras di pagi hari, menatanya di dandang, dan memasaknya di atas tungku, mulai pagi sampai zuhur menjelang.
Zuhur, itulah giliranku mengangkat ketupat-ketupat panas itu dari dandang. Mengikatnya dan mengangin-anginkannya di rentangan bambu di salah satu ruangan dekat dapur.
Sore, ketupat dibelah-belah dengan pisau. Untuk konsumsi kami ada pilihan nasi atau ketupat. Kalau untuk tetangga, dikirimkan saja ketupat utuh. Tak lupa sepiring urap-urap.
Ah, jika ingat-ingat itu, aku sungguh bahagia. Ibu mengajariku untuk berbagi lewat hal sederhana semacam itu. Aku juga sedikit heran karena orang kota yang aku saksikan di televisi justru makan ketupat ketika lebaran, tidak demikian halnya dengan kami. Aku bahkan bisa bikin ketupat sendiri. Merangkainya. Dan kadang ikut bantu ibu memasukkan biji-biji beras ke dalamnya. Mengira-ngira. Kalau berasnya kebanyakan, ketupatnya akan padat dan keras. Kalau terlalu sedikit, ketupatnya akan lembek. Jadi, kira-kira saja. Sekitar setengah isi ruang dalam selongsong ketupat.
Aku tahu berbagi makanan adalah hal remeh. Dan, aku senang saja melakukannya waktu itu. Kendati hujan, aku dipayungi adikku, akan tetap setia mengantarkan makanan ke rumah-rumah tetangga. Atas perintah ibuku, tentu saja.
Bagi anak kecil seperti aku dulu, ketika tetangga kembali berbaik hati memberikan recehan logam atau makanan atau buah-buahan padaku, senangnya tak terkira. Uang receh yang bisa aku belanjakan untuk permen atau makanan. Bagi ibuku, mungkin itu tak seberapa, melihat anaknya diberikan uang oleh tetangga yang kami kirimi makanan. Tapi, bagiku itu sungguh menyenangkan!
Aku tahu, tak ada niat untuk mendapat balasan. Bukan pamrih. Kendati kami bisa dikatakan tidak begitu kaya dengan harta, tapi kalau untuk hasil-hasil bumi dari sawah dan ladang, Insya Allah ada. Sementara tetangga-tetangga kami yang berprofesi sebagai guru, pegawai negeri, dan buruh biasa, bisa ikut pula mencicipi itu. Ya, karena kadang tidak semuanya habis kami makan. Tak ada salahnya dibagi.
Ibu, sekali lagi mengajarkanku untuk berbagi. Berbagi pada orang-orang terdekat. Setelah keluarga, ya…tetangga.
Ah, Ramadhan kali ini, aku merindukan saat-saat itu…
Semoga ibuku mendapat kelapangan di alam kuburnya dengan perbuatan-perbuatan kecil nan baik yang ia lakukan selama hidupnya menjalani Ramadhan demi Ramadhan… Amin.
Surabaya, 9 Ramadhan 1432 H
09 Agustus 2011
27 Desember 2010
Ibu... Selintas Lalu
besok, hari ibu.
tapi, tanpa hari ibu pun, aku masih bisa mengenangnya. setiap hari. tanpa perlu menunggu momen spesial tertentu untuk menghambur-hamburkan kata cinta. sebab, ia sendiri adalah cinta yang telah terjelma.
dan, aku sudah lama tak menulis tentang dia. tentang ibuku. blog yang aku bikin khusus untuk menuliskan segala kenangan tentang dia pun, sudah lama tidak ku-update. kangen itu, tentu saja ada. ide itu, bisa aku pungut dan tetaskan. tapi, selalu saja ada alasan-alasan lain yang menebas jalanku untuk menulis. ah, ini sebenarnya excuse. aku sendiri benci jika excuse-ku itu terlalu excusing.
menulis ini pun karena beberapa teman menuangkan demam rindu dan cinta mereka lewat status facebook. dan, sewaktu aku baca, serta-merta terdorong dari dalam hati ini untuk menulis sepatah dua patah ranting kata tentang ibu. awalnya dalam bentuk puisi. tapi, kau tahu sendiri. jemariku telah mengantar sampai di sini.
apakah kejaranganku menangis dan bernostalgia akan ibu, dikarenakan aku telah jadi manusia sibuk? momen-momen merenungku banyak dicuri oleh hal-hal lain? atau karena aku sendiri sudah punya sosok pengganti yang aku pun tidak begitu lekat? atau karena perhatianku telah tercuri oleh buku-buku dan tantangan-tantangan lainnya sehingga sekadar meluangkan waktu berkontemplasi tentang ibu, telah menjadi hal yang asing? kiriman doa untuk beliau pun tak lagi memunyai daya sengat? tak seperti yang dulu...
ada kalanya, kangen berat masa-masa itu. saat aku banyak menetaskan pikiranku tentang beliau. hingga deretan tulisan tercipta. tapi, aku berpikir... terlarut dalam kubangan kenangan juga berbahaya. aku bisa jadi berputar-putar di situ tanpa ada progresivitasan dalam hidup. jadi, kukubur sejenak pecahan-pecahan memori yang menjelaga itu. lanjutkan kehidupan ke etape-etape berikutnya.
ibu pun, andai masih hidup saat ini, pasti akan senang melihatku membuat kemajuan-kemajuan dalam hidup. *heh? aku bikin kemajuan apa?* mungkin aku akan rajin bercerita pada beliau tentang diriku dan prestasi-prestasiku. ada yang kumintai doa tiap kali berjuang menggapai sesuatu. amboi! doa seorang ibu itu, paling nikmat, menurutku!
tapi, sudahlah. telalu cemen jadinya kalau banyak bertekuk lutut, memandang ke belakang. padahal, aku cuma butuh percaya saja bahwa skenario tuhan yang indah telah terbentang lebar. percaya dan menjalani sisa hidup ini dengan penuh optimisme. aal iz well. semua akan baik-baik saja selama aku juga baik-baik sama tuhan.
mengenai ibu? dia, tentu saja, tetap nomor satu! sumber inspirasi dan salah satu kekuatan untuk terus bertahan menghadapi gelombang kesulitan. karena, aku yakin, tiap orang butuh inspirator - atau pahlawan - dalam hidupnya, yang mampu terus membakar semangatnya.
ibu, dialah orangnya. bagiku.
rabu malam, ibuku sayang...
lelaplah kau di sana, di dalam dekap tuhan.
'kan kurekatkan doaku pada nyala-nyala malam
yang berbau hujan dan kasih sayang
untukmu, seorang.
*catatan ini saya poskan sebelumnya di note facebook pada malam sebelum Hari Ibu*
tapi, tanpa hari ibu pun, aku masih bisa mengenangnya. setiap hari. tanpa perlu menunggu momen spesial tertentu untuk menghambur-hamburkan kata cinta. sebab, ia sendiri adalah cinta yang telah terjelma.
dan, aku sudah lama tak menulis tentang dia. tentang ibuku. blog yang aku bikin khusus untuk menuliskan segala kenangan tentang dia pun, sudah lama tidak ku-update. kangen itu, tentu saja ada. ide itu, bisa aku pungut dan tetaskan. tapi, selalu saja ada alasan-alasan lain yang menebas jalanku untuk menulis. ah, ini sebenarnya excuse. aku sendiri benci jika excuse-ku itu terlalu excusing.
menulis ini pun karena beberapa teman menuangkan demam rindu dan cinta mereka lewat status facebook. dan, sewaktu aku baca, serta-merta terdorong dari dalam hati ini untuk menulis sepatah dua patah ranting kata tentang ibu. awalnya dalam bentuk puisi. tapi, kau tahu sendiri. jemariku telah mengantar sampai di sini.
apakah kejaranganku menangis dan bernostalgia akan ibu, dikarenakan aku telah jadi manusia sibuk? momen-momen merenungku banyak dicuri oleh hal-hal lain? atau karena aku sendiri sudah punya sosok pengganti yang aku pun tidak begitu lekat? atau karena perhatianku telah tercuri oleh buku-buku dan tantangan-tantangan lainnya sehingga sekadar meluangkan waktu berkontemplasi tentang ibu, telah menjadi hal yang asing? kiriman doa untuk beliau pun tak lagi memunyai daya sengat? tak seperti yang dulu...
ada kalanya, kangen berat masa-masa itu. saat aku banyak menetaskan pikiranku tentang beliau. hingga deretan tulisan tercipta. tapi, aku berpikir... terlarut dalam kubangan kenangan juga berbahaya. aku bisa jadi berputar-putar di situ tanpa ada progresivitasan dalam hidup. jadi, kukubur sejenak pecahan-pecahan memori yang menjelaga itu. lanjutkan kehidupan ke etape-etape berikutnya.
ibu pun, andai masih hidup saat ini, pasti akan senang melihatku membuat kemajuan-kemajuan dalam hidup. *heh? aku bikin kemajuan apa?* mungkin aku akan rajin bercerita pada beliau tentang diriku dan prestasi-prestasiku. ada yang kumintai doa tiap kali berjuang menggapai sesuatu. amboi! doa seorang ibu itu, paling nikmat, menurutku!
tapi, sudahlah. telalu cemen jadinya kalau banyak bertekuk lutut, memandang ke belakang. padahal, aku cuma butuh percaya saja bahwa skenario tuhan yang indah telah terbentang lebar. percaya dan menjalani sisa hidup ini dengan penuh optimisme. aal iz well. semua akan baik-baik saja selama aku juga baik-baik sama tuhan.
mengenai ibu? dia, tentu saja, tetap nomor satu! sumber inspirasi dan salah satu kekuatan untuk terus bertahan menghadapi gelombang kesulitan. karena, aku yakin, tiap orang butuh inspirator - atau pahlawan - dalam hidupnya, yang mampu terus membakar semangatnya.
ibu, dialah orangnya. bagiku.
rabu malam, ibuku sayang...
lelaplah kau di sana, di dalam dekap tuhan.
'kan kurekatkan doaku pada nyala-nyala malam
yang berbau hujan dan kasih sayang
untukmu, seorang.
*catatan ini saya poskan sebelumnya di note facebook pada malam sebelum Hari Ibu*
05 September 2010
Belum Jua Nyekar
Sebulan lebih dua minggu...
Saya berada di kampung halaman, Lombok. Dalam rangka liburan semester sekaligus magang di salah satu perusahaan media terbesar di NTB.
Satu bulan pertama saya habiskan dengan liburan. Menemani kawan-kawan dari Surabaya yang menghabiskan 5 hari di Lombok untuk piknik. Lalu, hari-hari berikutnya saya isi dengan membaca dan menulis saja. Sesekali mengantar bapak ke kantor, membantuk beresin rumah, tidur, dan bermain - mengunjungi kawan-kawan. Selebihnya, kekhawatiran karena tempat magang belum juga memberikan respons positifnya.
Tepat, pada hari kemerdekaan 17 Agustus, saya bertolak ke Mataram. Atas saran ibu. Sebenarnya sih, atas desakan dari orang-orang sekitar. Juga kegelisahan saya sendiri akan janji pada dosen untuk magang. Bohong di bulan puasa, bahkan sempat saya jabani. Dengan mengatakan bahwa saya telah diterima magang di kantor berita 'itu'. Meski, saya cukup beruntung karena sempat mengikuti safari Ramadan petinggi di kabupaten dan mengabarkannya di Facebook - untuk dijadikan alibi bahwa saya sedang magang bekerja dan meliput berita - namun, lama-lama hal itu memuakkan saya.
Sempat pula saya ingin berdalih bahwa saya bukan wartawan yang magang di kantor itu, namun sebagai narablog untuk sebuah situs jurnalisme warga. Namun, saya tidak ingin melanggengkan perbuatan 'membohongi diri sendiri' itu.
Dan, gayung bersambut. Setelah semalam sebelumnya saya mengadu pada DIA. Pada Selasa malam itu, saya pun dilepas dengan doa dan duit (hehehe) oleh orang tua. Saya harus dapat tempat magang (yang pasti)! Bismillah...
Keesokan harinya, dengan menekan-nekan luapan rasa segan - tepatnya, malas - pada diri, saya mendatangi kantor berita terbesar di NTB itu. Jawaban menggembirakan saya peroleh sehari setelahnya. Saya diterima dan mulai bekerja. Hingga detik saya menuliskan jurnal ini (yang saya ketik di ruang redaksi).
Sebenarnya, inti yang ingin saya ungkapkan di sini adalah... saya belum jua sempat mengunjungi makam ibu. Saya terlanjur termakan keasyikan yang saya ciptakan sendiri. Memang, lingkungan magang saya sangat mengasyikkan. Dinamika, ketikdakmonotonan, dan tantangan yang saya idam-idamkan telah saya dapatkan. Itu makin membuat saya sedikit alpa pada makam ibu. Sekadar berkunjung. Sekadar menabur air atau bunga kamboja di atas makam beliau. Sekadar mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di sela-sela nisan beliau. Ya, sekadar...
Doa, tentu saja masih terus tertiupkan. Namun, kedekatan fisik juga, saya pikir, perlu ditempuh. Mengingat mati. Mengenang beliau. Mencium aroma ketenangan.
Lebaran nanti, seusai salat iedul fitri, saya berjanji untuk menyambung tali rasa dan doa di pembaringan abadi beliau...
27 Ramadan 1431 H
Saya berada di kampung halaman, Lombok. Dalam rangka liburan semester sekaligus magang di salah satu perusahaan media terbesar di NTB.
Satu bulan pertama saya habiskan dengan liburan. Menemani kawan-kawan dari Surabaya yang menghabiskan 5 hari di Lombok untuk piknik. Lalu, hari-hari berikutnya saya isi dengan membaca dan menulis saja. Sesekali mengantar bapak ke kantor, membantuk beresin rumah, tidur, dan bermain - mengunjungi kawan-kawan. Selebihnya, kekhawatiran karena tempat magang belum juga memberikan respons positifnya.
Tepat, pada hari kemerdekaan 17 Agustus, saya bertolak ke Mataram. Atas saran ibu. Sebenarnya sih, atas desakan dari orang-orang sekitar. Juga kegelisahan saya sendiri akan janji pada dosen untuk magang. Bohong di bulan puasa, bahkan sempat saya jabani. Dengan mengatakan bahwa saya telah diterima magang di kantor berita 'itu'. Meski, saya cukup beruntung karena sempat mengikuti safari Ramadan petinggi di kabupaten dan mengabarkannya di Facebook - untuk dijadikan alibi bahwa saya sedang magang bekerja dan meliput berita - namun, lama-lama hal itu memuakkan saya.
Sempat pula saya ingin berdalih bahwa saya bukan wartawan yang magang di kantor itu, namun sebagai narablog untuk sebuah situs jurnalisme warga. Namun, saya tidak ingin melanggengkan perbuatan 'membohongi diri sendiri' itu.
Dan, gayung bersambut. Setelah semalam sebelumnya saya mengadu pada DIA. Pada Selasa malam itu, saya pun dilepas dengan doa dan duit (hehehe) oleh orang tua. Saya harus dapat tempat magang (yang pasti)! Bismillah...
Keesokan harinya, dengan menekan-nekan luapan rasa segan - tepatnya, malas - pada diri, saya mendatangi kantor berita terbesar di NTB itu. Jawaban menggembirakan saya peroleh sehari setelahnya. Saya diterima dan mulai bekerja. Hingga detik saya menuliskan jurnal ini (yang saya ketik di ruang redaksi).
Sebenarnya, inti yang ingin saya ungkapkan di sini adalah... saya belum jua sempat mengunjungi makam ibu. Saya terlanjur termakan keasyikan yang saya ciptakan sendiri. Memang, lingkungan magang saya sangat mengasyikkan. Dinamika, ketikdakmonotonan, dan tantangan yang saya idam-idamkan telah saya dapatkan. Itu makin membuat saya sedikit alpa pada makam ibu. Sekadar berkunjung. Sekadar menabur air atau bunga kamboja di atas makam beliau. Sekadar mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di sela-sela nisan beliau. Ya, sekadar...
Doa, tentu saja masih terus tertiupkan. Namun, kedekatan fisik juga, saya pikir, perlu ditempuh. Mengingat mati. Mengenang beliau. Mencium aroma ketenangan.
Lebaran nanti, seusai salat iedul fitri, saya berjanji untuk menyambung tali rasa dan doa di pembaringan abadi beliau...
