10 Maret 2008

Ibu Tiada, Tak Ada yang Mendoa

Itulah yang aku takutkan! Itulah yang aku sedihkan. Ketika ibu yelah tiada, takkan ada lagi yang mendoakanku. Takkan ada lagi sosok ibu yang akan tulus ikhlas memohon kebaikan pada Allah untuk aku.

Bahkan, dulu dan kadang-kadang sekarang pun begitu, seringkali muncul perasaan: ALLAH TIDAK ADIL PADAKU. Allah membiarkan aku tanpa ibu. Sementara orang lain masih beribu. Aku tak punya seorang ibu yang bakal mendoakanku. Sementara yang lain masih punya sokongan doa dari ibunya. Aku merasa itu tidak adil. Lalu, kenapa pula harus aku yang mengalaminya? Kenapa? Itulah di antara sekian tanyaku sebab kematian IBU.

Mungkin aku terlalu possesif. Merasa bahwa ibu adalah milikku. Padahal segala sesuatu adalah milik ALLAH dan kepada-Nyalah semua akan kembali. Aku tak punya hak apa-apa atas ibuku. Ia milik Allah. Aku tak berhak secuil pun memilikinya. Tapi, benarkah? Aku juga masih ragu...

Ah, aku yakin keraguanku hanyalah karena goda-goda setan. Aku percaya ada banyak hikmah yang bisa kupetik di balik meninggalnya ibuku. Mungkin tidak sekarang, aku tahu. Mungkin sudah kudapat hikmahnya, tapi aku tidak menyadarinya. Mungkin kupetik hikmahnya beberapa tahun mendatang. Ya, hikmah itu tercecar di setiap liku kehidupanku. Entah aku bisa memungutinya atau tidak.
Hanya ALLAH YANG MAHATAHU...

Surabaya tanpa angka!

05 Maret 2008

Sebuah Buku untuk Bunda

Sejak keinginan untuk menjadi penulis semakin besar, buku yang ingin segera aku tulis adalah sebuah memoar antara aku dan bundaku. Bahkan, aku sempat-sempatnya pula menyiapkan sebuah judul untuk bukuku tersebut: Memoirs of Me and Mom. Di dalam buku tersebut, aku ingin mengabadikan sosok ibuku, beserta pernak-pernik kehidupannya, khususnya yang bersinggungan denganku pribadi. Ya, mengabadikan dalam tanda kutip. Sebab, tidak ada sesuatu pun yang abadi di dunia ini.

Memoirs of Me and Mom bisa dibilang sebuah idealismeku yang lahir setelah beliau, ibuku, tiada. Ia serta-merta hadir di pikiranku, semenjak beliau menghembuskan napas terakhirnya. Kebetulan waktu itu aku juga sedang getol-getolnya menulis. Dan, cita-citaku memang menjadi seorang penulis. Dan, tahukah Anda kalau aku banyak menghabiskan lembar demi lembar diary-ku hanya untuk melukiskan perasaanku pada sosok perempuan yang melahirkanku tersebut? Aku membuat berbait-bait puisi, tidak hanya di kertas diary, namun juga di layar komputer. Aku menulis kisah pendek – aku belum punya energi untuk menulis yang panjang-panjang – tentang beliau. Intinya, tulisan-tulisan curahan perasaan seorang anak pada ibunya. Ya, itu dulu. Pun, sampai sekarang masih tetap aku lakoni.

Setamat SMA, aku keukeuh untuk melanjutkan studiku di Pulau Jawa. Sebab, aku melihat peluang besar untuk menjadi penulis di sana. Aku melirik penerbitan, mengetahui komunitas-komunitas kepenulisan dan ingin bergabung di dalamnya, serta akses informasi dan teknologi untuk mengembangkan kemampuan menulisku. Jadi, keinginan untuk menerbitkan buku pun, semakin terpacu.

Aku tidak main-main dengan cita-cita untuk menerbitkan bukuku ini. Untuk memotivasi diri sekaligus ajang untuk berinteraksi dengan pembaca, aku pun membuat blog dengan alamat http://lafatah.multiply.com. Blog ini aku jadikan media untuk menampung tulisan-tulisanku. Isinya gado-gado. Puisi, cerpen, esai, catatan harian, dan sebagainya aku posting di sana. Hingga saat ini aku telah ngeblog selama satu tahun.

Lama-lama, aku agak bosan juga di multiply. Meskipun jumlah kontak dan pengunjung blog-ku makin banyak, namun aku tertarik pula bikin blog di mesin pembuat blog lainnya, semisal wordpress dan blogspot. Tapi, aku mensyaratkan diri untuk bikin blog, cukup satu tema saja. Dan, setelah berpikir berulang-ulang antara bikin blog profesional (untuk nyari duit) atau blog pribadi, aku pun memilih yang kedua. Tapi, temanya aku sempitkan lagi, yaitu blog khusus tentang bunda. Ya, blog yang tengah Anda baca ini.

