Sudah hampir tiga bulan aku vakum menulis di blog ini. Aku kembali. Ingin kembali menulis. Tentang bundaku. Tentang aku dan beliau.
Ini bulan Ramadhan. Banyak kenanganku dengan beliau yang berlatar belakang bulan nan suci ini. Ingin aku ceritakan di sini. Ingin aku bagi.
Singkat saja. Aku tak punya waktu untuk menulis panjang-panjang. Yeah, sekadar pemanasan saja. Sekadar pemancing. Agar ke depannya ide-ideku lebih banyak lagi yang mengalir. Menulisi beliau.
Aku ingat sekali. Buka puasa kami tak pernah lepas dari pelecing, masakan khas Sasak. Tiap hari selama bulan Ramadhan, makanan ini menjadi menu buka wajib ada. Meskipun bukan hanya kami saja yang menyantapnya, namun beliau juga mengirimkannya untuk para tetangga. Aku dan adikku yang kebagian tugas untuk berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya. Mengantar menu berbuka.
Pedas memang. Masakan berbahan dasar kangkung ini cukup melecut lidah. Sebenarnya, kurang cocok dijadikan menu. Sebab, perut yang lama kosong melompong harus diisi dengan rasa pedas. Tapi, sejauh ini, perut kami aman-aman saja. Tiada mencret atau apa.
Ketupat adalah teman makan pelecing. Ini satu yang unik lagi. Biasanya orang-orang di Indonesia membuat ketupat hanya untuk dimakan di Hari Raya saja. Namun, tidak dengan kami. Selama Ramadhan, kami membuat ketupat dari janur kelapa. Aku pun bisa loh membuatnya. Belajar dari ibuku. Tiap pulang sekolah, aku meluangkan waktu untuk membentuk janur kuning atau hijau itu menjadi ketupat. Keesokan paginya, ibuku akan mengisinya dengan beras. Lalu, ditanaklah di dalam panci di atas tungku tanah liat. Siangnya, baru masak.
Mengingat itu semua, aku jadi kangen. Kangen dengan masakan ibuku. kangen dengan ketupat yang kami bikin. Kangen dengan pelecing dan urap yang saban sore selama Ramadhan selalu dibikin oleh ibuku.
Ramadhan tanpa beliau.
Ramadhan yang akan selalu coba untuk kujalani dengan sabar.
Ibu... aku cinta Kau dan Ramadhan...
Surabaya, 11 September 2008
[get this widget]
11 September 2008
Aku Cinta Kau dan Ramadhan
16 Juni 2008
Satu by Dewa: Episode Biru Saya
(baca tulisan saya ini sambil dengerin Satu-nya Dewa)
Aku ini adalah dirimu
Cinta ini adalah cintamu
Aku ini adalah dirimu
Jiwa ini adalah jiwamu
Rindu ini adalah rindumu
Darah ini adalah darahmu
Reff:
Tak ada yang lain
Selain dirimu
Yang selalu kupuja
Kusebut namamu
Di setiap hembusan napasku
Kusebut namamu 2x
Dengan tanganmu
Aku menyentuh
Dengan kakimu
Aku berjalan
Dengan matamu
Aku memandang
Dengan telingamu
Aku mendengar
Dengan lidahmu
Aku bicara
Dengan hatimu
Aku merasa
Back to reff:
SATU…
Lagu dari album Laskar Cinta ini membuat saya merinding tiap kali mendengarnya. Ada chemistry yang membuat bulu kuduk berdiri. Tidak lain dan tak bukan sebab BUNDA SUDAH TIDAK LAGI DI SINI. Ia sudah ada di sana. Bersemayam di dalam Rahim-Nya.
Saya tidak akan pernah lupa. Beliau telah meninggalkan kami tiga tahun yang lalu, tepat di bulan Juli. Saat itu saya masih kelas dua SMA, mau naik kelas tiga. Belum pula genap sebulan saya merayakan ulang tahun yang jatuh di bulan Juni. Saat di mana saya sedang butuh-butuhnya kiriman doa, bingkisan dukungan, dan pompaan semangat menjelang UNAS.
Ah… Allah punya rencana yang jauh lebih baik dari yang dikira hamba-Nya.
Saat itu rumah kami diselimuti awan duka yang begitu tebal. Jika saya sedang berada di kamar beliau, seringkali saya merasa beliau ada di sana. Jika saya sedang melamun, seringkali beliulah yang saya lamunkan. Jika saya sedang berdoa, wajah beliaulah yang sering muncul.
