30 November 2007

Aku Nggak Percaya Aku Piatu


Dua tahun yang lalu…

Masih jam tiga malam ketika Kak Amat, kakak iparku, membangunkan seisi rumah Taman – sebutan untuk rumah kami di Mataram. Dia menjemput kami (aku dan saudara-saudaraku yang lain) agar segera ke RS Islam Siti Hajar, Mataram. Masih dengan mata yang setengah melek, aku segera cuci muka. Kami pun berangkat. Ada apa??? Satu tanya itu yang terus berputar di kepala.

Sampai di rumah sakit, kami langsung ke kamar nomor sekian, tempat ibu dirawat. Beberapa pamanku sudah duluan berada di sana.

“ Ambil wudlu! Kita ngaji…”

Masih dengan napas tak teratur, aku pun ambil wudlu dan mengambil mushaf kecil. Kami membaca surat Yassin yang dipimpin oleh Mamiq Muhsan.

Sambil membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, tak henti-hentinya mata kami tertuju pada sosok ibuku yang tergolek lemah. Selang udara dan selang infus menggerogoti tubuhnya yang makin pucat itu. Salah seorang bibiku dari pihak ayah, sedang mengipasi-ngipasi beliau. Aku, Oki, Ofah, Arif (ketiganya adikku), Enong, Jahed, Kak Atun, dan Kak Iyah (keempatnya kakakku), terus saja melantunkan ayat-ayat cintaNya.

Ngaji dihentikan. Masih pukul setengah lima pagi. Belum shubuh memang. Tinggal setengah jam lagi. Diserang kantuk, aku dan kakakku yang laki-laki pergi ke musholla rumah sakit. Mau ambil wudlu sekalian duduk-duduk menunggu azan maghrib. Bapakku mondar-mandir. Di samping ibuku, kadang keluar bicara dengan kami, menerima dan menelepon seseorang, dan macam-macamlah. Dua kakak perempuanku di dalam kamar ibu dirawat. Mereka rupanya tertidur pula di lantai. Ngantuk berat.

Ketika azan shubuh makin dekat, aku dan dua kakakku yang laki-laki masuk ke kamar ibu. Bapak dan bibiku sedang duduk di samping ibu. Kakak-kakak perempuanku juga telah terjaga. Adik-adikku, Ofah dan Arif juga sudah terjaga. Kondisi ibu makin kritis. Kami panik. Perawat yang sedang istirahat pun dipanggil agar segera memeriksa kondisi ibu.

Denyut nadi diperiksa. Tekanan darah ibu di-stetoskop-i. Napas ibu terlihat makin tidak teratur. Bapakku tak henti-hentinya membisikkan kalimat syahadat.

“ Laa ilaaha Illallahi… Muhammadar Rasuulullah… Laa ilaaha Illallahi… Muhammadar Rasuulullah…”

Bibiku juga ikut membantu agar ibu mengucapkan dua kalimat ampuh itu. Aku terus saja komat-kamit dalam hati agar ini bukan saatnya. Ini bukan saatnya. Ini bukan saatnya. Panjangkan umur beliau, Ya Allah! Sementara itu mata kami tak lepas jua dari dua perawat perempuan yang sedang berusaha memeriksa ibu.

……………………..

……………………..

……………………..

Titik panjang. Napas ibu telah berhenti. Detak ibu telah berganti menjadi detikjam dinding kamar rumah sakit. Gelombang biru menyergap, menghantam kami terendam dalam sedih yang sempurna. Seorang perempuan, ibu dari sepuluh anak, nenek dari dua cucu, istri dari seorang Mamiq Hamid, telah meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Meskipun, jujur saja, aku tidak menangis saat itu. Sungguh, aku tidak menangis. Air mataku telah habis satu malam sebelumnya. Ya, aku dibiarkan oleh Allah untuk menumpahkan air mataku satu malam sebelum ibu tiada.

Azan shubuh berkumandang, mengantarkan kepergian ibuku, Muslimah.

Lalu, ketika aku kembali ke rumah Taman, berkemas-kemas untuk kembali ke rumah Pancor, di sana ibu akan dimakamkan, aku pun sempat-sempatnya memandang diri di cermin. Mencermati diriku baik-baik. Terutama wajahku. Aku tidak sedih. Sungguh, aku tidak berurai air mata. Namun, aku masih belum percaya, aku bahkan senyum, entah artinya apa. Aku piatu??? Sungguhkah, aku piatu???



Aku anak soleh (nama majalah anak-anak – sempat langganan dulu)

Aku anak soleh?

Oya, Anak solehkah aku?





Ibuku Dahulu




Ibuku dahulu marah padaku…

….

Itulah judul puisi Amir Hamzah yang aku baca ketika masih SMP. Aku lupa lanjutan bait-baitnya. Tapi, yang pasti, aku masih ingat pesan moral yang terkandung di dalam puisinya sastrawan angkatan 20-an (benar gak ya? Mohon dikoreksi!) itu.

Puisi yang aku temukan di buku bahasa Indonesia itu, cukup menggugahku. Apalagi jika kukaitkan dengan keadaanku. Aku dan ibuku. Ingin rasanya membaca ulang puisi tersebut, menikmatinya diam-diam di kesunyian kamar, dan entah. Air mata bisa saja keluar.