27 Ramadan 1431 H
17 Juli 2010
Pelajaran dari Daoed Joesoef
“AlANGKAH BAHAGIANYA mempuanyai emak. Dia yang membesarkan aku dengan cinta keibuan yang lembut. Dia yang selalu memberikan aku pedoman di dalam perjalan hidup. Dia yang, di setiap langkah, tahap dan jenjang, membisikkan kepada harapan…”
Epilog dari buku 'Emak' yang ditulis oleh Daoed Joesoef ini saya temukan di sini. Betapa saya tiba-tiba teringat pada judul buku yang sempat saya pegang di Togamas kemarin malam (16/07). Lalu, saat sedang daring, saya pun iseng mencari informasi buku tersebut di Goodreads.com. Komentar dari para pembaca benar-benar membuat saya makin tertarik. Lantas, saya cari pula informasi tambahan melalui Google.
Saya putuskan untuk - Insya Allah - membeli buku ini besok. Jadi oleh-oleh buat saudara saya di Lombok. Tentu saja, untuk saya baca juga sekalian bernostalgia dengan kenangan antara saya dan Inaq - panggilan saya buat ibu.
Dari catatan Mbak Jemie Simatupang, saya juga memeroleh informasi bahwa Daoed Joesoef lahir di Medan, 8 Agustus 1926. Pendidikannya dimulai di Medan hingga akhirnya meraih gelar doktor di Universitas Sorbonne pada tahun 1972. Konon, itu merupakan gelar doktor pertama bagi orang Indonesia plus cum laude pula. Selain pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), Daoed Joesoef juga pernah menjadi Anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung). Kedua jabatan tersebut pada zaman Orde Baru.
Pada paragraf-paragraf selanjutnya, saya membaca bagaimana seorang Emak menanamkan pelajaran hidup pada Daoed Joesoef dalam berbagai hal. Padahal emaknya bukan dari kalangan berpendidikan. Namun, keyakinannya pada kesuksesan yang akan mudah diraih dengan ilmu, menjadikannya bercita-cita tinggi untuk menyekolahkan anak-anaknya, termasuk Daoed Joesoef.
Sampai pada penjelasan itu, saya tercenung. Saya teringat pada Inaq saya. Pada pesan beliau selama masih hidup yang diestafetkan melalui bapak juga nasehat kakak-kakak saya bahwa: KAMI SEMUA HARUS SARJANA! Harus menempuh pendidikan perguruan tinggi. Sungguh, saya tak bisa membayangkan bagaimana bahagia beliau jika nanti melihat kami semua - anak-anaknya - telah menggenggam gelar sarjana. Saya sendiri, saat ini, sedang berjuang memasuki semester tujuh. Berharap sekali untuk lulus tepat 4 tahun. Pertengahan tahun 2011 nanti, saya bertekad untuk lulus dari Ilmu Hubungan Internasional.
Saya ingin membuat Inaq bangga di alam sana. Saya ingin membahagiakan bapak yang selama ini telah membiayai pendidikan saya. Juga membuat bangga dan berkontribusi pada keluarga dan masyarakat. Bagaimana saya selalu tepekur tiap kali mendapat pesan pendek nasehat dari bapak. Misalnya, pesan pendek yang beliau kirimkan pada 12 Juli 2010 setelah keinginan saya mempunyai kamera digital terkabul, "Rajin-rajinlah BELAJAR DAN MEMANFAATKAN WAKTU DALAM MENUNTUT ILMU, itulah harapan bapak, ibu dan semua keluarga dan saudara2 anakda di Lombok."
Inaq, Bapak, Ibu, Kakak-kakak, dan Adik-adik: TIANG AKAN MEWUJUDKAN ITU SEMUA!
N.B. Tiang = Saya (bahasa Sasak, red)
Inaq = Ibu (bahasa Sasak, red)
Saya punya dua ibu. Ibu kandung saya panggil 'Inaq'. Ibu tiri saya panggil 'Ibu'.
Epilog dari buku 'Emak' yang ditulis oleh Daoed Joesoef ini saya temukan di sini. Betapa saya tiba-tiba teringat pada judul buku yang sempat saya pegang di Togamas kemarin malam (16/07). Lalu, saat sedang daring, saya pun iseng mencari informasi buku tersebut di Goodreads.com. Komentar dari para pembaca benar-benar membuat saya makin tertarik. Lantas, saya cari pula informasi tambahan melalui Google.
Saya putuskan untuk - Insya Allah - membeli buku ini besok. Jadi oleh-oleh buat saudara saya di Lombok. Tentu saja, untuk saya baca juga sekalian bernostalgia dengan kenangan antara saya dan Inaq - panggilan saya buat ibu.
Dari catatan Mbak Jemie Simatupang, saya juga memeroleh informasi bahwa Daoed Joesoef lahir di Medan, 8 Agustus 1926. Pendidikannya dimulai di Medan hingga akhirnya meraih gelar doktor di Universitas Sorbonne pada tahun 1972. Konon, itu merupakan gelar doktor pertama bagi orang Indonesia plus cum laude pula. Selain pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), Daoed Joesoef juga pernah menjadi Anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung). Kedua jabatan tersebut pada zaman Orde Baru.
Pada paragraf-paragraf selanjutnya, saya membaca bagaimana seorang Emak menanamkan pelajaran hidup pada Daoed Joesoef dalam berbagai hal. Padahal emaknya bukan dari kalangan berpendidikan. Namun, keyakinannya pada kesuksesan yang akan mudah diraih dengan ilmu, menjadikannya bercita-cita tinggi untuk menyekolahkan anak-anaknya, termasuk Daoed Joesoef.
Sampai pada penjelasan itu, saya tercenung. Saya teringat pada Inaq saya. Pada pesan beliau selama masih hidup yang diestafetkan melalui bapak juga nasehat kakak-kakak saya bahwa: KAMI SEMUA HARUS SARJANA! Harus menempuh pendidikan perguruan tinggi. Sungguh, saya tak bisa membayangkan bagaimana bahagia beliau jika nanti melihat kami semua - anak-anaknya - telah menggenggam gelar sarjana. Saya sendiri, saat ini, sedang berjuang memasuki semester tujuh. Berharap sekali untuk lulus tepat 4 tahun. Pertengahan tahun 2011 nanti, saya bertekad untuk lulus dari Ilmu Hubungan Internasional.
Saya ingin membuat Inaq bangga di alam sana. Saya ingin membahagiakan bapak yang selama ini telah membiayai pendidikan saya. Juga membuat bangga dan berkontribusi pada keluarga dan masyarakat. Bagaimana saya selalu tepekur tiap kali mendapat pesan pendek nasehat dari bapak. Misalnya, pesan pendek yang beliau kirimkan pada 12 Juli 2010 setelah keinginan saya mempunyai kamera digital terkabul, "Rajin-rajinlah BELAJAR DAN MEMANFAATKAN WAKTU DALAM MENUNTUT ILMU, itulah harapan bapak, ibu dan semua keluarga dan saudara2 anakda di Lombok."
Inaq, Bapak, Ibu, Kakak-kakak, dan Adik-adik: TIANG AKAN MEWUJUDKAN ITU SEMUA!
N.B. Tiang = Saya (bahasa Sasak, red)
Inaq = Ibu (bahasa Sasak, red)
Saya punya dua ibu. Ibu kandung saya panggil 'Inaq'. Ibu tiri saya panggil 'Ibu'.
14 Juni 2010
Ruang Shalat
Ada satu ruangan kecil di rumah kami yang lama. Ruangan tersebut terisi oleh sebuah meja, lemari berpintu kasa, dan sebuah dipan dengan kasur tipis. Kadang kardus dan beberapa jenis benda lainnya disimpan di situ. Disebut gudang juga kurang tepat. Sebab, di situlah, di atas dipan, ibu saya kerap membentangkan sajadah lusuhnya dan beribadah lima waktu.
Ruangan itu terdapat di bagian selatan rumah kami. Berdekatan dengan dapur pula kamar mandi. Mungkin itu alasan ibu memilih ruangan tersebut sebagai tempat shalat. Sehabis lelah bekerja di dapur dan menunaikan tugas melayani kami untuk makan, misalnya, ibu bisa bergegas ke ruangan itu dan menggenapkan segala amalannya.
Namun, ibu tidak melulu shalat di situ sebab di samping belakang rumah kami terdapat mushola. Mushola Al-Fatah. Namanya dicomot dari nama saya karena memang awal mula pendiriannya saat saya baru lahir, yakni di tahun 1988. Hingga saat ini, mushola tersebut masih kokoh berdiri. Bersih dan semakin rapi. Cat luarnya telah diperbarui. Oke, bangunan fisik memang berubah jadi lebih bagus. Ironisnya, suara ramai anak-anak yang mengaji sedari magrib hingga isya, kini sudah mulai jarang. Maklum, anak-anak tetangga di sekitar lingkungan kami rata-rata telah beranjak remaja dan dewasa. Ada yang telah berumah tangga, ikut suaminya ke kampung lain, melanjutkan sekolah di luar kota, bahkan di luar pulau. Contohnya, saya.
Baik. Sedikit saja saya bahas mushola tersebut. Kembali ke topik awal mengenai ibu saya.
Nah, sekalipun ruangan tersebut tetap ‘istimewa’ buat beliau, namun keberadaan mushola tidak beliau kesampingkan. Shalat berjamaah, meraup pahala berlipat, siapa yang tidak mau? Apalagi – maaf – mengingat usia yang makin tua, di atas lima puluh, adalah suatu kesadaran yang baik untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah. Sebab, siapa yang tahu kapan malaikat maut kapan datang menjemput. Tak seorang pun. Namun, alangkah beruntungnya manusia yang diberikan tanda-tanda akan hal itu. Setidaknya, dia tetap waspada dan berusaha untuk selalu lebih baik dari hari ke harinya. Menanam amal kebaikan dalam tiap detak jantungnya. Untuk dipanen nanti ketika memasuki etape kehidupan berikutnya. Insya Allah ibu saya menyadari akan hal itu.
Ruangan itu. Ruangan yang sejak 2007 tidak saya ketahui lagi rupanya seperti apa. Sebab, rumah yaang pada mulanya rumah untuk keluarga besar, telah disewakan. Ini terkait pula persoalan warisan. Jadi, mau tidak mau, bapak memboyong kami sekeluarga ke rumah baru. Tidak begitu jauh sebenarnya dari rumah lama. Berjalan kaki sepuluh menit, bisalah sampai. Saya meski beberapa kali sempat menengok rumah lama, itu sekadar memandang luarnya saja. Tidak masuk. Menyesapi kenangan demi kenangan yang telah tertanam hampir 18 tahun saya hidup di rumah lama tersebut. Tidak masuk. Hanya berusaha mengekalkannya di dalam ingatan saja. Apalagi saya mengalami beragam momen dengan ibu, di rumah tersebut. Tak sedikit juga beliau sempat mencicipi tinggal di rumah baru kami yang sekarang. Ya, beliau terlebih dulu menempati rumah barunya di alam lain.
Semoga ibu senantiasa mendapat siraman cahaya Surga. Dan, ruang ibadah beserta benda-benda di dalamnya itu bisa menjadi saksi di akhirat kelak akan ketaatan beliau shalat lima waktu.
Amin… Ya Robbal ‘Alamiiin…
Ruangan itu terdapat di bagian selatan rumah kami. Berdekatan dengan dapur pula kamar mandi. Mungkin itu alasan ibu memilih ruangan tersebut sebagai tempat shalat. Sehabis lelah bekerja di dapur dan menunaikan tugas melayani kami untuk makan, misalnya, ibu bisa bergegas ke ruangan itu dan menggenapkan segala amalannya.
Namun, ibu tidak melulu shalat di situ sebab di samping belakang rumah kami terdapat mushola. Mushola Al-Fatah. Namanya dicomot dari nama saya karena memang awal mula pendiriannya saat saya baru lahir, yakni di tahun 1988. Hingga saat ini, mushola tersebut masih kokoh berdiri. Bersih dan semakin rapi. Cat luarnya telah diperbarui. Oke, bangunan fisik memang berubah jadi lebih bagus. Ironisnya, suara ramai anak-anak yang mengaji sedari magrib hingga isya, kini sudah mulai jarang. Maklum, anak-anak tetangga di sekitar lingkungan kami rata-rata telah beranjak remaja dan dewasa. Ada yang telah berumah tangga, ikut suaminya ke kampung lain, melanjutkan sekolah di luar kota, bahkan di luar pulau. Contohnya, saya.
Baik. Sedikit saja saya bahas mushola tersebut. Kembali ke topik awal mengenai ibu saya.
Nah, sekalipun ruangan tersebut tetap ‘istimewa’ buat beliau, namun keberadaan mushola tidak beliau kesampingkan. Shalat berjamaah, meraup pahala berlipat, siapa yang tidak mau? Apalagi – maaf – mengingat usia yang makin tua, di atas lima puluh, adalah suatu kesadaran yang baik untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah. Sebab, siapa yang tahu kapan malaikat maut kapan datang menjemput. Tak seorang pun. Namun, alangkah beruntungnya manusia yang diberikan tanda-tanda akan hal itu. Setidaknya, dia tetap waspada dan berusaha untuk selalu lebih baik dari hari ke harinya. Menanam amal kebaikan dalam tiap detak jantungnya. Untuk dipanen nanti ketika memasuki etape kehidupan berikutnya. Insya Allah ibu saya menyadari akan hal itu.
Ruangan itu. Ruangan yang sejak 2007 tidak saya ketahui lagi rupanya seperti apa. Sebab, rumah yaang pada mulanya rumah untuk keluarga besar, telah disewakan. Ini terkait pula persoalan warisan. Jadi, mau tidak mau, bapak memboyong kami sekeluarga ke rumah baru. Tidak begitu jauh sebenarnya dari rumah lama. Berjalan kaki sepuluh menit, bisalah sampai. Saya meski beberapa kali sempat menengok rumah lama, itu sekadar memandang luarnya saja. Tidak masuk. Menyesapi kenangan demi kenangan yang telah tertanam hampir 18 tahun saya hidup di rumah lama tersebut. Tidak masuk. Hanya berusaha mengekalkannya di dalam ingatan saja. Apalagi saya mengalami beragam momen dengan ibu, di rumah tersebut. Tak sedikit juga beliau sempat mencicipi tinggal di rumah baru kami yang sekarang. Ya, beliau terlebih dulu menempati rumah barunya di alam lain.
Semoga ibu senantiasa mendapat siraman cahaya Surga. Dan, ruang ibadah beserta benda-benda di dalamnya itu bisa menjadi saksi di akhirat kelak akan ketaatan beliau shalat lima waktu.
Amin… Ya Robbal ‘Alamiiin…
11 Mei 2010
Muslimah, Bukan Guru Andrea Hirata, Tapi...
Anda pernah membaca novel atau menonton film berjudul “Laskar Pelangi”? Tentu sosok Ibu Muslimah sudah tidak asing lagi. Ya, beliau adalah guru si Ikal semasa duduk di sekolah dasar. Guru yang menginspirasi seorang Andrea Hirata untuk menuliskan kisah beliau dan perjuangan kawan-kawannya selama menuntut ilmu di SD Muhammadiyah Belitong itu. Maka, lahirlah sebuah karya besar dan fenomenal yang kemudian difilmkan dan berhasil menyedot lebih dari 4 juta penonton. Istimewa!
Bila di dalam Laskar Pelangi, Muslimah adalah seorang guru, maka dalam kehidupan saya, Muslimah adalah seorang ibu kandung. Ya, itulah nama sosok perempuan yang dari rahimnya saya terlahir ke dunia. Muslimah binti H. Muhammad Yunus. Muslimah yang berhasil menjadi ibu rumah tangga hebat, setidaknya di mata saya. Muslimah yang Insya Allah mencerminkan namanya. Muslimah yang mampu menderaskan sumur ide saya untuk terus menulis tentang beliau. Sebagai bukti, sebuah jurnal elektronik alias blog bahkan saya buat khusus untuk mengenang beliau yang kini telah berada dalam pelukan cinta-Nya.
Pertengahan Juli 2005…
Tepat saat azan Subuh dikumandangkan, beliau menuntaskan kewajibannya sebagai manusia, sebagai istri, sekaligus sebagai ibu. Saya yang saat itu masih kelas 2 SMA, belum percaya dengan kepergian beliau. Berdiri di depan cermin, saya memandang diri dan menggumam, “Piatukah aku kini? Seorang Fatah sudah tidak beribu lagi?”