Namun, belakangan ini, setelah kami pindah rumah, setelah saya kuliah di Tanah Jawa, setelah saya mulai digeogoti kesibukan dunia, perlahan-lahan rindu itu memudar. Rindu pada ibu memudar. Rindu untuk membacakan yasin padanya tiap malam Jumat. Rindu untuk mendoakannya secara khusyu’ tiap habis shalat. Rindu untuk mengenangnya lewat renungan-renungan. Rindu itu…memudar, Kawan!
Saya merasa mulai jadi anak yang kurang lancang. Mana mungkin doa saya tersampaikan padanya jika saya sendiri menjauhkan diri dari predikat ‘anak shaleh’. Bagaimana mungkin doa saya bisa terkirim jika saya sendiri seringkali berbuat dosa. Bagaimana mungkin?
Namun, saya yakin Allah takkan membiarkan saya begini selamanya. Saya meyakini hal itu dengan mengacu pada beberapa hal. Pertama, tiap kali melihat seorang ibu tua atau juga nenek-nenek di jalanan, maka saya pasti akan teringat dengan sosok ibu saya.
Kedua, tiap kali saya melihat atau membaca atau mendengar cerita yang ada peran ibunya dalam karakter sederhana, maka saya akan mengingat sosok almarhumah ibu saya.
Ketiga, tiap kali mendengar lagu Satu-nya Dewa, saya akan ingat bagaimana lagu ini diputar di televisi, menemani hari-hari kami selama menjaga ibu di rumah sakit. Sebuah lagu dengan makna dalam dan sangat menyentuh. Tak heran jika saya akan selalu ingat ibu jika mendengarkan lagu ini.
Keempat, blog inilah salah satu reminder bagi saya. Pengingat saya. Bahwa saya takkan membiarkan sosok almarhumah ibu saya menghilang, lenyap begitu saja dari kaset ingatan saya. Saya ingin merekam beliau dan mengenangnya lewat tulisan-tulisan saya di blog ini.
Namun, di antara keempat jalur ‘pengingatan’ sosok bernama Muslimah, ibu saya, maka yang lebih sering mengena dan langsung ber-chemistry dengan hati saya adalah… saat mendengarkan Satu-nya Dewa…
Surabaya, 16 Juni 2008
[get this widget]
Bunda dalam Badai Damai
Dalam badai, aku tersenyum.
Bundaku terlelap subuh tadi.
Ada galau menguntit,
Namun berusaha aku halau.
Ada marah mengintip,
Namun berusaha aku tepis.
Aku saksikan waktu beku
Aku saksikan biru membatu
Namun, ah... semua sudah tentu
Tak perlu diharu-deru.
Bunda...
Aku rela kau dalam badai-Nya
Badai damai...
[get this widget]
30 Mei 2008
Membantah Ibu
Masa Madrasah dulu, aku terbilang anak yang lumayan pembantah. Tak hanya perkataan guruku pernah kubantah – yang bahkan menjadi bumerang bagiku karena beliau sampai menangis dan aku kena hukum – tapi, terlebih lagi orang tuaku. Sudah dikenal seantero rumah kalau aku memang hobi membantah alias penimbalan (red, Sasak).
Ibuku apalagi.
Beliau menyuruhku mengerjakan ini, kutolak dengan argumen itu. Beliau memintaku mengambilkan ini, tak kugubris. Beliau menginginkanku seperti ini, tak jua kuturuti.
Bukan aku saja yang berperilaku demikian. Kakak dan adikku, terutama yang laki-laki memang lebih suka membantah daripada saudaraku yang perempuan. Itu saat kami masih kecil-kecil. Usia SD-SMP lah. Tapi, beranjak dewasa, perlahan sifat itu meluntur dengan sendirinya.
Sempat aku bertanya pada diri sendiri: Apakah setiap anak memang di’wajib’kan melewati masa pembantahan seperti itu?
Sebab, rata-rata anak kecil, apalagi zaman sekarang ini, sudah tidak terlalu hormat pada orang tuanya. Malahan, mereka suka main perintah pada ibu bapaknya. Menunjuk pakai tangan kiri. Adat bicara sudah tidak diindahkan lagi. Berseliweran di depan orang yang lebih tua tanpa sopan santun. Apakah memang begitu yang harus mereka alami, meskipun dulunya aku tidak seekstrem mereka?
Di sini kita tidak mencari kambing hitam. Kalau pun itu merupakan suatu hal yang wajar, tapi sewajar apakah? Jangan-jangan, karena kita punya anggapan bahwa perilaku anak-anak yang seperti itu adalah wajar, terus orang tuanya pun membiarkan? Ntar bakal nyadar sendiri, kok... Oya? Kalau anak-anak mereka tidak nyadar, gimana?