Ibuku dahulu marah padaku…

….

Ibuku Dahulu” adalah sebuah puisi dengan kata-kata yang sederhana, mudah dicerna, sekalipun oleh otakku yang masih awam waktu itu. Aku menikmatinya. Bisa dikatakan itu pengalaman pribadi sang penyair, Amir Hamzah. Bagaimana dia tatkala dimarahi ibunya gara-gara tidak manut, tidak patuh, tidak menuruti nasihat ibunya. Ibunya yang kadang-kadang sedih, ingin menangis namun ditahan, gara-gara melihat tingkah-polah anaknya. Lalu, si anak pun sadar. Ternyata, selama ini ia telah sering menyakiti hati ibunya. Si anak menyesal.

Aku pun demikian. Jika ingat masa-masa suramku, saat aku masih duduk di kelas 5-6 madrasah hingga masuk di SMP, aku termasuk anak yang suka membantah. Perkataan sang bunda, aku bantah. Suruhannya, aku tolak. Nasihatnya, aku anggap angin lalu. Ia marah, aku lebih marah lagi. Tak ubahnya, aku dan bunda, lawan bersilat lidah.

Jika ingat akan hal itu, maka betapa menyesalnya aku hari ini. Di madrasah pun dulu, kelakuanku ini sampai juga di telinga guruku, hingga aku mendapat teguran. Aku malu, tentu saja. Masih terngiang di telingaku ucapan ibu guru Jalilah, guruku yang kini bersuamikan orang Kalimantan dan tinggal di Jakarta. Sungguh bagus sekali nasib beliau.

“ Fatah memang hebat, ya? Hebat di pelajaran. Namun, hebat juga kalo membantah orang tua…”

Tentu saja aku malu disindir sedemikian rupa halusnya oleh ibu guruku yang cantik itu. Istilah hebat yang tak patut disandang dalam satu pribadi. Hebat yang nggak bener.

Sekarang, bukan hanya puisi Amir Hamzah itu saja yang berkelebat di kepalaku, namun lebih dari itu. Bayangan ibu saat aku melukai hatinya.

Akankah Anda yang masih punya bunda, tega menancapkan pisau kata-kata, di hatinya yang tulus bercahaya???


Suralook (Surabaya – Lombok)

Kadang ia ‘dihadirkan’ oleh gerimis petang

29 November 2007

Gue Yakin, Jamal, Anugrah dari Tuhan



Jamal…

Siapa sih anak HI Unair 2007 yang nggak kenal dia? Angkatan-angkatan sebelumnya juga kenal dia. Dosen-dosen apalagi. Jamal is the most popular student in IR.

` Dia maba (mahasiswa baru) loh! Sama kayak aku. Tapi, pamornya jauh meroket di antara anak-anak yang lainnya. Dia lulusan SMAN 5 Malang, sering juara english debate, pernah tinggal setahun di Amerika (pertukaran pelajar), masuk HI UNAIR (yang seharusnya bisa aja lewat PMDK prestasi, tapi dia milih SPMB), dan nggak usah ditanya gimana pinternya. Semua berdecak kagum.

Kalau boleh gue bilang, terlepas dari subjektivitas, Jamal is a phenomenon!!! Terlalu berlebih menilai??? Yeah… terserah! Aku yakin, temen-temenku yang lain bakal punya pandangan yang sama denganku.

Dia Arab keturunan. So pastilah bisa ditebak tuh dari namanya. Jamal Said Bakarsyum. Ada punuk unta di hidungnya (hehehehe…maksudnya, hidungnya mancung gitu). Berbicara udah kayak diplomat. Vokalis banget. Ngomongnya rada-rada cepat. Kata dosenku sih, orang yang ngomongnya cepat, menandakan pikirannya yang jauh ke depan. Dan untuk ukuran Jamal, atribut itu berlaku banget! Nggak heran kalau tulisan tangannya yang berantakan kayak cakar elang itu gara-gara nggak bisa nyeimbangin kecepatan berpikirnya yang melesat-lesat kayak jet.

Aku pertama kali tahu dia – belum kenal loh ya – waktu daftar ulang maba di kampus C Unair. Dia diantar ama ibunya. Ketika Jamal masih di dalam auditorium, kakak tingkatku ngasih tau kalo aku bakal sekelas ama Jamal dan waktu itu kami sempat ngobrol dengan ibunya. Seorang sosok ibu yang menurutku: berwajah Arab (pastilah!), sederhana, mempunyai semangat berapi-api untuk urusan pendidikan, dan satu kalimat yang sempat saya dengar dari beliau yang hingga saat ini melekat betul di ingatan saya: “ Saya tidak pernah mengekang keinginan anak-anak selama itu baik untuk pendidikannya. Biaya sekolah tidak masalah buat saya. Dan satu yang selalu saya tekankan pada Jamal adalah agar selalu shalat tepat waktu. Itu!

Jujur, penuturan ibunya yang bilang kalau anaknya, si Jamal, yang sering ke luar negeri atas biaya pemerintah, langsung bikin saya keder. Satu kelas dengannya gimana ya? Apalagi denger-denger calon temanku – yang sekarang udah jadi temanku – lumayan banyak yang punya pengalaman pertukaran pelajar. Ada yang ke Jepang, Amerika Serikat, juga Jerman. Tahu akan hal itu, jangan-jangan ntar saya jadi under-dog di kelas! Sampai segitu saya mikir. Padahal setelah menjalani, Alhamdulillah tidak separah itu.