Kesadaran saya semakin mendapat jawaban tatkala saya mengikuti semua prosesi pemakaman beliau. Bersama saudara yang lain, membopong jenazah beliau yang telah dimandikan dan dikafani ke ruang tengah. Mencium wajah beliau untuk terakhir kalinya. Menyalatjenazahkan beliau. Membacakan ayat-ayat suci terakhir kalinya di depan sosok terbujur kaku ibu. Mengiringi jenazah beliau ke masjid untuk dishalatkan kembali, lantas ke Pekuburuan Gayong. Di sanalah, ketika jasad ibu diturunkan ke dalam liang yang basah, saya baru yakin benar, antara saya dan ibu sudah berbeda alamnya. Sore itu, langit berwarna senada dengan jiwa saya. Kelabu.
Lantas, hari-hari saya berikutnya diisi oleh gelombang kenangan mengenai beliau. Rumah serasa kosong. Ada yang hilang. Tentu. Meskipun bapak dan delapan saudara saya yang lain masih ada, namun keganjilan itu tidak bisa kami tepiskan. Ketika saya masuk ke kamar ibu, misalnya, akan terbayang bahwa ibu saya masih di situ. Tiduran di kasur karena kelelahan mengurus sekian banyak anaknya sepanjang hari. Bayangan saya, beliau juga masih duduk di kursi kayu itu, menekuri ayat-ayat-Nya selepas Maghrib. Bayangan saya, beliau tiap pagi tetap akan membuka lemari bercermin itu, kemudian mengambil beberapa lembar uang dan recehan untuk dibagikan secara adil pada anak-anaknya. Saya mengenang beliau dalam puisi-puisi dan curhatan hati di sebuah buku harian. Itu kala rindu saya sudah tidak tertahankan.
Subuh hari, saya bangun dan beranjak ke kamar mandi yang berdampingan dengan dapur. Sebuah dapur tradisional dengan tiga tungku tanah liat dan onggokan kayu bakar. Saya tidak lagi menemukan sosok ibu saya di situ. Sosok yang selalu bangun pagi paling awal, lantas menyalakan kayu bakar, dan menjerang air dengan ketel berpantat hitam di atas tungku. Air itu kemudian dipindahkan ke termos, lalu air berikutnya dijerang lagi karena belum cukup. Air panas itulah yang nantinya akan terhidang sebagai kopi untuk bapak, susu untuk kami, atau rebusan mie.
Saat bapak berangkat ke kantor dan kami ke sekolah masing-masing, ibu akan menjalankan tugas mulianya sebagai ibu rumah tangga. Ke pasar, memasak, membersihkan rumah, mencuci, dan berbakti pada ibunya (nenek kami) yang tinggal satu atap dengan kami. Siapa yang tidak girang saat pulang ke rumah dalam keadaan lapar, masakan telah terhidang. Ibu mendisiplinkan kami agar mengganti seragam sekolah dulu, baru mulai makan. Terkadang, beliau akan menemani anak-anaknya makan sambil bercerita mengenai ini-itu. Tidak jarang pula kami makan ditemani tontonan televisi, sementara beliau rehat siang.
Rutinitas beliau sebagai ibu rumah tangga sempat terkoyak semasa saudara bungsu saya, Arif, harus menanggalkan masa pengasuhannya di rumah untuk masuk Madrasah Ibtidaiyah No. 3 Pancor. Orang tua saya sepakat menyekolahkan Arif di situ karena dalam keluarga kami, sekolah setingkat SD tersebut memiliki riwayat yang jempolan. Hampir semua paman dan bibi saya mengawali pendidikan dasar formal di situ. Bahkan, saya dan tujuh saudara kandung saya juga bersekolah di situ, kecuali si Uswatun yang masuk SD No. 4 Pancor. Nah, sekarang giliran si bungsu.
Tidak seperti saudaranya yang lain di sekolah baru, Arif mengalami phobia sekolah. Dia merasa tidak nyaman harus berangkat sendiri ke sekolah dan menjalani kegiatan belajar di kelas. Jika tidak ada yang mengantar, dia mengancam untuk tidak sekolah. Menangis dan meronta-ronta menolak. Karena bapak tidak bisa meninggalkan kantor dan kami, kakak-kakaknya harus sekolah, maka ibu mengambil keputusan untuk mengantarkan si Arif. Naik dokar tiap pagi.
Masih mending sekadar mengantarkan. Ini tidak. Si Arif mengancam mogok sekolah jika ibu tidak menemaninya sepanjang pelajaran di dalam kelas. Bayangkan? Arif yang sudah berumur enam tahun, tidak mengecap bangku TK memang, harus ditemani oleh ibu di dalam kelas. Duduk berdampingan! Begitu selama satu semester sebelum dia akhirnya dipindahkan ke SD No. 4 Pancor.
Setelah ibu tiada, barulah saya memikirkan hal itu. Selama satu semester menemani si bungsu belajar di kelas, duduk satu meja, menjadi satu-satunya orang tua murid yang ‘kembali’ mengenyam bangku sekolah dasar, menahan rasa malu karena akhirnya terdengar juga cemoohan para guru, apa sebenarnya yang menggerakkan hati ibu saya? Mengapa beliau bertahan? Mengapa si Arif tidak disekolahkan saja di rumah? Mengapa dan mengapa? Lalu, terbukalah pikiran saya. Semua ini dilakukan oleh ibu demi masa depan anaknya. Demi cita-cita dan mimpi beliau agar kesembilan anaknya mengenyam pendidikan tinggi, minimal menggenggam gelar sarjana. Entah berhubungan atau tidak, beliau sendiri sepertinya berkeinginan sekolah yang lebih tinggi lagi jika saja tidak dilamar oleh bapak begitu beliau lulus Madrasah Aliyah (setingkat SMA).
Satu hal lagi yang membuat saya istiqomah di dunia kepenulisan dan ber-azzam kuat menulis kisah ini, juga tidak terlepas dari sokongan semangat dan doa ibu semasa hidup dulu. Prestasi pertama saya di dunia menulis, yakni sebagai juara II menulis puisi tingkat pelajar se-NTB, membuat ibu saya bangga tiada terkira. Ibulah yang pertama kali saya bisikkan agar saya dibelikan komputer, dan beliau mendukung penuh. Ibulah yang kemudian membuat saya merona malu dengan bercerita pada para tamu bahwa saya mempunyai bakat menulis. Ibulah orang pertama dan utama saya mintai doa restu tiap kali saya hendak mengikuti lomba apapun, termasuk lomba menulis.
Kini, saat saya mengikuti lomba menulis biografi ibu ini, saya tahu saya tidak bisa meminta doa ibu lagi. Namun, satu hal tertanam kuat dalam diri saya. Doa ibu, sekalipun sosoknya sudah tiada, akan tetap bergema dan berpendar di langit-langit jiwa saya. Atau bisa saja, doa yang beliau ucapkan secara tulus ikhlas semasa hidup dulu, memang diijabahi oleh Allah Swt. dan tidak akan pernah habis masa berlakunya. Tentu, doa beliau tersebut saya imbangi dengan doa dan usaha maksimal saya.
Rabbighfirli wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa robbaya nii shagiiraa… Ya Allah, ampunilah saya dan kedua orang tua saya, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi saya sewaktu kecil…
NB: Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Blog: Berbagi Kisah Sejati, yang diselenggarakan oleh Anazkia. Lomba ini juga disponsori oleh Denai Hati.
Bagi teman-teman yang ingin mengikuti kontes ini, silakan meluncur ke blog Mbak Anazkia :) Terima kasih.
Bila di dalam Laskar Pelangi, Muslimah adalah seorang guru, maka dalam kehidupan saya, Muslimah adalah seorang ibu kandung. Ya, itulah nama sosok perempuan yang dari rahimnya saya terlahir ke dunia. Muslimah binti H. Muhammad Yunus. Muslimah yang berhasil menjadi ibu rumah tangga hebat, setidaknya di mata saya. Muslimah yang Insya Allah mencerminkan namanya. Muslimah yang mampu menderaskan sumur ide saya untuk terus menulis tentang beliau. Sebagai bukti, sebuah jurnal elektronik alias blog bahkan saya buat khusus untuk mengenang beliau yang kini telah berada dalam pelukan cinta-Nya.
Pertengahan Juli 2005…
Tepat saat azan Subuh dikumandangkan, beliau menuntaskan kewajibannya sebagai manusia, sebagai istri, sekaligus sebagai ibu. Saya yang saat itu masih kelas 2 SMA, belum percaya dengan kepergian beliau. Berdiri di depan cermin, saya memandang diri dan menggumam, “Piatukah aku kini? Seorang Fatah sudah tidak beribu lagi?”
Kesadaran saya semakin mendapat jawaban tatkala saya mengikuti semua prosesi pemakaman beliau. Bersama saudara yang lain, membopong jenazah beliau yang telah dimandikan dan dikafani ke ruang tengah. Mencium wajah beliau untuk terakhir kalinya. Menyalatjenazahkan beliau. Membacakan ayat-ayat suci terakhir kalinya di depan sosok terbujur kaku ibu. Mengiringi jenazah beliau ke masjid untuk dishalatkan kembali, lantas ke Pekuburuan Gayong. Di sanalah, ketika jasad ibu diturunkan ke dalam liang yang basah, saya baru yakin benar, antara saya dan ibu sudah berbeda alamnya. Sore itu, langit berwarna senada dengan jiwa saya. Kelabu.
Lantas, hari-hari saya berikutnya diisi oleh gelombang kenangan mengenai beliau. Rumah serasa kosong. Ada yang hilang. Tentu. Meskipun bapak dan delapan saudara saya yang lain masih ada, namun keganjilan itu tidak bisa kami tepiskan. Ketika saya masuk ke kamar ibu, misalnya, akan terbayang bahwa ibu saya masih di situ. Tiduran di kasur karena kelelahan mengurus sekian banyak anaknya sepanjang hari. Bayangan saya, beliau juga masih duduk di kursi kayu itu, menekuri ayat-ayat-Nya selepas Maghrib. Bayangan saya, beliau tiap pagi tetap akan membuka lemari bercermin itu, kemudian mengambil beberapa lembar uang dan recehan untuk dibagikan secara adil pada anak-anaknya. Saya mengenang beliau dalam puisi-puisi dan curhatan hati di sebuah buku harian. Itu kala rindu saya sudah tidak tertahankan.
Subuh hari, saya bangun dan beranjak ke kamar mandi yang berdampingan dengan dapur. Sebuah dapur tradisional dengan tiga tungku tanah liat dan onggokan kayu bakar. Saya tidak lagi menemukan sosok ibu saya di situ. Sosok yang selalu bangun pagi paling awal, lantas menyalakan kayu bakar, dan menjerang air dengan ketel berpantat hitam di atas tungku. Air itu kemudian dipindahkan ke termos, lalu air berikutnya dijerang lagi karena belum cukup. Air panas itulah yang nantinya akan terhidang sebagai kopi untuk bapak, susu untuk kami, atau rebusan mie.
Saat bapak berangkat ke kantor dan kami ke sekolah masing-masing, ibu akan menjalankan tugas mulianya sebagai ibu rumah tangga. Ke pasar, memasak, membersihkan rumah, mencuci, dan berbakti pada ibunya (nenek kami) yang tinggal satu atap dengan kami. Siapa yang tidak girang saat pulang ke rumah dalam keadaan lapar, masakan telah terhidang. Ibu mendisiplinkan kami agar mengganti seragam sekolah dulu, baru mulai makan. Terkadang, beliau akan menemani anak-anaknya makan sambil bercerita mengenai ini-itu. Tidak jarang pula kami makan ditemani tontonan televisi, sementara beliau rehat siang.
Rutinitas beliau sebagai ibu rumah tangga sempat terkoyak semasa saudara bungsu saya, Arif, harus menanggalkan masa pengasuhannya di rumah untuk masuk Madrasah Ibtidaiyah No. 3 Pancor. Orang tua saya sepakat menyekolahkan Arif di situ karena dalam keluarga kami, sekolah setingkat SD tersebut memiliki riwayat yang jempolan. Hampir semua paman dan bibi saya mengawali pendidikan dasar formal di situ. Bahkan, saya dan tujuh saudara kandung saya juga bersekolah di situ, kecuali si Uswatun yang masuk SD No. 4 Pancor. Nah, sekarang giliran si bungsu.
Tidak seperti saudaranya yang lain di sekolah baru, Arif mengalami phobia sekolah. Dia merasa tidak nyaman harus berangkat sendiri ke sekolah dan menjalani kegiatan belajar di kelas. Jika tidak ada yang mengantar, dia mengancam untuk tidak sekolah. Menangis dan meronta-ronta menolak. Karena bapak tidak bisa meninggalkan kantor dan kami, kakak-kakaknya harus sekolah, maka ibu mengambil keputusan untuk mengantarkan si Arif. Naik dokar tiap pagi.
Masih mending sekadar mengantarkan. Ini tidak. Si Arif mengancam mogok sekolah jika ibu tidak menemaninya sepanjang pelajaran di dalam kelas. Bayangkan? Arif yang sudah berumur enam tahun, tidak mengecap bangku TK memang, harus ditemani oleh ibu di dalam kelas. Duduk berdampingan! Begitu selama satu semester sebelum dia akhirnya dipindahkan ke SD No. 4 Pancor.
Setelah ibu tiada, barulah saya memikirkan hal itu. Selama satu semester menemani si bungsu belajar di kelas, duduk satu meja, menjadi satu-satunya orang tua murid yang ‘kembali’ mengenyam bangku sekolah dasar, menahan rasa malu karena akhirnya terdengar juga cemoohan para guru, apa sebenarnya yang menggerakkan hati ibu saya? Mengapa beliau bertahan? Mengapa si Arif tidak disekolahkan saja di rumah? Mengapa dan mengapa? Lalu, terbukalah pikiran saya. Semua ini dilakukan oleh ibu demi masa depan anaknya. Demi cita-cita dan mimpi beliau agar kesembilan anaknya mengenyam pendidikan tinggi, minimal menggenggam gelar sarjana. Entah berhubungan atau tidak, beliau sendiri sepertinya berkeinginan sekolah yang lebih tinggi lagi jika saja tidak dilamar oleh bapak begitu beliau lulus Madrasah Aliyah (setingkat SMA).
Satu hal lagi yang membuat saya istiqomah di dunia kepenulisan dan ber-azzam kuat menulis kisah ini, juga tidak terlepas dari sokongan semangat dan doa ibu semasa hidup dulu. Prestasi pertama saya di dunia menulis, yakni sebagai juara II menulis puisi tingkat pelajar se-NTB, membuat ibu saya bangga tiada terkira. Ibulah yang pertama kali saya bisikkan agar saya dibelikan komputer, dan beliau mendukung penuh. Ibulah yang kemudian membuat saya merona malu dengan bercerita pada para tamu bahwa saya mempunyai bakat menulis. Ibulah orang pertama dan utama saya mintai doa restu tiap kali saya hendak mengikuti lomba apapun, termasuk lomba menulis.
Kini, saat saya mengikuti lomba menulis biografi ibu ini, saya tahu saya tidak bisa meminta doa ibu lagi. Namun, satu hal tertanam kuat dalam diri saya. Doa ibu, sekalipun sosoknya sudah tiada, akan tetap bergema dan berpendar di langit-langit jiwa saya. Atau bisa saja, doa yang beliau ucapkan secara tulus ikhlas semasa hidup dulu, memang diijabahi oleh Allah Swt. dan tidak akan pernah habis masa berlakunya. Tentu, doa beliau tersebut saya imbangi dengan doa dan usaha maksimal saya.
Rabbighfirli wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa robbaya nii shagiiraa… Ya Allah, ampunilah saya dan kedua orang tua saya, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi saya sewaktu kecil…
NB: Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Blog: Berbagi Kisah Sejati, yang diselenggarakan oleh Anazkia. Lomba ini juga disponsori oleh Denai Hati.
Bagi teman-teman yang ingin mengikuti kontes ini, silakan meluncur ke blog Mbak Anazkia :) Terima kasih.
Labels:
berbagi kisah sejati,
kontes blog,
muslimah
10 Januari 2010
Novel Ibu
Jauh di lubuk hati saya yang paling dalam, tersemai keinginan untuk menulis sebuah novel tentang ibu saya. Ya, sebuah novel. Bukan sekadar kumpulan catatan tentang beliau. Tentu pula, bukan biografi yang isinya seratus persen harus berdasarkan true story.
Sekadar novel. Sekadar.
Saya lumayan sering menjumpai buku-buku yang bertemakan ibu. Terutama tentang kisah kasih seorang ibu, perjuangannya, ketabahan, kesabaran, ketangguhan, juga mengenai hubungan anak dengan ibunya, serta banyak lagi perspektif lainnya. Nah, novel mengenai ibu saya nanti ingin saya lihat berjejer di antara deretan buku tersebut.