Jadi penulis, bukan semata-mata murni keinginanku sendiri. Tapi ini juga adalah pesan dari ibu. Ya, meskipun bukan pesan alias wasiat terakhir darinya, namun aku meyakini bahwa ibuku suka aku menjadi penulis. Sebab, dulu ketika aku sempat menjuarai lomba menulis, beliau pun senang bukan main. Beliau langsung mengaitkan namaku, Lalu Abdul Fatah, dengan nama Syekh Abdul Fatah, guru pamanku ketika belajar di Arab Saudi sana. Kebetulan namaku juga terinspirasi dari nama syekh yang banyak menulis kitab tersebut. Ya, tentunya ketika aku diberi nama Abdul Fatah, terselip pula harapan dari orang tua dan keluargaku agar suatu saat nanti, aku bisa menjadi seorang Syekh Abdul Fatah yang jago menulis. Ya, sebab nama adalah doa. Ini yang selalu aku tanamkan pada diriku sendiri. NAMA ADALAH DOA.

Ibu, jika nanti aku akhirnya menjadi penulis (buku), aku akan menulis sebuah buku yang memuat kisahmu dan segala pernik kehidupanmu. Itu cita-citaku, bu!

Surabaya, 050308

Jangan Tidur Setelah Pagi! Jalan-jalanlah!

Ini adalah salah satu seruan ibuku. Biasa, setelah shalat subuh di musholla dekat rumah, beliau pun berjalan-jalan di sekitar rumah. Paling sering ke areal terminal bis depan rumah yang selalu sepi di pagi hari. Ya, sebuah areal dengan hamparan kerikil kecil-kecil. Ibuku senang berjalan-jalan di situ. Telapak kaki terasa enak, peredaran darah pun jadi lancar, sebab kaki yang bersentuhan langsung dengan kerikil. Begitu kata ibuku.

Selama jalan-jalan pagi itu, beliau sekalian zikiran. Zikir dalam hati, tentunya. Lebih sering membaca tiga surat Al-Qur’an paling akhir: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nash. Jadi, ketika berkeliling di areal terminal yang berkerikil atau ‘mengukur’ jalan raya sepanjang dua kilometer depan rumah, beliau bisa membaca puluhan surat pendek tersebut. Itu, tuturan beliau pada kami.

Kami, anak-anaknya, kadang ngikut beliau jalan-jalan, lebih sering diam di rumah. Shubuh, bagiku khususnya, lebih sering kugunakan untuk belajar dan mempersiapkan alat-alat pelajaran yang akan kubawa sekolah. Shubuh, waktu yang paling enak untuk belajar. Pikiran masih tenang, otak masih fresh, suasananya pun segar. Jadi, pelajaran lebih cepat masuk.

Tapi, kalau tidak ada PR atau tidak ada bahan bacaan yang mesti dibaca, aku suka ikut bersama ibu. Jalan-jalan. Adikku bungsu, Arif, juga sering ikut. Saudaraku yang lain juga. jadi, kami beramai-ramai di jalanan. Biasanya sambil membawa bola tendang. Jadi, di jalan bisa sekalian main bola. Untung jalan raya di pagi hari masih sepi dari kendaraan. Jadi, bebaslah berlarian, berloncatan, tendang sana, tendang sini, jalan-jalan santai, dan sebagainya.

Jalan-jalan pagi lebih intensif lagi kami lakukan saat bulan puasa. Dan, tidak hanya keluargaku saja. Masyarakat di kota kecilku pun ramai yang turun di jalanan. Biasa dalam bentuk rombongan-rombongan. Laki-laki perempuan lebih sering campur. Namun, ada juga kelompok yang hanya perempuan atau laki-laki saja.

Ya, cuma jalan-jalan. Menikmati udara pagi. Melihat pemandangan sekitar yang masih agak samar, maklum gelap. Pun, aku dan saudara-saudaraku ikut turun di jalanan sehabis shubuh. Pulang jalan-jalan, langsung tidur. Yesss!!!

Namun, ibuku lain. Selama bulan puasa, sepulang jalan-jalan pagi, beliau pulang dan langsung mengisi gerompong ketupat dengan beras. Gerompong itu, anyaman ketupat yang belum diisi dengan beras. Sebulan berpuasa, selama itu pula keluargaku membuat ketupat. Dan, tugas ibuku adalah mengisi ketupat dengan beras. Sementara kami, anak-anaknya, lebih sering membantu menganyamkan gerompong topat (ketupat, Sasak).