Biaya sekolah tidak masalah buat saya…

Seorang ibu Jamal berkata demikian. Padahal sepenuturan Jamal, he comes from divorce family. Ortunya bercerai. Jamal memilih tinggal bersama ibunya. Dia lebih sering dibiayai oleh ibunya yang tidak bekerja ketimbang bapaknya yang jadi wiraswasta – membuka usaha onderdil mobil. Jamal sebagai anak sulung dengan dua adiknya harus ditanggung oleh ibunya sendirian. Meskipun demikian, bapaknya tetap ngasih pesangon. Tapi, tetap saja duit lebih banyak mengalir dari sang bunda. Pun seandainya Jamal minta duit jutaan buat les, ibunya dengan ringan dan cepat ngeluarin tuh duit. Beda ama bapaknya. Gitu cerita Jamal.

Gue mikir di dalam hati, gue masih mending donk ketimbang dia. Apalagi dibandingkan dengan teman-teman HI lainnya yang rata-rata tajir itu. Namun, Jamal juga pernah bilang, apa yang diberikan oleh ibunya, sebisa mungkin ia balas dengan prestasi-prestasi. Jamal tidak ingin mengecewakan ibunya. Dia justru akan takut pada ibunya tatkala nilai atau prestasinya menurun. Dan…itu yang tidak diinginkan oleh seorang Jamal. Gue cuman bisa berdecak kagum di dalam hati. Subhanallah!!!

Padahal jujur aja, gue sempat shock di HI juga gara-gara dia loh! Gue ngeliatnya sebagai threat. Ancaman. Apalagi ketika gue satu kelompok diskusi mata kuliah PIHI selama semester satu ini, gue antara senang dan tidak senang. Senang karena gue satu kelompok ama anak yang tidak diragukan lagi kecerdasannya. Tidak senang karena dia akan menjadi center of attention sementara gue siap-siap aja jadi kambing congek. Hehehehe…segitu ekstrimnya gue mikir. Padahal setelah sekian lama berinteraksi dengan dia dan anak-anak lainnya, gue makin yakin banget, JAMAL ADALAH ANUGERAH DARI ALLAH BUAT ANAK-ANAK HI. I think not only for HIers, but also for his family n society. Amiiiin…

Dan…sebentar lagi gue akan menyaksikan sendiri satu prestasi bakal disabetnya. Gue, insya Allah ini akan ke Malang, nyaksiin lomba debat bahasa Inggris se-Jawa Timur yang akan dihelat di Universitas Negeri Malang. Dia satu-satunya wakil Unair yang berstatus mahasiswa baru!!! Jamal…get the winner, yeah!!! I’m sure you will be the champion!!! Wooooowww…


Kamis Pagi, Surabaya 11/29/2007 6:19:55 AM

25 November 2007

Ibu Baru, Susu, Aku

Sudah seminggu ini, gue rajin minum susu. Nggak maen2 susunya. Susu Ultra Milk kotak yang 125 ml. Padahal jujur aja. Selama setahun ini gue jarang2 banget minum susu. Namun, apa daya. Gue nggak kuasa menahan limpahan rezeki Tuhan itu. Jadi, daripada ngedumel, lebih baek gue protes! Eits… bersyukur kamsudnya!!!

Ini juga gara-gara my new mum…

Beliau ama bapak gue dateng ke surabaye. Kebentulan bapak gue diamanahkan lage untuk jade petugas haje taon ine. Hehehe…

Yups, berhubung gue berada satu kota dan jarak asrama haji tempat pelatihan bapak nggak jauh2 amat dari kosan gue, so kami janjian ketemuan malam Kamis tanggal 5 September kemarin2 ini.

Terang terus *dibalik* this is defez taem gue ketemu ama new mum. Ada rasa deg-degan juga coz di antara semua sodara gue, cuman gue yang kagak ever ngeliat dia. So, mau kagak mau gue sebelum berangkat ke asrama haji sukolilo, berjanji pada diri sendiri untuk jaim dan bercuek itik pada beliau.

Tapi, dasar gue… Gak bisa berlama-lama masang tampang jaim. Begitu gue n new mum ber-face 2 face, tampang dingin gue langsung mencair. Gue nggak rela bersikap begitu. Buang2 energi aja! Betoool???

Alhamdulillah…

Akhirnya, gue bisa juga ketemu ama bapak setelah enam bulan kagak pernah see face. Apalagi sama sodara2 gue yang hampir satu taon nggak ketemu. Duh…kangen berat!!! Btw, ada yang mau bantuin gue ngangkat rasa kangen ini gak??? Ughhhhhhh…

Malam itu, gue cuman bisa surprised dan numpahin rasa kangen gue ama bapak. Gue juga cerita2 ama my new mum. About acara pernikahan beliau yang baru seumuran jagung bakar. Hehehe…

My new mum + bapak gue cerita kalo acara married mereka berjalan dengan lancar. Meski banyak konspirasi bertaburan di belakang layar yang sempat menjadi duri. Namun, gue syalut banget ama ketegaran my new mum dan bapak gue dalam menghadapi itu semua. Congratz deh!!! Allah bakal senantiasa memudahkan langkah kita jika niat ini emang udah lurus… Kira2 begitulah kesimpulan yang bisa gue tarik dari peristiwa sakral kedua bagi bapak gue itu.