Motif terbesar saya apa?
Berbakti. Tidak lebih dari itu. Berbakti melalui ilmu yang berkah serta berusaha seoptimal mungkin menjadi anak shaleh yang selalu mendoakan beliau. Ya, karena saya merupakan salah satu harta karun peninggalan beliau yang masih hidup, maka tidak salah jika saya ingin memotret beliau melalui tulisan. Melalui novel. Dengan harapan agar ibu saya bisa menjadi buah tutur yang baik bagi cucu-cicitnya kelak. Sehingga mereka bangga punya nenek, buyut, dan seterusnya. Itu saja.
Jikalau pun terselip niatan untuk show off, unjuk diri, pamer, dan cap-cap tidak sehat lainnya, itu terserah pada yang menilai. Sebagai manusia biasa, bukan suatu hal yang tidak mungkin jika ada masa dimana saya tergelincir dalam jurang-jurang tidak sehat itu. Ya, godaan itu mesti ada. Namun, sebelum perasaan tidak sehat itu membungkus dan menjerat saya, ada baiknya saya memantapkan niat mulai sekarang sekaligus meminta perlindungan pada Allah SWT. Sebab, kalau pun nanti novel saya mengenai ibu bisa rampung, itu juga tidak lepas dari kehendak-Nya.
Apa saja yang akan saya tuliskan nanti?
Terutama mengenai perangai, sifat, sikap, perilaku, dan kebiasan-kebiasaan baik ibu. Akankah ditampilkan pula sisi buruknya? Jika hal itu bisa memberikan ‘sesuatu’ entah itu pelajaran atau pun hikmah bagi orang lain, kenapa tidak? Ibu saya bukan malaikat yang tidak lekat dari dosa dan alpa. Beliau juga menusia biasa yang punya sisi humanis. Itu akan menjadi tugas saya untuk sebaik mungkin dalam meng-capture sisi-sisi kehidupan ibu saya. Menampilkan sehumanis mungkin. Sebab, saya yakin pembaca akan lebih tertarik pada tokoh yang mempunyai kesesuaian dengan diri mereka. Bukan sekadar tokoh-tokoh yang muluk alias mencapai taraf ‘sempurna’. Tapi, tokoh ibu yang bisa menggamit imajinasi pembaca dan melakukan refleksi terhadap kehidupan pribadi masing-masing. Mungkin perangai ibu saya memiliki kesamaan dengan perangai ibu pembaca. Dan, itu bukanlah suatu hal yang sulit ditemukan.
Inilah sekelumit asa yang sematkan melalui blog ini. Insya Allah akan menjadi pengingat saya. Bisa saja saya menulis ini, memposkan, lalu melupakannya. Namun, saya yakin, akan ada suatu momen yang mengingatkan saya kembali pada niat yang tertanam di tulisan ini.
Sekadar novel. Sekadar.
Saya lumayan sering menjumpai buku-buku yang bertemakan ibu. Terutama tentang kisah kasih seorang ibu, perjuangannya, ketabahan, kesabaran, ketangguhan, juga mengenai hubungan anak dengan ibunya, serta banyak lagi perspektif lainnya. Nah, novel mengenai ibu saya nanti ingin saya lihat berjejer di antara deretan buku tersebut.
Motif terbesar saya apa?
Berbakti. Tidak lebih dari itu. Berbakti melalui ilmu yang berkah serta berusaha seoptimal mungkin menjadi anak shaleh yang selalu mendoakan beliau. Ya, karena saya merupakan salah satu harta karun peninggalan beliau yang masih hidup, maka tidak salah jika saya ingin memotret beliau melalui tulisan. Melalui novel. Dengan harapan agar ibu saya bisa menjadi buah tutur yang baik bagi cucu-cicitnya kelak. Sehingga mereka bangga punya nenek, buyut, dan seterusnya. Itu saja.
Jikalau pun terselip niatan untuk show off, unjuk diri, pamer, dan cap-cap tidak sehat lainnya, itu terserah pada yang menilai. Sebagai manusia biasa, bukan suatu hal yang tidak mungkin jika ada masa dimana saya tergelincir dalam jurang-jurang tidak sehat itu. Ya, godaan itu mesti ada. Namun, sebelum perasaan tidak sehat itu membungkus dan menjerat saya, ada baiknya saya memantapkan niat mulai sekarang sekaligus meminta perlindungan pada Allah SWT. Sebab, kalau pun nanti novel saya mengenai ibu bisa rampung, itu juga tidak lepas dari kehendak-Nya.
Apa saja yang akan saya tuliskan nanti?
Terutama mengenai perangai, sifat, sikap, perilaku, dan kebiasan-kebiasaan baik ibu. Akankah ditampilkan pula sisi buruknya? Jika hal itu bisa memberikan ‘sesuatu’ entah itu pelajaran atau pun hikmah bagi orang lain, kenapa tidak? Ibu saya bukan malaikat yang tidak lekat dari dosa dan alpa. Beliau juga menusia biasa yang punya sisi humanis. Itu akan menjadi tugas saya untuk sebaik mungkin dalam meng-capture sisi-sisi kehidupan ibu saya. Menampilkan sehumanis mungkin. Sebab, saya yakin pembaca akan lebih tertarik pada tokoh yang mempunyai kesesuaian dengan diri mereka. Bukan sekadar tokoh-tokoh yang muluk alias mencapai taraf ‘sempurna’. Tapi, tokoh ibu yang bisa menggamit imajinasi pembaca dan melakukan refleksi terhadap kehidupan pribadi masing-masing. Mungkin perangai ibu saya memiliki kesamaan dengan perangai ibu pembaca. Dan, itu bukanlah suatu hal yang sulit ditemukan.
Inilah sekelumit asa yang sematkan melalui blog ini. Insya Allah akan menjadi pengingat saya. Bisa saja saya menulis ini, memposkan, lalu melupakannya. Namun, saya yakin, akan ada suatu momen yang mengingatkan saya kembali pada niat yang tertanam di tulisan ini.
31 Desember 2009
Refleksi Awal Tahun 2010
1 Januari 2010...
Akhirnya, tiba juga tahun baru dengan kombinasi angka yang cukup unik ini. 2010. Ada beberapa hal yang ingin saya tuliskan dan bagi di sini. Tentu saja temanya tidak jauh-jauh dengan apa yang menjadi judul blog ini. Yup, ibu!
Sore tadi, ketika sedang asyik browsing di ruang publik perpustakaan, tiba-tiba hp saya bergetar. Tertera nomor berkode Surabaya. Tanpa menunggu pertimbangan ini itu, langsung saya angkat.
Intinya, saya dinyatakan sebagai juara ke-3 Lomba Menulis Biografi Ibu yang diadakan oleh Majalah Matan, milik Muhammadiyah Jawa Timur. Saya tak lupa mengucapkan syukur pada Allah juga terima kasih pada mbak yang mengabarkan hal itu. Ini bisa jadi kado terindah di akhir tahun 2009 yang saya terima. Sebab, sejak pagi hari, saya berkutat dengan tugas-tugas kuliah yang tak jua kunjung selesai.
Allahu Akbar! Teringat saya pada tulisan sebelumnya. Itulah tulisan yang saya kirimkan dalam lomba tersebut. Awalnya, saya menyangka tulisan saya tidak menang, sebab info lomba menyatakan bahwa pemenang akan diumumkan pada tanggal 22 Desember *apa memang sudah diumumkan pada tanggal tersebut, namun via majalahnya ya?* Sehingga, saya pun tidak berminat lagi melihat-lihat naskah tersebut. Akan tetapi, karena saya menganggapnya bernasib sama dengan naskah cerpen ibu - yang tidak berhasil menang di tangan Penerbit Serambi - maka saya pun bersemangat untuk menampilkannya di blog ini.
Namun, Allah rupanya hanya ingin menguji kesabaran saya. Ya, saya saja yang memang kurang bersabar dan ikhlas. Hingga Allah menegur saya lewat kemenangan ini. Bahwa, saya meskipun menang, namun memiliki tugas yang cukup berat, yakni mempertanggungjawabkan isi tulisan saya tersebut, baik bagi diri saya sendiri, maupun bagi publik. Semoga tidak ada yang keliru dan menyesatkan dari tulisan saya tersebut. Amiiin...
Akhir kata, Selamat Tahun Baru 2010 Masehi! Semoga saya bisa rajin meng-update blog ini. Amiiin... :)
Akhirnya, tiba juga tahun baru dengan kombinasi angka yang cukup unik ini. 2010. Ada beberapa hal yang ingin saya tuliskan dan bagi di sini. Tentu saja temanya tidak jauh-jauh dengan apa yang menjadi judul blog ini. Yup, ibu!
Sore tadi, ketika sedang asyik browsing di ruang publik perpustakaan, tiba-tiba hp saya bergetar. Tertera nomor berkode Surabaya. Tanpa menunggu pertimbangan ini itu, langsung saya angkat.
Intinya, saya dinyatakan sebagai juara ke-3 Lomba Menulis Biografi Ibu yang diadakan oleh Majalah Matan, milik Muhammadiyah Jawa Timur. Saya tak lupa mengucapkan syukur pada Allah juga terima kasih pada mbak yang mengabarkan hal itu. Ini bisa jadi kado terindah di akhir tahun 2009 yang saya terima. Sebab, sejak pagi hari, saya berkutat dengan tugas-tugas kuliah yang tak jua kunjung selesai.
Allahu Akbar! Teringat saya pada tulisan sebelumnya. Itulah tulisan yang saya kirimkan dalam lomba tersebut. Awalnya, saya menyangka tulisan saya tidak menang, sebab info lomba menyatakan bahwa pemenang akan diumumkan pada tanggal 22 Desember *apa memang sudah diumumkan pada tanggal tersebut, namun via majalahnya ya?* Sehingga, saya pun tidak berminat lagi melihat-lihat naskah tersebut. Akan tetapi, karena saya menganggapnya bernasib sama dengan naskah cerpen ibu - yang tidak berhasil menang di tangan Penerbit Serambi - maka saya pun bersemangat untuk menampilkannya di blog ini.
Namun, Allah rupanya hanya ingin menguji kesabaran saya. Ya, saya saja yang memang kurang bersabar dan ikhlas. Hingga Allah menegur saya lewat kemenangan ini. Bahwa, saya meskipun menang, namun memiliki tugas yang cukup berat, yakni mempertanggungjawabkan isi tulisan saya tersebut, baik bagi diri saya sendiri, maupun bagi publik. Semoga tidak ada yang keliru dan menyesatkan dari tulisan saya tersebut. Amiiin...
Akhir kata, Selamat Tahun Baru 2010 Masehi! Semoga saya bisa rajin meng-update blog ini. Amiiin... :)
29 Desember 2009
Ibu: Teman Sebangku Adik Bungsuku
*Tulisan ini saya ikutkan Lomba Menulis Kisah Pendek yang diadakan oleh Penerbit Serambi. Alhamdulillah... belum berhasil menggeret hadiah bukunya*
Aku yakin, ibuku lebih dari sekadar perempuan biasa. Beliau perempuan tangguh, fisik juga batin. Bagaimana tidak? Beliau mampu melahirkan sepuluh jiwa, meski yang bertahan hingga sekarang hanya sembilan. Jika main hitung-hitungan, entah berapa banyak yang beliau korbankan, jiwa dan raga, untuk kesemua anak-anaknya? Tak terhitung. Aku sendiri sering alpa, hanya mampu mengingat sepersekian saja dari total jasa beliau selama hidupnya.
Dan, dari sepersekian itu ada satu kisah yang tidak akan bisa aku lupakan seumur hidup. Kisah yang menjadi sumur hikmah bagiku bahwa pendidikan itu perlu mendapat prioritas. Bagaimanapun kondisi kita, sebisa mungkin, penguasaan ilmu dinomorsatukan. Sebab, ilmu akan menjadi panduan hidup di dunia. Ilmu pula yang nantinya akan mendatangkan kebaikan-kebaikan dan kebahagiaan hingga akhirat nanti.
Kisahnya…
Arif, adik bungsuku yang termasuk keras kepala. Lebih tepatnya, dia takut masuk Madrasah Ibtidaiyah. Memang, pengalaman ‘sekolah’nya hanya di rumah saja. Ibuku yang langsung mengajarkan baca tulis. Dan, sekali lagi. Hanya ibuku yang dia inginkan menjadi gurunya. Bukan kami, para kakaknya.
Ketika Arif dianggap sudah cukup umur, yakni enam tahun, maka orang tua kami mendaftarkannya di Madrasah Ibtidaiyah. Dia tidak menolak. Namun, pada hari-H, yakni hari pertama masuk sekolah, Arif memunculkan sikap aslinya. Dia mengeluarkan protes lewat sikap dan tangisan cengeng, “AKU MAU SEKOLAH KALAU IBU JUGA IKUT BERSAMAKU.”
Kami, para kakaknya, hanya bisa menawarkan untuk mengantarkan dia ke sekolah. Namun, dia memberontak. Tidak mau. Bapak sendiri, tidak mungkin. Sebab, beliau harus berangkat ke kantor. Toh, beliau juga tidak bisa mengantarkan si bungsu ini karena beliau memang tidak bisa mengendarai sepeda motor ataupun menyetir (bahkan, kami pun belum punya mobil saat itu – tahun 2000).
Melihat alternatif-alternatif yang tidak mungkin dijalankan, ibu pun mengambil inisiatif. Beliau sendiri yang mengantarkan si Arif, naik delman tiap hari. Ibu sepertinya mampu membaca psikologis Arif yang kurang siap dengan suasana sekolah. Beliau merasa perlu menemani Arif bisa beradaptasi dan bisa dilepas sendiri di lingkungan barunya.
Tiga hari pertama, ibu masih setia menemani Arif. Tentu saja jadwal ibu menjadi sedikit berantakan karena aktivitas memasak, mencuci, belanja ke pasar, dan mengurus rumah menjadi agak siang dilakukan. Namun, ibu menjalaninya dengan penuh kesabaran. Demi Arif. Demi anak bungsunya itu agar nyaman dengan sekolah.
Lalu, pada hari-hari berikutnya, ibu pun membujuk Arif agar mau berangkat sendiri ke sekolah. Tarif uang saku dinaikkan, tidak juga mempan. Diantar tiap hari pakai motor ke sekolah, sangat tidak ampuh. Apa maunya? Harus selalu bersama ibu. Tidak boleh tidak. Jika keinginannya tidak digubris, mogok sekolah pun dilancarkan.
Tentu saja ibu, bapak, dan juga kami – para kakaknya – tidak menginginkan hal itu terjadi. Lagi-lagi, ibu pun mengalah. Demi Arif.
Dan, kami tidak menyangka, ternyata dewan guru di sekolahnya Arif memprotes kehadiran ibu yang selalu menemani Arif belajar di kelas. Ya, ibu harus duduk satu bangku dengan si bungsu, Arif. Dari jam pertama hingga pulang. Di rumah, ibu bercerita pada kami kalau beliau sebenarnya malu harus duduk sebangku dengan Arif. Beliau juga tidak ‘enak’ dengan reriuhan para guru. Bahkan, salah satu guru perempuan memberikan ultimatum untuk tidak mau mengajar jika ibu tetap mengantar Arif ke sekolah dan duduk sebangku. Ibu berada dalam dilema.
Arif belum mampu memahami keadaan. Ibu pun berlapang dada. Satu caturwulan bertahan, kami sekeluarga menyarankan pada Arif agar dipindahkan saja ke SD 4 Pancor. Kebetulan adik kami yang terkecil kedua, yakni Ofah, juga bersekolah di situ. Nanti, dia bisa menemani si Arif berangkat bersama ke sekolah. Juga salah seorang bibiku menjadi guru di SD tersebut.
Sepertinya mulai bisa membaca kondisi, Arif pun mau. Kami menghela napas lega. Ibu pun bisa menjadi ringan bebannya.
Kini, meskipun beliau telah berada di sisi-Nya, kami yakin beliau tengah senyum bahagia melihat Arif tumbuh menjadi anak kelas 2 Madrasah Tsanawiyah yang mandiri, aktif organisasi, tekun belajar, serta rajin mengaji. Benih keyakinan bahwa perjuangan ibu tak sia-sia, mulai menampakkan hasilnya.
Alhamdulillah!