Surabaya pagi
4 Maret 2008

02 Maret 2008

Membalas dengan DOA

Tidak mudah menjadi ibu dari sembilan anak. Meskipun statusku sebagai anak, namun aku bisa membayangkan lelahnya seorang Muslimah, ibuku, untuk mengasuh, mengasah, membesarkan, serta mendidik kami. Namun, dari perjalanan panjangnya hingga bercucu dua, aku pun semakin kagum akan sosok perempuan yang kupanggil IBU itu.
Di tulisan ini, aku hanya akan membidik satu angle saja mengenai ibuku. Sudut pandang yang menurutku ‘tidak’ semua ibu memilikinya. Apa itu? Luka hati yang dibalas dengan doa. Maksudnya?
Begini. Seorang ibu yang memiliki anak-anak bengal, nakal, hiperaktif, atau apalah namanya, pastinya akan membuat sang ibu mau tidak mau naik darah. Ya, tidak semua anak begitu. Namun, ada kalanya anak membuat jengkel orang tuanya. Kebengalan anak tersebut mungkin ditunjukkan lewat ucapan kotor, perbuatan menjengkelkan, sikap yang kasar, dan sebagainya. Sang orang tua tentu akan marah. Kemarahan orang tua aka ditunjukkan dengan menghardik, melarang, teriak agar menghentikan, suruhan untuk tidak melakukan, atau hanya berkata-kata pedas pada sang anak.
Ya. Demikian pula adanya dengan ibuku. Saking jengkelnya dengan perbuatan kami yang tidak patuh, manut, dan cenderung memberontak, beliau terkadang mengeluarkan kata-kata hardikannya. Pun kalo nakal kami sudah kelewatan, beliau akan memukul ringan. Entah dengan tepukan di pantat atau memakai sapu lidi. Tapi, jangan bayangkan film SAW. Ibuku bukan psikopat kok! 
Tapi, belakangan, ketika anak-anaknya sudah dewasa, ada yang beranjak dewasa, serta ada pula yang masih anak-anak, ibu kami mulai berubah. Kata-kata ‘kasar’ sudah tidak efektif lagi. ‘makian-makian’ nggak jelas hanya memberikan efek negatif bagi kejiwaan kami. Ingin berteriak? Ah, ibu sudah capek. Buang-buang energi saja. Memukul atau maen kasar, sudah tidak lagi dilakukan ibu. Ya, enam anaknya sudah dewasa, sementara yang tiga masih anak-anak. Kami, yang sudah dewasa, tentu saja dengan pola pikir yang sudah berubah, sehingga tidak lagi ingin diperlakukan seperti anak kecil. Dan ibu kami pun sudah menyadari hal itu.
Tapi, beda dengan Oki, adik yang persis di bawahku. Atau kami yang sudah besar, namun sesekali berlaku seperti anak kecil. Oki atau aku atau Enong atau Jahed jika membuat sebal orang tua, ibu khususnya, bukan perlakuan otoriter yang bakal kami terima. Bukan teriakan kasar yang kami terima. Bukan kata-kata amarah yang terlontar. Tapi, yang keluar dari bibir ibu kami adalah DOA. Ya, kami bengal, malas, atau apalah yang bikin orang tua jengkel, kami malah diDOAkan. Ya, doa-doa untuk menjadi orang yang baik. Doa agar jadi orang sholeh, berilmu, berbuat baik. Itu saja!
Aku juga ibuku sama-sama yakin, bahwa DOA SEORANG IBU SANGAT MAKBUL. Tiada hijab (halangan) ketika doa terlontar dari bibir beliau. Allah akan mendengarkan bahkan tidak segan lagi untuk mengabulkan pinta, harap, dan ratap beliau. Saat beliau marah karena ulah anaknya, lalu keluar makian yang tidak pantas untuk didengar, seperti “Mudahan kamu jadi monyet!”, maka sang ibu harus hati-hati. Keridhoan Allah tergantung dari keridhoan ibu. Jika Allah saat itu meng’amin’i kata-kata si ibu, bukan tidak mungkin si anak akan berperilaku atau mungkin yang lebih ekstrim lagi, berubah menjadi monyet. Na’udzubillah...
Namun, ibuku rupanya tak ingin anak-anaknya sering mendengarkan kata-kata tidak enak darinya. Bukankah, selain dia (ibu, red) sendiri yang bakal berdosa, efek bagi kami, anak-anaknya, pun tidak akan baik? Maka, ketika ibuku marah, namun justru meluncur doa-doa tulus demi kebaikan kami, kami dengan sendirinya sadar. Kami sadar akan tulusnya hati seorang ibu. Kami sadar bahwa durhaka pada ibu, dosanya besar sekali. Kami sadar, bahwa hati seorang ibu luar biasa sekali. Tak ada duanya.
Dan...setelah beliau tiada, aku rasakan sekali efek doa beliau. Adikku, Oki, juga demikian. Kami, yang laki-laki yang sering bikin sakit hati ibu, khususnya. Di kala marah, beliau justru mendoakan kami. Dan...itu terbawa hingga kami dewasa kini. Merasakan manfaat doa-doa beliau semasa hidup, juga tatkala marah, namun tetap dengan hati tulus mengharapkan kebaikan demi kebaikan tercurah pada kami.
Ya, itulah ibu. Hatinya diselami, dasarnya tak bakal ditemui. Doanya bagai samudera bercahaya tak bertepi. DOA SEORANG IBU, SANGAT MAKBUL.