Malam itu juga my new mum ngajak gue shopping di Hero. Secara, gue juga mau ngumpulin barang2 kebutuhan kos. Maklum, hari itu juga gue baru pindahan dari Malang. Jadi, kamar gue masih minimalis. Seprei aja nggak dikasih ama pemilik kos gue. Huuuuh…pelit! Oia, tahu kagak, satu peraturan kos yang sempet bikin gue gondok *gak gondok beneran* adalah gue kagak boleh bawa luptup. Diharamkan! But, gue nekad. No luptup, berakhir pula riwayat hidup gue. Heheheh…gak dink!

Di Hero, gue jadi hero = pahlawan. Halah…gak lah! Gue dengan es-ka-es-de tingkat tinggi, belanja kebutuhan juga barang2 yang gue gak butuh2 amat. Susu, buah apel, nescafe, hit listrik, deterjen daia, sabun, pasta gigi, nutrisari, handuk, dan berbagai macam snek. Jujur, gue nggak pernah belanja seheboh itu. Perhatian banget my new mum! Moga2 sampai akhir hayatnya seperti ini… Amiiin.com

Akhirnya, kami balik ke asrama haji dengan belanjaan yang lumayan berat. Sekitar tiga ratusan perak ludes malem itu. Gue ngrasa jadi anak yang dimanja abis malam itu. But, sesekali kagak ape2 kan? Hehehe…

Malem itu gue bisa numpahin rasa rindu gue ama bapak. Bisa ngeliat face beliau udah lebih dari syukur. Meski wajah lelah tergambar di mukanya *ada gambar2 gitu deh di muka bapak - - eh, gak dink!* namun bapak tetaplah bapak yang gue kenal selama ini. I was so happy!!!

Akhirnya, karena malam udah agak larut gitu, gue pun mengundurkan diri dari asrama. Gue pamit pulang coz besoknya gue ada kuliah. Kuliah perdana bagi gue. Sementara temen2 gue dah kuliah 3 hari. Ah, kagak ape2. Nyelesein yang di Wearnes kan demi masa depan juga. So, what gitu loh!!!

Gue “dipaksa” naek taksi ama my new mum n bapak gue. Yawdah, daripada naek angkot. Padahal dalem hati gue pengen ngangkot aja! Cuman ngabisin duit dua ribu gitu. Ketimbang pake takesi yang malam itu karena gue akhirnya jadi naek taksi, cuman bayar sepuluh ribu. Murah bukan??? *padahal bagi anak kos semacam gue, gak banget deh*

PS: buat my new mum, jangan sering2 manjain gue yah! Gue jadi ilfil coz jarang2 gue dimanja n gak biasa. Mendingan, ibu lebih sering2 aja beliin aku susu biar cepet gemuk. Hiks…badan gue makin lama makin kayak cacing yang cacingan aja *gileeee…cacing aja bisa cacingan* Bayangin, gue dengan tinggi 170 kilometer, eh sentimeter dink, berat gue cuman 48 ons, eh kilogram dink! So, menurut perhitungan BMG, gue termasuk kategori orang2 yang perlu mendapat asupan dan perhatian juga kasih sayang. Ya Allah…semoga gue bisa dapetin itu semua lewat ibu baru gue. Gue yakin, Engkaulah Yang Mahatahu The Best 4 me!!!!


Cerita ini adalah hasil kolaborasi gue dengan nyamuk2 nakal yang banyak berseliweran di kamar gue. Huhuhuhu…

Puisi Buat Calon Ibu Baru

Jika kau memang benar-benar

Ingin jadi ibu bagi kami

Silakan!

Aku takkan menghalangi…

Jika kau memang benar-benar

Pilihan Tuhan dari sekian perempuan

Silakan!

Aku memang tak bisa menghadang…

Jika kau memang benar-benar

Akan kami sebut dengan ‘ibu’

Silakan!

Tapi, jangan kau paksa kami

Menghapus jejak ibu kandung kami

Yang telah lama terukir dalam napas kehidupan kami

Jika kau memang benar-benar

Akan menjadi pendamping bapak

Silakan!

Asalkan…

Kau jangan sampai telantarkan beliau

Kau jangan sampai menyakiti kami

Kau jangan sampai mengecewakan kami

Itu saja…

Itu saja pintaku…

Kalau ada yang kurang…

Besok-besok aku tambahkan lagi…

Selamat menempuh hidup baru…

Entah…


A New Mother for Me??? Really???

Antara badai dan angin sepoi…

Begitulah aku menanggapi episode baru yang akan kujalani sekeluarga. Bapak akan nikah lagi. Aku dan kedelapan saudaraku bakal punya ibu tiri. Akan ada perempuan yang menempati posisi almarhumah ibuku. Tinggal di rumah baru. Tanggapanku???