Aku yakin, ibuku lebih dari sekadar perempuan biasa. Beliau perempuan tangguh, fisik juga batin. Bagaimana tidak? Beliau mampu melahirkan sepuluh jiwa, meski yang bertahan hingga sekarang hanya sembilan. Jika main hitung-hitungan, entah berapa banyak yang beliau korbankan, jiwa dan raga, untuk kesemua anak-anaknya? Tak terhitung. Aku sendiri sering alpa, hanya mampu mengingat sepersekian saja dari total jasa beliau selama hidupnya.
Dan, dari sepersekian itu ada satu kisah yang tidak akan bisa aku lupakan seumur hidup. Kisah yang menjadi sumur hikmah bagiku bahwa pendidikan itu perlu mendapat prioritas. Bagaimanapun kondisi kita, sebisa mungkin, penguasaan ilmu dinomorsatukan. Sebab, ilmu akan menjadi panduan hidup di dunia. Ilmu pula yang nantinya akan mendatangkan kebaikan-kebaikan dan kebahagiaan hingga akhirat nanti.
Kisahnya…
Arif, adik bungsuku yang termasuk keras kepala. Lebih tepatnya, dia takut masuk Madrasah Ibtidaiyah. Memang, pengalaman ‘sekolah’nya hanya di rumah saja. Ibuku yang langsung mengajarkan baca tulis. Dan, sekali lagi. Hanya ibuku yang dia inginkan menjadi gurunya. Bukan kami, para kakaknya.
Ketika Arif dianggap sudah cukup umur, yakni enam tahun, maka orang tua kami mendaftarkannya di Madrasah Ibtidaiyah. Dia tidak menolak. Namun, pada hari-H, yakni hari pertama masuk sekolah, Arif memunculkan sikap aslinya. Dia mengeluarkan protes lewat sikap dan tangisan cengeng, “AKU MAU SEKOLAH KALAU IBU JUGA IKUT BERSAMAKU.”
Kami, para kakaknya, hanya bisa menawarkan untuk mengantarkan dia ke sekolah. Namun, dia memberontak. Tidak mau. Bapak sendiri, tidak mungkin. Sebab, beliau harus berangkat ke kantor. Toh, beliau juga tidak bisa mengantarkan si bungsu ini karena beliau memang tidak bisa mengendarai sepeda motor ataupun menyetir (bahkan, kami pun belum punya mobil saat itu – tahun 2000).
Melihat alternatif-alternatif yang tidak mungkin dijalankan, ibu pun mengambil inisiatif. Beliau sendiri yang mengantarkan si Arif, naik delman tiap hari. Ibu sepertinya mampu membaca psikologis Arif yang kurang siap dengan suasana sekolah. Beliau merasa perlu menemani Arif bisa beradaptasi dan bisa dilepas sendiri di lingkungan barunya.
Tiga hari pertama, ibu masih setia menemani Arif. Tentu saja jadwal ibu menjadi sedikit berantakan karena aktivitas memasak, mencuci, belanja ke pasar, dan mengurus rumah menjadi agak siang dilakukan. Namun, ibu menjalaninya dengan penuh kesabaran. Demi Arif. Demi anak bungsunya itu agar nyaman dengan sekolah.
Lalu, pada hari-hari berikutnya, ibu pun membujuk Arif agar mau berangkat sendiri ke sekolah. Tarif uang saku dinaikkan, tidak juga mempan. Diantar tiap hari pakai motor ke sekolah, sangat tidak ampuh. Apa maunya? Harus selalu bersama ibu. Tidak boleh tidak. Jika keinginannya tidak digubris, mogok sekolah pun dilancarkan.
Tentu saja ibu, bapak, dan juga kami – para kakaknya – tidak menginginkan hal itu terjadi. Lagi-lagi, ibu pun mengalah. Demi Arif.
Dan, kami tidak menyangka, ternyata dewan guru di sekolahnya Arif memprotes kehadiran ibu yang selalu menemani Arif belajar di kelas. Ya, ibu harus duduk satu bangku dengan si bungsu, Arif. Dari jam pertama hingga pulang. Di rumah, ibu bercerita pada kami kalau beliau sebenarnya malu harus duduk sebangku dengan Arif. Beliau juga tidak ‘enak’ dengan reriuhan para guru. Bahkan, salah satu guru perempuan memberikan ultimatum untuk tidak mau mengajar jika ibu tetap mengantar Arif ke sekolah dan duduk sebangku. Ibu berada dalam dilema.
Arif belum mampu memahami keadaan. Ibu pun berlapang dada. Satu caturwulan bertahan, kami sekeluarga menyarankan pada Arif agar dipindahkan saja ke SD 4 Pancor. Kebetulan adik kami yang terkecil kedua, yakni Ofah, juga bersekolah di situ. Nanti, dia bisa menemani si Arif berangkat bersama ke sekolah. Juga salah seorang bibiku menjadi guru di SD tersebut.
Sepertinya mulai bisa membaca kondisi, Arif pun mau. Kami menghela napas lega. Ibu pun bisa menjadi ringan bebannya.
Kini, meskipun beliau telah berada di sisi-Nya, kami yakin beliau tengah senyum bahagia melihat Arif tumbuh menjadi anak kelas 2 Madrasah Tsanawiyah yang mandiri, aktif organisasi, tekun belajar, serta rajin mengaji. Benih keyakinan bahwa perjuangan ibu tak sia-sia, mulai menampakkan hasilnya.
Alhamdulillah!
11 September 2008
Aku Cinta Kau dan Ramadhan
Sudah hampir tiga bulan aku vakum menulis di blog ini. Aku kembali. Ingin kembali menulis. Tentang bundaku. Tentang aku dan beliau.
Ini bulan Ramadhan. Banyak kenanganku dengan beliau yang berlatar belakang bulan nan suci ini. Ingin aku ceritakan di sini. Ingin aku bagi.
Singkat saja. Aku tak punya waktu untuk menulis panjang-panjang. Yeah, sekadar pemanasan saja. Sekadar pemancing. Agar ke depannya ide-ideku lebih banyak lagi yang mengalir. Menulisi beliau.
Aku ingat sekali. Buka puasa kami tak pernah lepas dari pelecing, masakan khas Sasak. Tiap hari selama bulan Ramadhan, makanan ini menjadi menu buka wajib ada. Meskipun bukan hanya kami saja yang menyantapnya, namun beliau juga mengirimkannya untuk para tetangga. Aku dan adikku yang kebagian tugas untuk berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya. Mengantar menu berbuka.
Pedas memang. Masakan berbahan dasar kangkung ini cukup melecut lidah. Sebenarnya, kurang cocok dijadikan menu. Sebab, perut yang lama kosong melompong harus diisi dengan rasa pedas. Tapi, sejauh ini, perut kami aman-aman saja. Tiada mencret atau apa.
Ketupat adalah teman makan pelecing. Ini satu yang unik lagi. Biasanya orang-orang di Indonesia membuat ketupat hanya untuk dimakan di Hari Raya saja. Namun, tidak dengan kami. Selama Ramadhan, kami membuat ketupat dari janur kelapa. Aku pun bisa loh membuatnya. Belajar dari ibuku. Tiap pulang sekolah, aku meluangkan waktu untuk membentuk janur kuning atau hijau itu menjadi ketupat. Keesokan paginya, ibuku akan mengisinya dengan beras. Lalu, ditanaklah di dalam panci di atas tungku tanah liat. Siangnya, baru masak.
Mengingat itu semua, aku jadi kangen. Kangen dengan masakan ibuku. kangen dengan ketupat yang kami bikin. Kangen dengan pelecing dan urap yang saban sore selama Ramadhan selalu dibikin oleh ibuku.
Ramadhan tanpa beliau.
Ramadhan yang akan selalu coba untuk kujalani dengan sabar.
Ibu... aku cinta Kau dan Ramadhan...
Surabaya, 11 September 2008
Ini bulan Ramadhan. Banyak kenanganku dengan beliau yang berlatar belakang bulan nan suci ini. Ingin aku ceritakan di sini. Ingin aku bagi.
Singkat saja. Aku tak punya waktu untuk menulis panjang-panjang. Yeah, sekadar pemanasan saja. Sekadar pemancing. Agar ke depannya ide-ideku lebih banyak lagi yang mengalir. Menulisi beliau.
Aku ingat sekali. Buka puasa kami tak pernah lepas dari pelecing, masakan khas Sasak. Tiap hari selama bulan Ramadhan, makanan ini menjadi menu buka wajib ada. Meskipun bukan hanya kami saja yang menyantapnya, namun beliau juga mengirimkannya untuk para tetangga. Aku dan adikku yang kebagian tugas untuk berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya. Mengantar menu berbuka.
Pedas memang. Masakan berbahan dasar kangkung ini cukup melecut lidah. Sebenarnya, kurang cocok dijadikan menu. Sebab, perut yang lama kosong melompong harus diisi dengan rasa pedas. Tapi, sejauh ini, perut kami aman-aman saja. Tiada mencret atau apa.
Ketupat adalah teman makan pelecing. Ini satu yang unik lagi. Biasanya orang-orang di Indonesia membuat ketupat hanya untuk dimakan di Hari Raya saja. Namun, tidak dengan kami. Selama Ramadhan, kami membuat ketupat dari janur kelapa. Aku pun bisa loh membuatnya. Belajar dari ibuku. Tiap pulang sekolah, aku meluangkan waktu untuk membentuk janur kuning atau hijau itu menjadi ketupat. Keesokan paginya, ibuku akan mengisinya dengan beras. Lalu, ditanaklah di dalam panci di atas tungku tanah liat. Siangnya, baru masak.
Mengingat itu semua, aku jadi kangen. Kangen dengan masakan ibuku. kangen dengan ketupat yang kami bikin. Kangen dengan pelecing dan urap yang saban sore selama Ramadhan selalu dibikin oleh ibuku.
Ramadhan tanpa beliau.
Ramadhan yang akan selalu coba untuk kujalani dengan sabar.
Ibu... aku cinta Kau dan Ramadhan...
Surabaya, 11 September 2008
16 Juni 2008
Satu by Dewa: Episode Biru Saya
(baca tulisan saya ini sambil dengerin Satu-nya Dewa)
Aku ini adalah dirimu
Cinta ini adalah cintamu
Aku ini adalah dirimu
Jiwa ini adalah jiwamu
Rindu ini adalah rindumu
Darah ini adalah darahmu
Reff:
Tak ada yang lain
Selain dirimu
Yang selalu kupuja
Kusebut namamu
Di setiap hembusan napasku
Kusebut namamu 2x
Dengan tanganmu
Aku menyentuh
Dengan kakimu
Aku berjalan
Dengan matamu
Aku memandang
Dengan telingamu
Aku mendengar
Dengan lidahmu
Aku bicara
Dengan hatimu
Aku merasa
Back to reff:
SATU…
Lagu dari album Laskar Cinta ini membuat saya merinding tiap kali mendengarnya. Ada chemistry yang membuat bulu kuduk berdiri. Tidak lain dan tak bukan sebab BUNDA SUDAH TIDAK LAGI DI SINI. Ia sudah ada di sana. Bersemayam di dalam Rahim-Nya.
Saya tidak akan pernah lupa. Beliau telah meninggalkan kami tiga tahun yang lalu, tepat di bulan Juli. Saat itu saya masih kelas dua SMA, mau naik kelas tiga. Belum pula genap sebulan saya merayakan ulang tahun yang jatuh di bulan Juni. Saat di mana saya sedang butuh-butuhnya kiriman doa, bingkisan dukungan, dan pompaan semangat menjelang UNAS.
Ah… Allah punya rencana yang jauh lebih baik dari yang dikira hamba-Nya.
Saat itu rumah kami diselimuti awan duka yang begitu tebal. Jika saya sedang berada di kamar beliau, seringkali saya merasa beliau ada di sana. Jika saya sedang melamun, seringkali beliulah yang saya lamunkan. Jika saya sedang berdoa, wajah beliaulah yang sering muncul.
Namun, belakangan ini, setelah kami pindah rumah, setelah saya kuliah di Tanah Jawa, setelah saya mulai digeogoti kesibukan dunia, perlahan-lahan rindu itu memudar. Rindu pada ibu memudar. Rindu untuk membacakan yasin padanya tiap malam Jumat. Rindu untuk mendoakannya secara khusyu’ tiap habis shalat. Rindu untuk mengenangnya lewat renungan-renungan. Rindu itu…memudar, Kawan!
Saya merasa mulai jadi anak yang kurang lancang. Mana mungkin doa saya tersampaikan padanya jika saya sendiri menjauhkan diri dari predikat ‘anak shaleh’. Bagaimana mungkin doa saya bisa terkirim jika saya sendiri seringkali berbuat dosa. Bagaimana mungkin?
Namun, saya yakin Allah takkan membiarkan saya begini selamanya. Saya meyakini hal itu dengan mengacu pada beberapa hal. Pertama, tiap kali melihat seorang ibu tua atau juga nenek-nenek di jalanan, maka saya pasti akan teringat dengan sosok ibu saya.
Kedua, tiap kali saya melihat atau membaca atau mendengar cerita yang ada peran ibunya dalam karakter sederhana, maka saya akan mengingat sosok almarhumah ibu saya.
Ketiga, tiap kali mendengar lagu Satu-nya Dewa, saya akan ingat bagaimana lagu ini diputar di televisi, menemani hari-hari kami selama menjaga ibu di rumah sakit. Sebuah lagu dengan makna dalam dan sangat menyentuh. Tak heran jika saya akan selalu ingat ibu jika mendengarkan lagu ini.
Keempat, blog inilah salah satu reminder bagi saya. Pengingat saya. Bahwa saya takkan membiarkan sosok almarhumah ibu saya menghilang, lenyap begitu saja dari kaset ingatan saya. Saya ingin merekam beliau dan mengenangnya lewat tulisan-tulisan saya di blog ini.
Namun, di antara keempat jalur ‘pengingatan’ sosok bernama Muslimah, ibu saya, maka yang lebih sering mengena dan langsung ber-chemistry dengan hati saya adalah… saat mendengarkan Satu-nya Dewa…
Surabaya, 16 Juni 2008
Aku ini adalah dirimu
Cinta ini adalah cintamu
Aku ini adalah dirimu
Jiwa ini adalah jiwamu
Rindu ini adalah rindumu
Darah ini adalah darahmu
Reff:
Tak ada yang lain
Selain dirimu
Yang selalu kupuja
Kusebut namamu
Di setiap hembusan napasku
Kusebut namamu 2x
Dengan tanganmu
Aku menyentuh
Dengan kakimu
Aku berjalan
Dengan matamu
Aku memandang
Dengan telingamu
Aku mendengar
Dengan lidahmu
Aku bicara
Dengan hatimu
Aku merasa
Back to reff:
SATU…
Lagu dari album Laskar Cinta ini membuat saya merinding tiap kali mendengarnya. Ada chemistry yang membuat bulu kuduk berdiri. Tidak lain dan tak bukan sebab BUNDA SUDAH TIDAK LAGI DI SINI. Ia sudah ada di sana. Bersemayam di dalam Rahim-Nya.
Saya tidak akan pernah lupa. Beliau telah meninggalkan kami tiga tahun yang lalu, tepat di bulan Juli. Saat itu saya masih kelas dua SMA, mau naik kelas tiga. Belum pula genap sebulan saya merayakan ulang tahun yang jatuh di bulan Juni. Saat di mana saya sedang butuh-butuhnya kiriman doa, bingkisan dukungan, dan pompaan semangat menjelang UNAS.
Ah… Allah punya rencana yang jauh lebih baik dari yang dikira hamba-Nya.
Saat itu rumah kami diselimuti awan duka yang begitu tebal. Jika saya sedang berada di kamar beliau, seringkali saya merasa beliau ada di sana. Jika saya sedang melamun, seringkali beliulah yang saya lamunkan. Jika saya sedang berdoa, wajah beliaulah yang sering muncul.
Namun, belakangan ini, setelah kami pindah rumah, setelah saya kuliah di Tanah Jawa, setelah saya mulai digeogoti kesibukan dunia, perlahan-lahan rindu itu memudar. Rindu pada ibu memudar. Rindu untuk membacakan yasin padanya tiap malam Jumat. Rindu untuk mendoakannya secara khusyu’ tiap habis shalat. Rindu untuk mengenangnya lewat renungan-renungan. Rindu itu…memudar, Kawan!
Saya merasa mulai jadi anak yang kurang lancang. Mana mungkin doa saya tersampaikan padanya jika saya sendiri menjauhkan diri dari predikat ‘anak shaleh’. Bagaimana mungkin doa saya bisa terkirim jika saya sendiri seringkali berbuat dosa. Bagaimana mungkin?