Satu by Dewa: Episode Biru Saya

(baca tulisan saya ini sambil dengerin Satu-nya Dewa)

Aku ini adalah dirimu
Cinta ini adalah cintamu
Aku ini adalah dirimu
Jiwa ini adalah jiwamu
Rindu ini adalah rindumu
Darah ini adalah darahmu

Reff:
Tak ada yang lain
Selain dirimu
Yang selalu kupuja
Kusebut namamu
Di setiap hembusan napasku
Kusebut namamu 2x

Dengan tanganmu
Aku menyentuh
Dengan kakimu
Aku berjalan
Dengan matamu
Aku memandang
Dengan telingamu
Aku mendengar
Dengan lidahmu
Aku bicara
Dengan hatimu
Aku merasa

Back to reff:



SATU…

Lagu dari album Laskar Cinta ini membuat saya merinding tiap kali mendengarnya. Ada chemistry yang membuat bulu kuduk berdiri. Tidak lain dan tak bukan sebab BUNDA SUDAH TIDAK LAGI DI SINI. Ia sudah ada di sana. Bersemayam di dalam Rahim-Nya.

Saya tidak akan pernah lupa. Beliau telah meninggalkan kami tiga tahun yang lalu, tepat di bulan Juli. Saat itu saya masih kelas dua SMA, mau naik kelas tiga. Belum pula genap sebulan saya merayakan ulang tahun yang jatuh di bulan Juni. Saat di mana saya sedang butuh-butuhnya kiriman doa, bingkisan dukungan, dan pompaan semangat menjelang UNAS.

Ah… Allah punya rencana yang jauh lebih baik dari yang dikira hamba-Nya.

Saat itu rumah kami diselimuti awan duka yang begitu tebal. Jika saya sedang berada di kamar beliau, seringkali saya merasa beliau ada di sana. Jika saya sedang melamun, seringkali beliulah yang saya lamunkan. Jika saya sedang berdoa, wajah beliaulah yang sering muncul.

Namun, belakangan ini, setelah kami pindah rumah, setelah saya kuliah di Tanah Jawa, setelah saya mulai digeogoti kesibukan dunia, perlahan-lahan rindu itu memudar. Rindu pada ibu memudar. Rindu untuk membacakan yasin padanya tiap malam Jumat. Rindu untuk mendoakannya secara khusyu’ tiap habis shalat. Rindu untuk mengenangnya lewat renungan-renungan. Rindu itu…memudar, Kawan!

Saya merasa mulai jadi anak yang kurang lancang. Mana mungkin doa saya tersampaikan padanya jika saya sendiri menjauhkan diri dari predikat ‘anak shaleh’. Bagaimana mungkin doa saya bisa terkirim jika saya sendiri seringkali berbuat dosa. Bagaimana mungkin?

Namun, saya yakin Allah takkan membiarkan saya begini selamanya. Saya meyakini hal itu dengan mengacu pada beberapa hal. Pertama, tiap kali melihat seorang ibu tua atau juga nenek-nenek di jalanan, maka saya pasti akan teringat dengan sosok ibu saya.

Kedua, tiap kali saya melihat atau membaca atau mendengar cerita yang ada peran ibunya dalam karakter sederhana, maka saya akan mengingat sosok almarhumah ibu saya.

Ketiga, tiap kali mendengar lagu Satu-nya Dewa, saya akan ingat bagaimana lagu ini diputar di televisi, menemani hari-hari kami selama menjaga ibu di rumah sakit. Sebuah lagu dengan makna dalam dan sangat menyentuh. Tak heran jika saya akan selalu ingat ibu jika mendengarkan lagu ini.

Keempat, blog inilah salah satu reminder bagi saya. Pengingat saya. Bahwa saya takkan membiarkan sosok almarhumah ibu saya menghilang, lenyap begitu saja dari kaset ingatan saya. Saya ingin merekam beliau dan mengenangnya lewat tulisan-tulisan saya di blog ini.

Namun, di antara keempat jalur ‘pengingatan’ sosok bernama Muslimah, ibu saya, maka yang lebih sering mengena dan langsung ber-chemistry dengan hati saya adalah… saat mendengarkan Satu-nya Dewa…



Surabaya, 16 Juni 2008