Setiap kali bapak meneleponku, aku terus dikasih tahu perkembangan rumah kami yang sedang dibangun – calon ibu tiriku juga akan diboyong ke situ. Alhamdulillah! Dalam jangka waktu setahun bisa selesai.

Beliau juga sering melontarkan ‘lobi-lobi’ mengenai rencana second marriage-nya itu. Sebab jarak yang memisahkan, aku pun nggak bisa menunjukkan tampang MANYUN-ku. Sebab komunikasi yang cuman ngandalin suara itu, aku pun nggak bisa menunjukkan ekspresi kejut dan masem-ku. Sebab sebagai anak yang udah dibiayai semua kebutuhannya, aku nggak bisa demo dan protes. Sebab sebagai anak yang berusaha untuk ‘berbakti’, aku nggak bisa mampangin poster AKU NGGAK SETUJU!!!

Jujur…

Aku nggak tahu harus nanggepin gimana! Ketika mendengarkan suara ‘tua’ bapak di telepon, aku dengan serta-mertanya aja bilang:

“Ya, gak apa-apa deh Bapak nikah lagi…

Mmm…gimana ya?

Kalau memang itu yang terbaek dari Allah… ya… silakan!

Kalau kakak-kakak dan adik-adik tiang (saya, red) setuju, ya…mau apalagi!

Pokoknya, kalau semua bisa menerima keputusan Bapak, saya ngikut aja!”

Aku bilang gitu ama bapak. Kata-kata itulah yang keluar dari bibirku! Kata-kata yang tak lebih dari reaksi spontan yang belum sempat kugodok matang di dalam pikiran. Kata-kata ‘mentah’ yang mesti kukeluarkan untuk menjawab pertanyaan bapak. Jawaban yang mau nggak mau harus kulontarkan secepatnya untuk menghemat pemakaian pulsa.

Padahal…di dalam hati??? Padahal…setelah lama berpikir??? Padahal… setelah lama menimbang dan berusaha untuk memahami???

Aku…

BELUM BISA MENERIMA…

Sungguh! Aku belum siap punya seorang ibu lagi. Aku belum siap melihat seorang perempuan sekamar dengan bapakku. Meskipun dalam agama, dia halal bagi bapak. Namun, sekali lagi… Aku belum siap…

Bagaimana dengan saudara-saudaraku???

Lewat sms, kakak perempuanku yang pertama, meminta aku agar meng-IKHLAS-kan rencana pernikahan bapak. Kakak perempuanku yang ketiga juga menanyakanku. Tapi, menurutku, dia lebih memilih di wilayah abu-abu. Hal ini bisa kutangkap dari sms-nya yang bilang: APA ADIK IKHLAS, BAPAK KAWIN LAGI? Sementara, kakak perempuanku yang kedua belum menunjukkan tanggapannya. Sebab, aku tahu, dia dulu paling anti jika bapak nikah lagi…

Bagaimana dengan dua kakakku yang laki-laki???

Aku yakin, mereka belum sreg seratus persen. Sama denganku! Aku sangat yakin itu. Makanya, nggak heran, kalau Mujahid, kakak laki-lakiku yang pertama, selama ini seperti seorang REBEL. Pemberontak! Ada trauma di hatinya yang sampai saat ini belum tersembuhkan. Aku tahu itu! Sementara kakak laki-lakiku yang kedua, nampaknya seventy five percent agree. Sebab dia lagi berusaha sekuat tenaga untuk bisa jadi anak yang berbakti. Aku tahu itu!

Sementara ini… aku masih di wilayah abu-abu agak kehitaman…

Bagaimana dengan tiga adikku??? Oki, Ofah, dan Arif…

Sampai detik aku menulis ini, hanya Ofah yang menyinggung tentang rencana pernikahan bapak. Tadi sore aku mengubunginya karena dia mau ngomong langsung denganku, nanyain tentang tugas biologinya. Dalam pembicaraan berdurasi tiga menit dua detik itu, dia sempat sempat menyinggung tentang bapak yang mau nikah lagi.

“ Kakak udah dikasih tahu kan ama Kak Iyah?”

Ada nada kurang ‘sreg’ yang kudengar dari suara Ofah, satu-satunya adikku cewek.

“ Iya, sudah!” Aku menjawab dengan dingin. “ Kapan acaranya?” Aku bertanya lagi. Padahal aku sudah tahu lewat sms Kak Iyah.

“ Tanggal xxx-xxx-xxx September”

“ Oh…”

Sekali lagi, aku belum siap punya ibu lagi. Citra ibu kandungku masih teramat kuat melekat di benak, hati, pikiran, juga kehidupanku. Dengan kehadiran seorang perempuan di keluarga dan akan kupanggil ‘ibu’, sungguh masih sangat berat bagiku.

Aku ngerti, bapak juga butuh ‘teman pendamping’. Dua tahun ngejomblo, hidup di tengah tekanan teman-teman kantor yang memintanya agar segera beristri lagi, mungkin sesuatu yang sulit bagi beliau. Yeah…sulit bagi beliau! Aku ngerti. Aku ngerti. Apalagi dari pihak keluarga ibuku juga keluarga bapak, berharap bapak beristri lagi.