Namun, saya yakin Allah takkan membiarkan saya begini selamanya. Saya meyakini hal itu dengan mengacu pada beberapa hal. Pertama, tiap kali melihat seorang ibu tua atau juga nenek-nenek di jalanan, maka saya pasti akan teringat dengan sosok ibu saya.
Kedua, tiap kali saya melihat atau membaca atau mendengar cerita yang ada peran ibunya dalam karakter sederhana, maka saya akan mengingat sosok almarhumah ibu saya.
Ketiga, tiap kali mendengar lagu Satu-nya Dewa, saya akan ingat bagaimana lagu ini diputar di televisi, menemani hari-hari kami selama menjaga ibu di rumah sakit. Sebuah lagu dengan makna dalam dan sangat menyentuh. Tak heran jika saya akan selalu ingat ibu jika mendengarkan lagu ini.
Keempat, blog inilah salah satu reminder bagi saya. Pengingat saya. Bahwa saya takkan membiarkan sosok almarhumah ibu saya menghilang, lenyap begitu saja dari kaset ingatan saya. Saya ingin merekam beliau dan mengenangnya lewat tulisan-tulisan saya di blog ini.
Namun, di antara keempat jalur ‘pengingatan’ sosok bernama Muslimah, ibu saya, maka yang lebih sering mengena dan langsung ber-chemistry dengan hati saya adalah… saat mendengarkan Satu-nya Dewa…
Surabaya, 16 Juni 2008
Bunda dalam Badai Damai
Dalam badai, aku tersenyum.
Bundaku terlelap subuh tadi.
Ada galau menguntit,
Namun berusaha aku halau.
Ada marah mengintip,
Namun berusaha aku tepis.
Aku saksikan waktu beku
Aku saksikan biru membatu
Namun, ah... semua sudah tentu
Tak perlu diharu-deru.
Bunda...
Aku rela kau dalam badai-Nya
Badai damai...
Bundaku terlelap subuh tadi.
Ada galau menguntit,
Namun berusaha aku halau.
Ada marah mengintip,
Namun berusaha aku tepis.
Aku saksikan waktu beku
Aku saksikan biru membatu
Namun, ah... semua sudah tentu
Tak perlu diharu-deru.
Bunda...
Aku rela kau dalam badai-Nya
Badai damai...
30 Mei 2008
Membantah Ibu
Masa Madrasah dulu, aku terbilang anak yang lumayan pembantah. Tak hanya perkataan guruku pernah kubantah – yang bahkan menjadi bumerang bagiku karena beliau sampai menangis dan aku kena hukum – tapi, terlebih lagi orang tuaku. Sudah dikenal seantero rumah kalau aku memang hobi membantah alias penimbalan (red, Sasak).
Ibuku apalagi.
Beliau menyuruhku mengerjakan ini, kutolak dengan argumen itu. Beliau memintaku mengambilkan ini, tak kugubris. Beliau menginginkanku seperti ini, tak jua kuturuti.
Bukan aku saja yang berperilaku demikian. Kakak dan adikku, terutama yang laki-laki memang lebih suka membantah daripada saudaraku yang perempuan. Itu saat kami masih kecil-kecil. Usia SD-SMP lah. Tapi, beranjak dewasa, perlahan sifat itu meluntur dengan sendirinya.
Sempat aku bertanya pada diri sendiri: Apakah setiap anak memang di’wajib’kan melewati masa pembantahan seperti itu?
Sebab, rata-rata anak kecil, apalagi zaman sekarang ini, sudah tidak terlalu hormat pada orang tuanya. Malahan, mereka suka main perintah pada ibu bapaknya. Menunjuk pakai tangan kiri. Adat bicara sudah tidak diindahkan lagi. Berseliweran di depan orang yang lebih tua tanpa sopan santun. Apakah memang begitu yang harus mereka alami, meskipun dulunya aku tidak seekstrem mereka?
Di sini kita tidak mencari kambing hitam. Kalau pun itu merupakan suatu hal yang wajar, tapi sewajar apakah? Jangan-jangan, karena kita punya anggapan bahwa perilaku anak-anak yang seperti itu adalah wajar, terus orang tuanya pun membiarkan? Ntar bakal nyadar sendiri, kok... Oya? Kalau anak-anak mereka tidak nyadar, gimana?
Aku dulu jikalau berbuat kurang sopan pada orang tua, membantah misalnya, aku pasti dapat hukuman. Minimal teguran atau tepatnya, omelan. Bahkan ancaman juga, semisalnya, dikurangi uang jajan. Efeknya? Aku jadi tahu, kalau ternyata membantah itu tidak baik.
Ada saat-saatnya memang kita harus membantah. Misalnya, kalau orang tua menyuruh kita melakukan perbuatan yang melanggar agama, minum minuman keras, berzina, atau menyekutukan Tuhan. Sebagai anak, kita harus membantah. Tentu saja, kita tidak lantas memusuhi mereka gara-gara perintah mereka di luar batas agama itu. Kita tetap diwajibkan untuk berperilaku baik, bertutur sopan, dan berbakti padanya. Sekalipun kita berseberangan keyakinan dengan mereka!
Tapi, Alhamdulillah... hubungan saya dengan orang tua tidak sampai seekstrem itu. Palingan hanya penyakit membantah saja yang paling sering kumat. Itu pun frekuensinya berkurang seiring dengan bertambahnya usia saya. Sebab, bagaimana pun sebagai manusia kita akan mengalami transformasi. Syukur kalau transformasinya menjadi insan yang lebih baik dari hari ke hari.
Jadi, kita tak perlu risau dong dengan kondisi anak sekarang? Bukan! Bukan itu maksud saya dengan esensi transformasi ini! Yang namanya proses, pasti akan tetap dipengaruhi oleh lingkungan eksternal si anak juga. Nah, di sinilah keluarga memegang peranan penting. Kunci baik tidaknya moral dan akhlak anak, tergantung bagaimana orang tua memberi didikan. Yang paling penting, tentu saja contoh. Teladan. Anak-anak butuh sosok yang perlu mereka teladani? Kalau bukan contoh baik dari orang tua, terus siapa lagi???
Surabaya, 30 Mei 2008
Ibuku apalagi.
Beliau menyuruhku mengerjakan ini, kutolak dengan argumen itu. Beliau memintaku mengambilkan ini, tak kugubris. Beliau menginginkanku seperti ini, tak jua kuturuti.
Bukan aku saja yang berperilaku demikian. Kakak dan adikku, terutama yang laki-laki memang lebih suka membantah daripada saudaraku yang perempuan. Itu saat kami masih kecil-kecil. Usia SD-SMP lah. Tapi, beranjak dewasa, perlahan sifat itu meluntur dengan sendirinya.
Sempat aku bertanya pada diri sendiri: Apakah setiap anak memang di’wajib’kan melewati masa pembantahan seperti itu?
Sebab, rata-rata anak kecil, apalagi zaman sekarang ini, sudah tidak terlalu hormat pada orang tuanya. Malahan, mereka suka main perintah pada ibu bapaknya. Menunjuk pakai tangan kiri. Adat bicara sudah tidak diindahkan lagi. Berseliweran di depan orang yang lebih tua tanpa sopan santun. Apakah memang begitu yang harus mereka alami, meskipun dulunya aku tidak seekstrem mereka?
Di sini kita tidak mencari kambing hitam. Kalau pun itu merupakan suatu hal yang wajar, tapi sewajar apakah? Jangan-jangan, karena kita punya anggapan bahwa perilaku anak-anak yang seperti itu adalah wajar, terus orang tuanya pun membiarkan? Ntar bakal nyadar sendiri, kok... Oya? Kalau anak-anak mereka tidak nyadar, gimana?
Aku dulu jikalau berbuat kurang sopan pada orang tua, membantah misalnya, aku pasti dapat hukuman. Minimal teguran atau tepatnya, omelan. Bahkan ancaman juga, semisalnya, dikurangi uang jajan. Efeknya? Aku jadi tahu, kalau ternyata membantah itu tidak baik.
Ada saat-saatnya memang kita harus membantah. Misalnya, kalau orang tua menyuruh kita melakukan perbuatan yang melanggar agama, minum minuman keras, berzina, atau menyekutukan Tuhan. Sebagai anak, kita harus membantah. Tentu saja, kita tidak lantas memusuhi mereka gara-gara perintah mereka di luar batas agama itu. Kita tetap diwajibkan untuk berperilaku baik, bertutur sopan, dan berbakti padanya. Sekalipun kita berseberangan keyakinan dengan mereka!
Tapi, Alhamdulillah... hubungan saya dengan orang tua tidak sampai seekstrem itu. Palingan hanya penyakit membantah saja yang paling sering kumat. Itu pun frekuensinya berkurang seiring dengan bertambahnya usia saya. Sebab, bagaimana pun sebagai manusia kita akan mengalami transformasi. Syukur kalau transformasinya menjadi insan yang lebih baik dari hari ke hari.
Jadi, kita tak perlu risau dong dengan kondisi anak sekarang? Bukan! Bukan itu maksud saya dengan esensi transformasi ini! Yang namanya proses, pasti akan tetap dipengaruhi oleh lingkungan eksternal si anak juga. Nah, di sinilah keluarga memegang peranan penting. Kunci baik tidaknya moral dan akhlak anak, tergantung bagaimana orang tua memberi didikan. Yang paling penting, tentu saja contoh. Teladan. Anak-anak butuh sosok yang perlu mereka teladani? Kalau bukan contoh baik dari orang tua, terus siapa lagi???
Surabaya, 30 Mei 2008
29 Mei 2008
Seandainya Anakku Menang Millionaire...
Itulah kata yang sering terucap dari bibir ibuku tiap kali kami nonton mega kuis yang dibawakan oleh Tantowi Yahya itu. Termasuk acara favorit keluargaku saban malam minggu. Kami akan berlomba-lomba untuk menebak jawabannya. Ikut tegang, harap-harap cemas, deg-degan, gembira, dan melenguh panjang. Seolah-olah kami larut dalam acara berhadiah satu milyar itu.
Jujur, aku suka kuis ini. Soal-soalnya menantang. Bukan aku saja yang bangga jika tebakan jawabanku benar. Kakak adik, bapak, dan ibuku pun akan ikut senang. Apalagi jika peserta kuisnya mampu menembus level 32 juta atau bahkan bisa meraih setengah milyar – plus aku ikutan pula menebak dan benar – maka, judul tulisan inilah yang akan dilontarkan oleh ibuku.
Lagi-lagi ibuku...
Perempuan yang aku yakini, sangat makbul doanya. Perempuan yang dibawah telapak kakinya terdapat surga. Perempuan yang amat sangat berarti bagiku. Perempuan yang setelah dia tiada, bagiku langit seolah-olah runtuh.
Beliau, ibuku, berharap sekali suatu ketika nanti aku bisa ikutan Who Wants To Be A Millionaire dan menang, tentu saja. Hadiahnya yang berupa uang itu pun akan aku serahkan ke ibu untuk biayanya naik haji ke Tanah Suci. Itu asanya.
Naik haji dengan duit hadiah kuis...
Betapa aku berandai-andai, jikalau itu bisa terwujud. Pasti ibuku senang. Dan kegembiraan itulah yang ingin aku persembahkan pada beliau. Meski itu masih belum seberapa dibandingkan dengan pengorbanan beliau sebagai seorang ibu. Yang penting sudah mencoba untuk berbakti.
Semua tinggallah mimpi...
Meski Who Wants To Be A Millionaire sudah tutup layar dan kuis-kuis sejenisnya masih banyak berseliweran di layar kaca, namun semua tinggal asa. Orang yang kucitakan akan kupersembahkan hadiah itu padanya – seandainya aku ikutan dan menang – kini sudah tiada. Titel hajjah pun belum terpasang. Duluan terbenam dalam tanah.
Tapi, syukur Alhamdulillah... beliau sudah di-haji-badal-kan oleh bapak. Semoga purna rukun Islam beliau. Hanya itu pintaku pada Yang Maha Pencinta hamba-hambaNya yang beriman...
Surabaya, 28 Mei 2008
Jujur, aku suka kuis ini. Soal-soalnya menantang. Bukan aku saja yang bangga jika tebakan jawabanku benar. Kakak adik, bapak, dan ibuku pun akan ikut senang. Apalagi jika peserta kuisnya mampu menembus level 32 juta atau bahkan bisa meraih setengah milyar – plus aku ikutan pula menebak dan benar – maka, judul tulisan inilah yang akan dilontarkan oleh ibuku.
Lagi-lagi ibuku...
Perempuan yang aku yakini, sangat makbul doanya. Perempuan yang dibawah telapak kakinya terdapat surga. Perempuan yang amat sangat berarti bagiku. Perempuan yang setelah dia tiada, bagiku langit seolah-olah runtuh.
Beliau, ibuku, berharap sekali suatu ketika nanti aku bisa ikutan Who Wants To Be A Millionaire dan menang, tentu saja. Hadiahnya yang berupa uang itu pun akan aku serahkan ke ibu untuk biayanya naik haji ke Tanah Suci. Itu asanya.
Naik haji dengan duit hadiah kuis...
Betapa aku berandai-andai, jikalau itu bisa terwujud. Pasti ibuku senang. Dan kegembiraan itulah yang ingin aku persembahkan pada beliau. Meski itu masih belum seberapa dibandingkan dengan pengorbanan beliau sebagai seorang ibu. Yang penting sudah mencoba untuk berbakti.
Semua tinggallah mimpi...
Meski Who Wants To Be A Millionaire sudah tutup layar dan kuis-kuis sejenisnya masih banyak berseliweran di layar kaca, namun semua tinggal asa. Orang yang kucitakan akan kupersembahkan hadiah itu padanya – seandainya aku ikutan dan menang – kini sudah tiada. Titel hajjah pun belum terpasang. Duluan terbenam dalam tanah.
Tapi, syukur Alhamdulillah... beliau sudah di-haji-badal-kan oleh bapak. Semoga purna rukun Islam beliau. Hanya itu pintaku pada Yang Maha Pencinta hamba-hambaNya yang beriman...
Surabaya, 28 Mei 2008
Firasat Mobil Dinas
Sejak bapak diamanahi mobil dinas dari kantornya, semua kami sepakat kalau ibu berubah. Beliau yang dulunya sangat anti bepergian, khususnya pergi jauh dengan mobil, sekarang justru malah sebaliknya. Beliau bisa tahan untuk tidak muntah dan pusing-pusing meski perjalanan jauh naik mobil. Heranlah kami!
Bukan berarti beliau malah makin senang jalan-jalan dengan mobil dinas amanah rakyat. Bukan! Beliau akan bersemangat bila diajak anjangsana ke sanak famili yang sebelum-sebelumnya amat jarang dikunjungi. Beliau mengunjungi rumah adik-adiknya, menyambung tali silaturrahim dengan keluarga bapakku.
Sebab, selama ini, ibukulah yang sering dikunjungi oleh keluarga kami yang lain. Makanya, jika lebaran tiba, sementara kami – anak-anaknya – pergi ke keluarga bapak di Lombok Tengah sana, maka ibu memilih jadi penjaga rumah. Ya, disebabkan oleh itu! Cepat mual, pusing, dan muntah kalau naik mobil untuk jarak jauh.
Dan... perubahan ibu itu – dulu tidak bisa naik mobil, sekarang bisa – boleh jadi menjadi sebuah firasat.
Firasat apa?
Firasat bahwa beliau memang sebentar lagi akan meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Ada untungnyalah kami diamanahi mobil dinas. Sebab kami tidak punya mobil pribadi, setidaknya mobil dinas ini bisa kami gunakan pula untuk hal-hal baik ‘di mata kami’. Ya, mengunjungi dan menyambung tali silaturrahim dengan sanak keluarga bapakku yang selama ini jarang-jarang kami kunjungi kalau bukan pada lebaran atau ada acara-acara tertentu.
Aku pun menyadari itu. Sadar bahwa ternyata sebelum ‘berakhir’, ibuku telah mencoba berbagi, berbuat baik, dan memupuk amal ibadahnya dengan itu... mempererat hubungannya dengan keluarga suaminya, bapakku.
Beliau makin rajin berkunjung ke Rebile, desa asal bapakku. Di sana bapak dan ibuku membagi-bagikan pakaian dan celana bapakku yang kekecilan tapi masih layak pakai, kebutuhan shalat, juga secukup uang. Terlihat jelas di mataku binar bahagia di wajah ibu saat melakukan hal itu.