Aku dulu jikalau berbuat kurang sopan pada orang tua, membantah misalnya, aku pasti dapat hukuman. Minimal teguran atau tepatnya, omelan. Bahkan ancaman juga, semisalnya, dikurangi uang jajan. Efeknya? Aku jadi tahu, kalau ternyata membantah itu tidak baik.
Ada saat-saatnya memang kita harus membantah. Misalnya, kalau orang tua menyuruh kita melakukan perbuatan yang melanggar agama, minum minuman keras, berzina, atau menyekutukan Tuhan. Sebagai anak, kita harus membantah. Tentu saja, kita tidak lantas memusuhi mereka gara-gara perintah mereka di luar batas agama itu. Kita tetap diwajibkan untuk berperilaku baik, bertutur sopan, dan berbakti padanya. Sekalipun kita berseberangan keyakinan dengan mereka!
Tapi, Alhamdulillah... hubungan saya dengan orang tua tidak sampai seekstrem itu. Palingan hanya penyakit membantah saja yang paling sering kumat. Itu pun frekuensinya berkurang seiring dengan bertambahnya usia saya. Sebab, bagaimana pun sebagai manusia kita akan mengalami transformasi. Syukur kalau transformasinya menjadi insan yang lebih baik dari hari ke hari.
Jadi, kita tak perlu risau dong dengan kondisi anak sekarang? Bukan! Bukan itu maksud saya dengan esensi transformasi ini! Yang namanya proses, pasti akan tetap dipengaruhi oleh lingkungan eksternal si anak juga. Nah, di sinilah keluarga memegang peranan penting. Kunci baik tidaknya moral dan akhlak anak, tergantung bagaimana orang tua memberi didikan. Yang paling penting, tentu saja contoh. Teladan. Anak-anak butuh sosok yang perlu mereka teladani? Kalau bukan contoh baik dari orang tua, terus siapa lagi???
Surabaya, 30 Mei 2008
[get this widget]
29 Mei 2008
Seandainya Anakku Menang Millionaire...
Itulah kata yang sering terucap dari bibir ibuku tiap kali kami nonton mega kuis yang dibawakan oleh Tantowi Yahya itu. Termasuk acara favorit keluargaku saban malam minggu. Kami akan berlomba-lomba untuk menebak jawabannya. Ikut tegang, harap-harap cemas, deg-degan, gembira, dan melenguh panjang. Seolah-olah kami larut dalam acara berhadiah satu milyar itu.
Jujur, aku suka kuis ini. Soal-soalnya menantang. Bukan aku saja yang bangga jika tebakan jawabanku benar. Kakak adik, bapak, dan ibuku pun akan ikut senang. Apalagi jika peserta kuisnya mampu menembus level 32 juta atau bahkan bisa meraih setengah milyar – plus aku ikutan pula menebak dan benar – maka, judul tulisan inilah yang akan dilontarkan oleh ibuku.
Lagi-lagi ibuku...
Perempuan yang aku yakini, sangat makbul doanya. Perempuan yang dibawah telapak kakinya terdapat surga. Perempuan yang amat sangat berarti bagiku. Perempuan yang setelah dia tiada, bagiku langit seolah-olah runtuh.
Beliau, ibuku, berharap sekali suatu ketika nanti aku bisa ikutan Who Wants To Be A Millionaire dan menang, tentu saja. Hadiahnya yang berupa uang itu pun akan aku serahkan ke ibu untuk biayanya naik haji ke Tanah Suci. Itu asanya.
Naik haji dengan duit hadiah kuis...
Betapa aku berandai-andai, jikalau itu bisa terwujud. Pasti ibuku senang. Dan kegembiraan itulah yang ingin aku persembahkan pada beliau. Meski itu masih belum seberapa dibandingkan dengan pengorbanan beliau sebagai seorang ibu. Yang penting sudah mencoba untuk berbakti.
Semua tinggallah mimpi...
Meski Who Wants To Be A Millionaire sudah tutup layar dan kuis-kuis sejenisnya masih banyak berseliweran di layar kaca, namun semua tinggal asa. Orang yang kucitakan akan kupersembahkan hadiah itu padanya – seandainya aku ikutan dan menang – kini sudah tiada. Titel hajjah pun belum terpasang. Duluan terbenam dalam tanah.
Tapi, syukur Alhamdulillah... beliau sudah di-haji-badal-kan oleh bapak. Semoga purna rukun Islam beliau. Hanya itu pintaku pada Yang Maha Pencinta hamba-hambaNya yang beriman...
Surabaya, 28 Mei 2008
[get this widget]