Kami? Sebagai anak-anaknya? Yang bakal hidup satu rumah dengan ‘perempuan baru’? Yang bakal sering bertemu dengannya? Yang katanya akan merawat kami? Yang katanya akan membantu bapak menghadapi masalah? Yang katanya akan menemani bapak menjalani masa pensiunnya? Yang katanya akan….

Ah… Cerita tentang ‘kelakuan’ seorang ibu tiri masih melekat kuat di benakku!!!

Sungguh!!!

Malang, saat kisah hidupku seperti sinetron…


Titin - Cerita Tentang Ibu Kita

Sore, 25 Juli, Rabu kemarin…

Hp-ku berdering. Nama “Titin” muncul di layar hp-ku. Sebelumnya miscall sampai dua kali. Tapi, deringan yang ketiga kalinya, aku nggak segan-segan menekan tombol terima. Anak-anak palingan cuman mau miscall doank!

Tapi…

“ Halooo…”

“ Cef, ibu tiriku meninggal. Barusan Bapak nelpon…”

“ Ya Allah… Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un… Kapan, Tin?”

“ Barusan, Cef! Sebenarnya tadi siang, tapi aku lagi ujian. Pas keluar, bapak nelpon lagi. Ibuku udah nggak ada…”

Ada isak yang sangat kentara terdengar. Aku terhenyak. Tin…

“ Tapi, kemarin Titin jadi kan ngirim surat ke Jalinan Kasih RCTI?”

“ Sudah, Cef! Surat pertama nggak ada balesan. Terus, aku kirim lagi. Padahal tau nggak Cef… Aku belum sempat ngomong ama ibuku. Ya, karena penyakitnya itu, nggak membolehkannya untuk bicara banyak…”

Titin masih dengan isak…

“ Lu yang pertama kali aku kasih tahu…”

Aku belum bisa berkata. Aku biarkan Titin mengeluarkan semua isi hatinya. Akhirnya, keluar juga ucapan basi…

“ Tin… yang sabar, ya?! Titin pasti kuat menghadapi semua ini. Yeah, Allah memang udah bikin jalan kayak gini… Yang tabah ya, Tin…!!!”

Tumpah air mata… Aku juga belum mampu berpikir jernih. Kata-kata yang pas, entah….

Dialah Titin. Teman semasa SMA. Anaknya baik, pantang menyerah, selalu gigih, dan bersahaja. Meski terkadang agak sedikit narsis dan selebor. Tapi, dia tetap kukenang baik. Apalagi selama duduk 3 tahun di bangku SMA, aku berteman baik dengannya meski beda kelas. Kami sama-sama suka nulis, ikutan lomba bikin cerpen atau puisi sering barengan, dan so pasti sama-sama kutu buku.

Satu hal yang melekat pada diri seorang Titin adalah sifatnya yang tak mudah putus asa. Meski dalam lomba nulis, aku yang lebih sering menang, namun dia tak iri atau patah arang. Bahkan, aku belajar banyak dari dia. Semangatnya tak pernah padam dalam berkarya (pernah nyobain bikin novel, namun berakhir dalam nyala api, ia bakar sendiri, gara-gara ibunya pernah iseng ngebaca). Dia juga kukenal lantang membela prinsip dan keditaktoran orang tuanya yang sempat me*********kannya dengan seorang pria. (maaf ya, Tin…)

Oya, kalau menang lomba nulis, dia pasti nggak lupa nraktir aku dan gank-ku, 9 O’clock. Sekedar makan mie ayam atau bakso. Padahal, kalau giliran kami atau aku sendiri yang punya hajatan (pas menang nulis), kadang-kadang kami nggak ngajak dia. Bener-bener licik deh, kami, Tin… (hehehe…Akhirnya bocor juga di sini. Jadi malu kuadrat neh…)

Tin, satu yang bikin gue teramat syalut ama lu!!!

Lu bener-bener anak yang berbakti deh!

Buktinya?

Beberapa waktu yang lalu elo nge-sms gue, minta tolong cariin alamatnya Jalinan Kasih RCTI. Elo mau ngirim surat, minta bantuan dana. Ibu tiri elo kena kanker payudara. Hiks…gue pun langsung nyari lewat google via gprs hp. Ketemu! Gue kirimin elu alamatnya. Dan… kemarin elo bilang, sudah dua kali bersurat. Surat pertama… no reply. Nggak ada kejelasan. Terus elo minta alamat lagi, lalu aku berikan. Dan kau bersurat lagi. Namun, sungguh seribu sungguh…ibumu keburu dipanggil-Nya…

Tin, elo yang sabar ya?

Gue emang nggak tahu harus ngomong apa…

Ne kejadian langsung ngingetin gue ama ibu gue…

Pas banget dua tahun beliau udah nggak ada di samping gue…

Tin, nasib kita kok sama ya…???

Gue yakin…di balik semua ini…ada hikmah besar menanti kita!

Kita raih hikmah itu sama-sama ya?!

Tin… you’re my best fren…

Allah yang akan balas perbuatan baik lo ama ibu lo

Semoga ibu lo mendapatkan tempat yang indah di sisi-Nya…

Amiiin…

Tin… doa bareng yuk buat bunda kita masing-masing!