Meskipun setelah kupikir-pikir bahwa mobil dinas seharusnya dipakai untuk urusan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi/keluarga seperti yang dilakukan bapak dan ibuku – kami juga, namun aku pun tak mengelak bahwa kalau untuk melakukan kebaikan, kenapa tidak? Dan aku sedikit melakukan pembelaan di sini: bensin untuk mobil dinas tak sepenuhnya dibayar oleh kantor. Justru lebih banyak keluar dari kantong bapakku. Belum lagi perawatannya. Nah...
Hari-hari menjelang kepergian ibu, sanak keluarga yang dikunjungi kemarin-kemarin itu, justru balik mengunjungi beliau. Apalagi ketika beliau masuk rumah sakit. Tak putus-putusnya jengukan dan beslahan.
Panjatan doa selalu untukmu, ibu. Semoga amal kebaikanmu, memeroleh catatan wangi di sisiNya. Serta, coretan burukmu, moga-moga diampuniNya.
Amiiiiiinnn...
Surabaya, 28 Mei 2008
Bukan berarti beliau malah makin senang jalan-jalan dengan mobil dinas amanah rakyat. Bukan! Beliau akan bersemangat bila diajak anjangsana ke sanak famili yang sebelum-sebelumnya amat jarang dikunjungi. Beliau mengunjungi rumah adik-adiknya, menyambung tali silaturrahim dengan keluarga bapakku.
Sebab, selama ini, ibukulah yang sering dikunjungi oleh keluarga kami yang lain. Makanya, jika lebaran tiba, sementara kami – anak-anaknya – pergi ke keluarga bapak di Lombok Tengah sana, maka ibu memilih jadi penjaga rumah. Ya, disebabkan oleh itu! Cepat mual, pusing, dan muntah kalau naik mobil untuk jarak jauh.
Dan... perubahan ibu itu – dulu tidak bisa naik mobil, sekarang bisa – boleh jadi menjadi sebuah firasat.
Firasat apa?
Firasat bahwa beliau memang sebentar lagi akan meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Ada untungnyalah kami diamanahi mobil dinas. Sebab kami tidak punya mobil pribadi, setidaknya mobil dinas ini bisa kami gunakan pula untuk hal-hal baik ‘di mata kami’. Ya, mengunjungi dan menyambung tali silaturrahim dengan sanak keluarga bapakku yang selama ini jarang-jarang kami kunjungi kalau bukan pada lebaran atau ada acara-acara tertentu.
Aku pun menyadari itu. Sadar bahwa ternyata sebelum ‘berakhir’, ibuku telah mencoba berbagi, berbuat baik, dan memupuk amal ibadahnya dengan itu... mempererat hubungannya dengan keluarga suaminya, bapakku.
Beliau makin rajin berkunjung ke Rebile, desa asal bapakku. Di sana bapak dan ibuku membagi-bagikan pakaian dan celana bapakku yang kekecilan tapi masih layak pakai, kebutuhan shalat, juga secukup uang. Terlihat jelas di mataku binar bahagia di wajah ibu saat melakukan hal itu.
Meskipun setelah kupikir-pikir bahwa mobil dinas seharusnya dipakai untuk urusan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi/keluarga seperti yang dilakukan bapak dan ibuku – kami juga, namun aku pun tak mengelak bahwa kalau untuk melakukan kebaikan, kenapa tidak? Dan aku sedikit melakukan pembelaan di sini: bensin untuk mobil dinas tak sepenuhnya dibayar oleh kantor. Justru lebih banyak keluar dari kantong bapakku. Belum lagi perawatannya. Nah...
Hari-hari menjelang kepergian ibu, sanak keluarga yang dikunjungi kemarin-kemarin itu, justru balik mengunjungi beliau. Apalagi ketika beliau masuk rumah sakit. Tak putus-putusnya jengukan dan beslahan.
Panjatan doa selalu untukmu, ibu. Semoga amal kebaikanmu, memeroleh catatan wangi di sisiNya. Serta, coretan burukmu, moga-moga diampuniNya.
Amiiiiiinnn...
Surabaya, 28 Mei 2008
26 Mei 2008
Pijitan Sayang untuk Bunda Seorang
Seharian ibu bekerja. Mulai pagi hingga petang. Tentunya, rasa lelah dan capek itu ada. Maka, seringkali ibu meminta kami untuk sekadar memijat beliau di bagian kaki, tangan, dan punggung.
Reaksi kami???
Lebih banyak ogahnya. Apalagi adikku yang laki-laki, Oki. Dia memang lagi bandel-bandelnya. Perintah, suruhan, permintaan tolong, selalu dijawab dengan gelengan. Kecuali kalau ada pamrih. Berbentuk duit atau yang lain. Pokoknya, perekengan (perhitungan, red).
Ibu memang sering menyuruh anaknya yang laki-laki untuk mijitin beliau. Kalau kami sedang serempak menolak, yang turun tangan adalah bapakku. Beliau malah pakai balsem dan minyak urut segala. Nah, ini nih yang tidak ingin belepotan di tangan kami. Balsem dan minyak urut.
Kalau pun terpaksa mijitin beliau, palingan kami bertahan cuman sebentar. Asal-asalan. Ogah-ogahan. Sekenanya. Tontonan di TV atau main bersama teman-teman lebih mengasyikkan ketimbang mijitin beliau. Kalau ada acara yang tak mungkin aku lewatkan begitu saja, aku yang malah meminta ibu agar berbaring saja di depan televisi. Kan bisa mijit sambil nonton TV!
Pokoknya, kami mijit dengan mengajukan banyak persyaratan. Entah, sehabis mijit, minta diberi upah. Mijitnya cepat-cepat. Mijitnya bagian kaki sebelah kiri saja. Nggak usah pake balsem, panas. Mijitnya sambil nonton TV aja. Mijitnya jangan sekarang, nanti saja!
Itulah kami. Anak-anak ibu yang masih bandel dan masih lebih suka bermain.
Namun, setelah beliau tiada, justru kami merindukan disuruh untuk mijitin. Kami rindu menarik jari-jemari beliau hingga terdengar bunyi gemeletuk, tandanya pegal beliau sudah selesai. Kami ingin sekali kembali mengurut betis ibu, memijit lengan dan telapak kaki beliau. Sungguh! Sangat menyesal kami telah menolak, membantah selama ini. Amat sangat!
Dan apalah artinya penyesalan yang selalu datang terlambat itu???
Reaksi kami???
Lebih banyak ogahnya. Apalagi adikku yang laki-laki, Oki. Dia memang lagi bandel-bandelnya. Perintah, suruhan, permintaan tolong, selalu dijawab dengan gelengan. Kecuali kalau ada pamrih. Berbentuk duit atau yang lain. Pokoknya, perekengan (perhitungan, red).
Ibu memang sering menyuruh anaknya yang laki-laki untuk mijitin beliau. Kalau kami sedang serempak menolak, yang turun tangan adalah bapakku. Beliau malah pakai balsem dan minyak urut segala. Nah, ini nih yang tidak ingin belepotan di tangan kami. Balsem dan minyak urut.
Kalau pun terpaksa mijitin beliau, palingan kami bertahan cuman sebentar. Asal-asalan. Ogah-ogahan. Sekenanya. Tontonan di TV atau main bersama teman-teman lebih mengasyikkan ketimbang mijitin beliau. Kalau ada acara yang tak mungkin aku lewatkan begitu saja, aku yang malah meminta ibu agar berbaring saja di depan televisi. Kan bisa mijit sambil nonton TV!
Pokoknya, kami mijit dengan mengajukan banyak persyaratan. Entah, sehabis mijit, minta diberi upah. Mijitnya cepat-cepat. Mijitnya bagian kaki sebelah kiri saja. Nggak usah pake balsem, panas. Mijitnya sambil nonton TV aja. Mijitnya jangan sekarang, nanti saja!
Itulah kami. Anak-anak ibu yang masih bandel dan masih lebih suka bermain.
Namun, setelah beliau tiada, justru kami merindukan disuruh untuk mijitin. Kami rindu menarik jari-jemari beliau hingga terdengar bunyi gemeletuk, tandanya pegal beliau sudah selesai. Kami ingin sekali kembali mengurut betis ibu, memijit lengan dan telapak kaki beliau. Sungguh! Sangat menyesal kami telah menolak, membantah selama ini. Amat sangat!
Dan apalah artinya penyesalan yang selalu datang terlambat itu???
Masihkah Kau Mencium Tangan Ibumu???
Saat masih kecil, oleh orang tua, kita diajarkan untuk selalu memberi salam sebelum pergi. Terlebih-lebih, sebelum berangkat sekolah. Mencium tangan sekaligus mengucapkan “Assalamu’alaikum” sudah merupakan satu paket lengkap. Orang tua yang agak ‘modern’ sedikit, tak lupa cipika cipiki anaknya.
Setelah beranjak dewasa, katakanlah memasuki masa remaja, masihkah kebiasaan itu kita terapkan?
Saya sendiri, jujur, tidak selalu demikian. Entah kenapa kalau terhadap bapak, saya seringkali tidak salaman. Tapi, kalau ibu, berasa wajib bagi saya! Sedapat mungkin saya mencium tangan sang bunda, sekalipun beliau sedang berkutat di dapur dengan tangan yang coreng-moreng atau pun baru pulang dari pasar dengan tangan masih penuh belanjaan. Saya akan cium tangan beliau. Kalau akan ujian, tak lupa, plus doa.
Sekalipun surga itu terletak di kaki ibu – yang mana amat jarang sekali kita mencium kaki ibu – gimana dengan mencium tangannya??? Bagi saya, justru di tangan ibu kitalah surga itu berada.
Bagaimana tidak?
Tangan ibu kitalah yang membelai kita lembut saat kita masih di dalam kandungan. Tangan bunda pula yang menyentuh kita dengan kasih sayang ketika telah terlahir menjadi ‘sosok merah tak berdaya’. Tangan itu yang memandikan, mencucikan kain (popok) yang kotor karena kotoran dan air kencing kita. Tangan itu yang menggelar selimut di atas tubuh kita agar tidak kedinginan. Tangan itu pula yang memeluk kita saat kita butuh penguatan.
Lalu, sudahkah kita ciumi tangan itu? Sudahkah kita temukan wangi surga di situ? Atau justru, sudah lama tangan itu kita biarkan mendingin, mengasar, dan tak tersentuh di bibir, pipi, atau jidat kita?
Apalagi mencium kakinya!
Surga itu tak sulit mencarinya, Sobat!
Ia ada di samping kita, dekat dengan kita. Akankah kita melepaskannya begitu saja? Membiarkan surga itu hingga waktu ‘kan tiba mendinginkannya???
Surabaya, 23 Mei 2008
Setelah beranjak dewasa, katakanlah memasuki masa remaja, masihkah kebiasaan itu kita terapkan?
Saya sendiri, jujur, tidak selalu demikian. Entah kenapa kalau terhadap bapak, saya seringkali tidak salaman. Tapi, kalau ibu, berasa wajib bagi saya! Sedapat mungkin saya mencium tangan sang bunda, sekalipun beliau sedang berkutat di dapur dengan tangan yang coreng-moreng atau pun baru pulang dari pasar dengan tangan masih penuh belanjaan. Saya akan cium tangan beliau. Kalau akan ujian, tak lupa, plus doa.
Sekalipun surga itu terletak di kaki ibu – yang mana amat jarang sekali kita mencium kaki ibu – gimana dengan mencium tangannya??? Bagi saya, justru di tangan ibu kitalah surga itu berada.
Bagaimana tidak?
Tangan ibu kitalah yang membelai kita lembut saat kita masih di dalam kandungan. Tangan bunda pula yang menyentuh kita dengan kasih sayang ketika telah terlahir menjadi ‘sosok merah tak berdaya’. Tangan itu yang memandikan, mencucikan kain (popok) yang kotor karena kotoran dan air kencing kita. Tangan itu yang menggelar selimut di atas tubuh kita agar tidak kedinginan. Tangan itu pula yang memeluk kita saat kita butuh penguatan.
Lalu, sudahkah kita ciumi tangan itu? Sudahkah kita temukan wangi surga di situ? Atau justru, sudah lama tangan itu kita biarkan mendingin, mengasar, dan tak tersentuh di bibir, pipi, atau jidat kita?
Apalagi mencium kakinya!
Surga itu tak sulit mencarinya, Sobat!
Ia ada di samping kita, dekat dengan kita. Akankah kita melepaskannya begitu saja? Membiarkan surga itu hingga waktu ‘kan tiba mendinginkannya???
Surabaya, 23 Mei 2008
21 Mei 2008
Aku: Partner Masak Ibu
Aku suka sekali makan. Gak heran kalo misalnya ada makanan yang gak disuka ama orang di rumah, akulah yang bakal ngelahapnya. Hehehe... kata ibuku, lidahku itu tawar. Dikasih makanan apa pun, belum berasa kalo perutku sendiri belum ngasih lampu merah agar berhenti.
Well, karena suka makan, maka otomatis aku juga suka masak. Meskipun bukan sebagai head chef di rumah, tapi kalo ada acara masak-masak, aku akan dengan senang hati membantu. Entah bantu goreng-goreng, ngiris-ngiris, icip-icip, etc. Pokoke, masak itu... menyenangkan...juga mengenyangkan! Hehehe...
Kalo boleh jujur, ibuku juga gak terlalu pinter-pinter amat memasak. Sebab, selama ini, yang masak itu bibiku yang tinggal satu rumah dengan kami. Tapi, sejak bibiku punya kesibukan lain, so mau gak mau ibuku yang harus turun ke dapur. Masak buat kami semua. Dan...aku amat sangat senang dan suka bantu masak-masak. Yeah, seperti my confession tadi di awal.
Masak apa aja? Ooopppssss...perlu dibagi deh kayaknya antara masak jajanan sama masak masakan ‘besar’. Bikin kueh-kueh tradisional, ibuku emang jago. Tapi, kalo jajanan yang agak modern gitu, kakakku yang cewek ahlinya. Tapi, berhubung yang kami makan tiap hari adalah masakan ‘besar’, so ibuku yang meng-handle. Bikin kue tradisional pun, kayak pisgor, peyek, nagasari, lemang, dan sejenisnya, agak jarang-jarang. Tergantung, ada momen apa atau sikonnya gimana. Mood masak juga ngaruh. Hehehe...
Nah, kalo misalnya, aku pulang sekolah lebih awal, dan menjumpai ibuku masih berkutat di dapur, aku takkan segan-segan menyingsingkan lengan baju (cieeee) untuk bantu beliau masak. Yeah, motong-motong apa gitu, goreng-goreng sambel goreng, jagain api di tungku, dsb. Meski kadang egois juga jadi anak. Kalo lagi capek dan gak mood bantu beliau, yeahhh...aku mantengin tipi. Sorry mom, i couldn’t help you!
Tapi, yang namanya ibu itu ya... pengertian banget gitu! Meskipun sebagai anak sering gak pengertian, tapi sang ibu seolah-olah punya banyak stok ‘pengertian’. Aku baru nyadar hal itu setelah besar gini. Dulu mungkin karena pikirannya masih anak-anak dan menganggap ibuku emang ‘robot’ yang canggih dan tangguh. so, everything she can handle! Tapi, setelah mikir dan mikir, namanya manusia pasti akan capek, lelah, ingin istirahat, dsb. Dan... aku menyesal banget karena tidak bisa berbuat banyak untuk beliau.
Mom...though u’re not here besides me now, but i always try to do my best for you!
Well, sekalipun ibuku tidak terlalu pinter-pinter amat memasak dan kadang-kadang masakannya ada yang kurang pas di lidah, tapi aku angkatin dua jempolku untuk beliau! Beliau udah mencoba ngasih yang terbaik dari dirinya, dan alangkah bodohnya aku kalo tidak menghargai usaha ibuku itu...
So, thanks guys for reading this! My message for you all: don’t ever let your chance n moment with your mom! U never know, when the time is coming...
Surabaya, 20 Mei 2008
Bu, aku rindu masakanmu
Well, karena suka makan, maka otomatis aku juga suka masak. Meskipun bukan sebagai head chef di rumah, tapi kalo ada acara masak-masak, aku akan dengan senang hati membantu. Entah bantu goreng-goreng, ngiris-ngiris, icip-icip, etc. Pokoke, masak itu... menyenangkan...juga mengenyangkan! Hehehe...
Kalo boleh jujur, ibuku juga gak terlalu pinter-pinter amat memasak. Sebab, selama ini, yang masak itu bibiku yang tinggal satu rumah dengan kami. Tapi, sejak bibiku punya kesibukan lain, so mau gak mau ibuku yang harus turun ke dapur. Masak buat kami semua. Dan...aku amat sangat senang dan suka bantu masak-masak. Yeah, seperti my confession tadi di awal.
Masak apa aja? Ooopppssss...perlu dibagi deh kayaknya antara masak jajanan sama masak masakan ‘besar’. Bikin kueh-kueh tradisional, ibuku emang jago. Tapi, kalo jajanan yang agak modern gitu, kakakku yang cewek ahlinya. Tapi, berhubung yang kami makan tiap hari adalah masakan ‘besar’, so ibuku yang meng-handle. Bikin kue tradisional pun, kayak pisgor, peyek, nagasari, lemang, dan sejenisnya, agak jarang-jarang. Tergantung, ada momen apa atau sikonnya gimana. Mood masak juga ngaruh. Hehehe...
Nah, kalo misalnya, aku pulang sekolah lebih awal, dan menjumpai ibuku masih berkutat di dapur, aku takkan segan-segan menyingsingkan lengan baju (cieeee) untuk bantu beliau masak. Yeah, motong-motong apa gitu, goreng-goreng sambel goreng, jagain api di tungku, dsb. Meski kadang egois juga jadi anak. Kalo lagi capek dan gak mood bantu beliau, yeahhh...aku mantengin tipi. Sorry mom, i couldn’t help you!
Tapi, yang namanya ibu itu ya... pengertian banget gitu! Meskipun sebagai anak sering gak pengertian, tapi sang ibu seolah-olah punya banyak stok ‘pengertian’. Aku baru nyadar hal itu setelah besar gini. Dulu mungkin karena pikirannya masih anak-anak dan menganggap ibuku emang ‘robot’ yang canggih dan tangguh. so, everything she can handle! Tapi, setelah mikir dan mikir, namanya manusia pasti akan capek, lelah, ingin istirahat, dsb. Dan... aku menyesal banget karena tidak bisa berbuat banyak untuk beliau.
Mom...though u’re not here besides me now, but i always try to do my best for you!
Well, sekalipun ibuku tidak terlalu pinter-pinter amat memasak dan kadang-kadang masakannya ada yang kurang pas di lidah, tapi aku angkatin dua jempolku untuk beliau! Beliau udah mencoba ngasih yang terbaik dari dirinya, dan alangkah bodohnya aku kalo tidak menghargai usaha ibuku itu...
So, thanks guys for reading this! My message for you all: don’t ever let your chance n moment with your mom! U never know, when the time is coming...
Surabaya, 20 Mei 2008
Bu, aku rindu masakanmu
17 Mei 2008
Dia Malaikatku
Ibu. Dialah yang acapkali membangunkanku untuk shalat ‘malam. Shalat isya yang tertunda. Dia bangun tengah malam, sekitar jam dua pagi, untuk membangunkan agar segera menunaikan shalat isya. Waktu yang seharusnya untuk tahajjud.
Sejak masuk SMP, ibadahku agak menurun. Maklum, aku masuk siang, pulang hampir maghrib. Capek pastinya. Maghrib yang dulunya lebih sering berjamaah, sekarang lebih sering sendiri. Aku makan dulu, baru shalat. Makan pun sambil baca buku. Gimana nggak lama?
Al-Fatah, musholla dekat rumahku – yang diambil dari namaku sendiri – mulai agak jarang aku naiki. Mengaji sebentar, ngajar anak-anak tetangga, sebelum isya kumandang, aku lebih sering pulang. Tidur. Padahal isya sebentar lagi akan dimulai. Tapi, itulah Fatah. Godaan setan di ranjang lebih menarik daripada lantunan merdu azan isya.
Isya berjamaah pun lewat.
Ibuku sih menasehati, agar shalat dulu, baru tidur. Tapi, seorang remaja bernama Fatah suka abai. Lalai. Ah, entar aja! Paling jam 10 bangun buat isya. Tapi, siapatah yang paham trik setan? Manusia dibuat terbuai. Manusia dibuat lalai. Manusia ditipu dengan muslihat yang sangat manis.
Namun, malaikat itu masih ada. Malaikat itu akan terus terjaga, mengawasi anak-anaknya agar tidak lupa pada Sang Kuasa. Shalat harus ditegakkan, gimana pun kondisi. Anak-anak harus dibiasakan sejak kecil. Biar terbawa hingga dewasa.
Malaikat itu adalah ibuku.
Shalat isya-ku yang sering keteteran, terlewatkan, beliau yang ingatkan, bangunkan dari tidurku. Dan, seorang Fatah jika tidur nyenyak, tak mau diganggu. Antara mata membuka dan merem tertutup, dia akan ngamuk. Ngedumel nggak jelas. Marah-marah. Ya, karena setan masih asyik nempel di mata dan hatinya.
Namun, malaikatku itu – ibuku – tidak mau kalah. Ia perangi terus setan yang membelitku di tempat tidur. Kamu harus bangun, Nak! Bangun! Shalat isya dulu. Jika aku tak mau bangun, malaikat itu akan mengintirkan bulu ayam di hidung atau telingaku. Kadang menggitik telapak kakiku dengan sapu lidi. Aku geli, berontak. Teriak. Menggumam nggak jelas. Intinya, jangan ganggu aku!
Tapi, bukan malaikat namanya kalau tidak berjuang keras sampai titik darah penghabisan. Malaikat itu dengan segala cara, diam-diam memerangi setan yang nongkrong di kepalaku. Dia memercikkan air di atas mukaku. Menarik selimutku. Takkan mau keluar dari kamarku, jika aku belum bangun. Lampu kamarku akan dibiarkan pendar. Padahal tidur, aku lebih suka lampu mati. Tapi, malaikat itu sengaja membiarkan lampu kamarku nyala. Hingga aku bangun, mengambil air wudlu, dan menunaikan shalat isya.
Kini, saat aku beranjak dewasa, tak ada lagi gelitikan, bulu ayam di lubang hidung, cubitan, kitikan di tapak kaki, atau tangan yang memercikkan air di mukaku. Tak ada. Tak ada lagi malaikat itu. Aku merasa amat sangat kehilangan.
Maka, sekarang semua keputusan ada di tanganku. Saat aku lalai shalat, itu
semua ulahku. Saat aku abai isya hingga subuh menjelang, itu ulahku. Saat aku, terbangun sebentar, tapi lebih tertarik dengan bantal, itu juga ulahku.
Tugas malaikatku sudah selesai.
Siapa lagi yang akan ingatkanku saat lalai, nasehatiku saat khilaf, dan bangunkanku saat abai, kecuali diriku sendiri???
Surabaya, 13 Mei 2008
Ibu... Terima kasih sudah jadi malaikatku...
Sejak masuk SMP, ibadahku agak menurun. Maklum, aku masuk siang, pulang hampir maghrib. Capek pastinya. Maghrib yang dulunya lebih sering berjamaah, sekarang lebih sering sendiri. Aku makan dulu, baru shalat. Makan pun sambil baca buku. Gimana nggak lama?
Al-Fatah, musholla dekat rumahku – yang diambil dari namaku sendiri – mulai agak jarang aku naiki. Mengaji sebentar, ngajar anak-anak tetangga, sebelum isya kumandang, aku lebih sering pulang. Tidur. Padahal isya sebentar lagi akan dimulai. Tapi, itulah Fatah. Godaan setan di ranjang lebih menarik daripada lantunan merdu azan isya.
Isya berjamaah pun lewat.
Ibuku sih menasehati, agar shalat dulu, baru tidur. Tapi, seorang remaja bernama Fatah suka abai. Lalai. Ah, entar aja! Paling jam 10 bangun buat isya. Tapi, siapatah yang paham trik setan? Manusia dibuat terbuai. Manusia dibuat lalai. Manusia ditipu dengan muslihat yang sangat manis.
Namun, malaikat itu masih ada. Malaikat itu akan terus terjaga, mengawasi anak-anaknya agar tidak lupa pada Sang Kuasa. Shalat harus ditegakkan, gimana pun kondisi. Anak-anak harus dibiasakan sejak kecil. Biar terbawa hingga dewasa.
Malaikat itu adalah ibuku.
Shalat isya-ku yang sering keteteran, terlewatkan, beliau yang ingatkan, bangunkan dari tidurku. Dan, seorang Fatah jika tidur nyenyak, tak mau diganggu. Antara mata membuka dan merem tertutup, dia akan ngamuk. Ngedumel nggak jelas. Marah-marah. Ya, karena setan masih asyik nempel di mata dan hatinya.
Namun, malaikatku itu – ibuku – tidak mau kalah. Ia perangi terus setan yang membelitku di tempat tidur. Kamu harus bangun, Nak! Bangun! Shalat isya dulu. Jika aku tak mau bangun, malaikat itu akan mengintirkan bulu ayam di hidung atau telingaku. Kadang menggitik telapak kakiku dengan sapu lidi. Aku geli, berontak. Teriak. Menggumam nggak jelas. Intinya, jangan ganggu aku!
Tapi, bukan malaikat namanya kalau tidak berjuang keras sampai titik darah penghabisan. Malaikat itu dengan segala cara, diam-diam memerangi setan yang nongkrong di kepalaku. Dia memercikkan air di atas mukaku. Menarik selimutku. Takkan mau keluar dari kamarku, jika aku belum bangun. Lampu kamarku akan dibiarkan pendar. Padahal tidur, aku lebih suka lampu mati. Tapi, malaikat itu sengaja membiarkan lampu kamarku nyala. Hingga aku bangun, mengambil air wudlu, dan menunaikan shalat isya.
Kini, saat aku beranjak dewasa, tak ada lagi gelitikan, bulu ayam di lubang hidung, cubitan, kitikan di tapak kaki, atau tangan yang memercikkan air di mukaku. Tak ada. Tak ada lagi malaikat itu. Aku merasa amat sangat kehilangan.
Maka, sekarang semua keputusan ada di tanganku. Saat aku lalai shalat, itu
semua ulahku. Saat aku abai isya hingga subuh menjelang, itu ulahku. Saat aku, terbangun sebentar, tapi lebih tertarik dengan bantal, itu juga ulahku.
Tugas malaikatku sudah selesai.
Siapa lagi yang akan ingatkanku saat lalai, nasehatiku saat khilaf, dan bangunkanku saat abai, kecuali diriku sendiri???
Surabaya, 13 Mei 2008
Ibu... Terima kasih sudah jadi malaikatku...
18 April 2008
Air Mata Ibu
Itu bukanlah judul sinetron yang pernah kami gilai sekeluarga. Sinetron yang dibintangi oleh Raslina Rasyidin dengan berperan sebagai tokoh ibu. Kalo gak salah, Tabah Penemuan dan Anjasmara juga pemainnya. Tamara Blezinsky juga iya. Kalo gak lupa dink!
Tapi, saya gak akan bahas sinetron Indonesia yang semakin lama semakin membosankan. Tema mirip-mirip. Gak kreatif. Di sini, saya akan nulis tentang air mata ibunda saya. Ibu Muslimah.
Sempat beberapa kali saya melihat beliau menangis. Sengaja dan tidak sengaja. Ketika saya mulai ‘dekat’ dengan beliau, tak segan-segan beliau curhat macam-macam ke saya. Menceritakan kepiluan hatinya sebagai seorang istri dari bapak saya. Istri yang sudah memberikan sepuluh anak dari rahimnya, namun ketika uban putih mulai bermunculan di rambutnya, ada seseorang yang membuat hatinya sedih, sakit.
Sambil bercerita, beliau kadang menangis. Aku tahu hatinya sakit. Aku tahu hatinya pilu. Namun, aku heran, kenapa orang yang menyakiti beliau, tak pernah paham. Kenapa? Ini yang masih menjadi misteri, meskipun sudah banyak teori dalam psikologi yang membahas ini. Teori tinggallah teori. Terkadang teori tidak memberi solusi.
Ujung-ujungnya, hubunganku dengan orang yang menyakiti hati bunda ini pun, jadi renggang. Bahkan muncul bibit-bibit benci dalam hatiku. Tapi, untuk ungkapkannya, rasanya tidak mungkin. Berat. Dan, aku tidak terbiasa mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di hati secara verbal. Aku lebih suka memendam. Ya, itulah aku.
Lain cerita lain kesempatan, ibuku menangis tatkala kakakku mengalami kecelakaan lalu lintas. Kejadiaannya pas hari Raya Iedul Adha gitu. Terus malamnya, rumah bibiku yang bertetangga dengan rumah kami, kemalingan. Hari yang kurang menguntungkan.
Ibuku sempat pula nangis. Tepatnya, menangisi perilaku kakak laki-laki pertama. Yeah, sekeluarga tahu kalau kakakku memang ‘nakal’. Meski tidak sampai berbuat onar. Namun, nakalnya itu dalam bentuk pulang malam, sering keluyuran, trek-trekan dengan motor, ngecat rambut. Tapi, nggak sampai ngelakuin hal-hal yang ekstrem kok! Dan, keluargaku yang memang sudah terpatri dengan lingkungan yang alim dan kondusif, beranggapan bahwa kakakku itu nakal. Padahal dalam kacamata psikologi yang baru-baru ini mulai aku sukai, itu wajar. Orang mencari jati dirinya dengan beragam cara. Dan, kita tidak berhak untuk men-judge secara sepihak. Dan, aku pun baru nyadar hal itu, sekarang.
Secara garis besar, ibuku menangis sebab ada dua konsekuensi: sebagai IBU sekaligus sebagai ISTRI. Masalah rumah tangga, itulah kunci pembuka keran air mata beliau. Dan aku sebagai anaknya, hanya bisa belajar dan memahami hal itu.
Oh...ternyata begitu tho?!
Surabaya 18 April 2008
Tapi, saya gak akan bahas sinetron Indonesia yang semakin lama semakin membosankan. Tema mirip-mirip. Gak kreatif. Di sini, saya akan nulis tentang air mata ibunda saya. Ibu Muslimah.
Sempat beberapa kali saya melihat beliau menangis. Sengaja dan tidak sengaja. Ketika saya mulai ‘dekat’ dengan beliau, tak segan-segan beliau curhat macam-macam ke saya. Menceritakan kepiluan hatinya sebagai seorang istri dari bapak saya. Istri yang sudah memberikan sepuluh anak dari rahimnya, namun ketika uban putih mulai bermunculan di rambutnya, ada seseorang yang membuat hatinya sedih, sakit.
Sambil bercerita, beliau kadang menangis. Aku tahu hatinya sakit. Aku tahu hatinya pilu. Namun, aku heran, kenapa orang yang menyakiti beliau, tak pernah paham. Kenapa? Ini yang masih menjadi misteri, meskipun sudah banyak teori dalam psikologi yang membahas ini. Teori tinggallah teori. Terkadang teori tidak memberi solusi.
Ujung-ujungnya, hubunganku dengan orang yang menyakiti hati bunda ini pun, jadi renggang. Bahkan muncul bibit-bibit benci dalam hatiku. Tapi, untuk ungkapkannya, rasanya tidak mungkin. Berat. Dan, aku tidak terbiasa mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di hati secara verbal. Aku lebih suka memendam. Ya, itulah aku.
Lain cerita lain kesempatan, ibuku menangis tatkala kakakku mengalami kecelakaan lalu lintas. Kejadiaannya pas hari Raya Iedul Adha gitu. Terus malamnya, rumah bibiku yang bertetangga dengan rumah kami, kemalingan. Hari yang kurang menguntungkan.
Ibuku sempat pula nangis. Tepatnya, menangisi perilaku kakak laki-laki pertama. Yeah, sekeluarga tahu kalau kakakku memang ‘nakal’. Meski tidak sampai berbuat onar. Namun, nakalnya itu dalam bentuk pulang malam, sering keluyuran, trek-trekan dengan motor, ngecat rambut. Tapi, nggak sampai ngelakuin hal-hal yang ekstrem kok! Dan, keluargaku yang memang sudah terpatri dengan lingkungan yang alim dan kondusif, beranggapan bahwa kakakku itu nakal. Padahal dalam kacamata psikologi yang baru-baru ini mulai aku sukai, itu wajar. Orang mencari jati dirinya dengan beragam cara. Dan, kita tidak berhak untuk men-judge secara sepihak. Dan, aku pun baru nyadar hal itu, sekarang.
Secara garis besar, ibuku menangis sebab ada dua konsekuensi: sebagai IBU sekaligus sebagai ISTRI. Masalah rumah tangga, itulah kunci pembuka keran air mata beliau. Dan aku sebagai anaknya, hanya bisa belajar dan memahami hal itu.
Oh...ternyata begitu tho?!
Surabaya 18 April 2008
Langganan:
Postingan (Atom)