Rabbighfirli wa liwaa lidayya warhamhuma kama robbayaani shagiiraa…

My Mabook, Moom

Bapak…

Aku mabuk

Ibu…

Aku sakaw

Wajah ini aku titip padamu

Orang tuaku

Biarlah namaku terpasung di gua berjeruji besi

Tapi,

Aku ingin kau terima wajahku

Terimalah!

Maaf

Aku terlampau sering membahagiakanmu

cabinet de travaille, 8/3/2007 11:00:11 AM

Kau Bukan Ibuku

Cahaya berbaris

Manis

Udara pekat tipis

Diselingi gerimis

Aku sendu

Termangu rindu ibu

Jendela gersang

Pintu-pintu karam

Atap kelam telanjang

Cahaya rembulan menyiramkan

Aku yang duduk di sudut batu

Menunggu kecup ibu

Detik-detik berantakan

Terbaring di pangkuan

Aku lama nanti ibu

Berteman nyamuk kegelisahan

Ibu…

Halauku goda

Kau

bukan ibu

Ibu

bukan kau

Lalu…

Menjelang matari ngantuk di pelupuk,

Enam hari lagi sembilan belas


Bu, Aku, Bu

Dingin. Sepi menyeruak. Membinasakan suara-suara asing yang membisingkan telinga. Saya terpaku, di bawah pohon palem, dengan pencahayaan lampu pinggir jalan. Pulpen di tangan kanan. Sebuah notes kecil terbuka di pangkuan. Siap untuk ditulisi.

Mencari ide sendirian. Tak peduli dengan keramaian. Lalu-lalang orang. Kendaraan yang berseliweran. Pedagang-pedagang malam yang kadang menghampiri menawarkan. Yang saya sambut cukup dengan gelengan. Bekal di dalam tas berupa cemilan dan sebotol air mineral masih ada. Belum sempat saya sentuh. Nanti saja, kalau sudah lapar.

Saya menuliskan,

Ibu…

Semoga aku tidak menjadi anak yang malang

Meski kau sudah di pelukanNya

Aku berharap masih bisa memberikan yang terbaik

Entah dengan sepucuk doa

Entah dengan usahaku untuk jadi anak yang shaleh

Semoga,

Semua diperkenankanNya…

Amiiin…

Aku menulisi halaman pertama notes pemberian adikku itu, dengan iringan dua tetes air mata.

Ibu…

Andai saja kau masih bersama kami

Mungkin semua takkan jadi begini

Kau ada, paling tidak ada tempat meneduhkan

Kau ada, paling tidak ada tempat mengeluhkan

Kau ada, paling tidak ada tempat membahagiakan

Kau ada, paling tidak ada tempat mencurahkan

Kau ada, paling tidak ada tempat menangiskan

Tapi, semua sudah tergariskan

Kali ini dengan delapan tetes air mata dan hati yang mulai bergelombang putih. Setiap tetes yang jatuh, saya biarkan bersenyawa dengan tinta. Biar saja, tinta dan air mata, berpeluk dalam memar tulisan saya.

Ibu…

Belaianmu kini tergantikan mimpi

Curahan kasihmu kini tergantikan angan

Embusan lembut nasehatmu kini tergantikan bisik angin malam

Aku berubah

Sejak kau tiada

Aku berbeda

Sejak kau menghilang dari tatap mata

Sungguh…

Predikat “anak shaleh” masih sulit kugapai

Padahal aku meyakini, itu sebuah keharusan

Tapi…

Enam belas tetes air mata, menggelinding lembut di pipi. Dada saya bergetar. Tangan saya tak bisa meneruskan. Rumpun sedap malam di dekat saya, tak sanggup menenteramkan. Biar saja.

Ibu…

Cermin di hatiku tak bisa berbohong

Kaulah yang teristimewa

Kaulah wanita yang tak terganti

Takkan bisa terhapuskan

Meski potretmu, hanya dua buah saja aku punya

Namun potretmu di hatiku jauh akan tetap abadi

Hingga detik pertemuanku nanti

Enam belas jadi delapan. Sebanyak itulah tetes kehangatan yang terjun lembut di atas kata-kata yang saya coretkan, kini. Saya mulai menguasai emosi. Meski riak itu masih saja menggoyahkan dalam bentuk sesenggukan. Biarkan.

Ibu…

Doamu…

Harapmu…

Tetap kurasa

Mengaliri jalan hidupku

Kututup notes kecilku. Dua halaman sudah yang bisa aku goreskan. Dua tetes air mata turut meng-amin-kan.

Sepinate, 19 April 2007

Aku dan Ibu

Dan…aku akan merindukan sosok itu!

Tiba-tiba…

Ia akan hadir tanpa kuminta. Diam-diam. Mungkin ia telah mengendap-endap. Lama. Tanpa sepengetahuanku. Mengintaiku dari dunia yang entah seperti apa. Aku hanya bisa meraba-raba. Tapi, tetap saja aku takkan mampu. Sebab, aku belum mengalaminya. Tapi, siapapun akan tahu, aku akan menjalaninya dunia seperti yang kini sedang ia jalani. Pasti.

Dialah ibu.

Sosok bermata bening yang telah tinggalkanku satu setengah tahun itu. Berawal dari sakit, dia dengan senyum yang mengembang, berwangikan melati segar, meningggalkan kami – sembilan anaknya – di shubuh yang lumayan senyap. Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram itu, telah jadi saksi. Aku pun akan tetap dihadirkan bayangan itu, tiap kali melewati rumah pasien itu.

Aku mandi. Guyuran demi guyuran akan menjelma usapan tangannya nan lembut. Mengelus rambut mudaku yang ikal. Menepuk-nepuk pipiku sebelum berangkat menjemput mimpi. Menempel di kening dan bibirku, tiap kali aku langkahkan kaki ke sekolah. Dan ia akan berpesan: “Hati-hati di jalan, Nak!”

Saat kumenikmati makan siang, ia akan datang. Duduk memandangiku dengan setulus-tulusnya. Menanyakan pelajaranku di sekolah. Menceritakan kegiatannya di rumah sepeninggal kami di pagi hari. Belanja ke pasar, memasak makanan kesukaan kami – sambal goreng tempe, tongkol goreng, atau sayur kubis -, mencuci, dan melayani ibunda tercintanya yang sudah senja, nenek kami. Suapan demi suapan akan terasa nikmat saat terselipi cerita dan pengalaman-pengalaman penuh kasihnya hari ini.

Tapi, semuanya telah berakhir. Kamis shubuh di bulan Juli satu setengah tahun yang lalu…
Matanya yang menyiratkan cinta, meski telah terkikis di sana-sini oleh waktu, bagiku, seperti memandang telaga yang luas dengan airnya yang tenang bergejolak. Bibirnya, yang telah fasih menuturkan nasehat-nasehat, bagiku, laksana segarnya air pancuran yang mengisi tabung-tabung jiwa kami. Dia tertawa, kami bahagia. Dia tersenyum, kami bangga. Dia menangis, kami ikut merasakan sedihnya. Dia marah, kami gumpalkan sesal. Gara-gara kami… Ya, kami adalah warna-warna itu. Dia adalah kanvas itu sendiri. Tempat kami menumpahkan diri. Semakin banyak warna itu, semakin melekat kehidupan kami. Indah adalah resiko yang harus kami tanggung…

Dan…

Bunga bermahkota indah itu makin layu. Mencium tanah, lebih tragisnya…
Kesepian adalah episode kemunculannya. Tanpa derit suara, ia tiba-tiba terpaku di depanku. Meraih tanganku, membawaku terbang, menuju masa lalu. “Kamu tak boleh lupa!” Aku, dalam hal-hal tertentu boleh saja lupa. Tapi, tidak untuk kenangan indahku bersama tetes embun bernama ibu. Aku pun dengan kesadaran penuh, akan menyusuri detik-detik, masa-masa, detak-detak, antara aku dan ibu.

Cinta bukanlah sekerdip rasa yang akan bergelora, bergelombang sebentar, lantas hilang dalam hitungan kerjap mata. Lebih dari itu, cinta akan meninggalkan jejaknya pada bebatu yang bernama rindu. Rindu yang telah terpetakan, tertatahkan dengan begitu eksotis, pada hamparan jiwa. Ia lebih kekal. Ia lebih harum. Ia lebih manis. Ia tak terkira… Itulah hatiku. Dulu, kini, esok, selamanya. Menautkan semua rindu pada ibu.

Bukan sepi saja yang antarkanku menjemput rindu. Di tengah ramai, saat termangu di tangga masjid, saat berbelanja makanan ataupun baju, saat keluar dari pintu kos-kosan, ketika di dalam angkot, rindu itu akan menyelusup. Mengisi kekosongan tatap. Apalagi jika pandanganku terbentur pada sosok perempuan yang mungkin telah jadi ibu, sebab anak-anak tampak digandengnya. Maka, ingatan pada sosok ibu, segera menggilas alam bawah sadarku. Mengajak seluruh sel-sel memori di otakku menari-nari dengan iringan lagu-lagu cinta tak terdefinisikan.

Aku, dengan segala kemahaterbatasanku, ingin rasanya bertemu dengannya. Setiap yang kutanya, solusi yang diberikan padaku hanyalah… lewat mimpi. Lewat mimpi saja. Tapi, aku…ah! Mimpi sangat terbatas. Begitu terbangun, lamat-lamat ia akan menghilang, tertelan denyar aktivitas hidupku. Tapi, lewat apalagi selain itu? Tak ada jalan lain. Ya…aku akan bermimpi. Bermimpi bertemu dengannya. Menikmati kembali masa-masa manis yang pernah Tuhan suguhkan antara aku dan ibu…

Untuk Semua Bunda di Dunia


Bunda
Samudera kata-kata tak mampu melukiskanmu…

Mencintai Bunda dengan Sederhana

Bunda…

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Tak meluap-luap seperti cinta ala anak muda. Biar Tuhan juga tidak iri, lalu memurkaiku karena cinta yang berlebih kepadamu.

Bunda…

Dua tahun lebih kita tak bersua. Tak mengapa. Aku yakin kau mendapat tempat yang layak di sisiNya. Namun, kau tahu tidak? Aku seringkali merindukanmu. Berharap suatu saat bisa bertemu. Pun sebelum tidur. Jika rindu sudah memuncak, aku tak lupa berdoa biar Tuhan mempertemukan kita di alam mimpi.

Aku ingin mencium tanganmu.

Aku ingin membasuh kakimu yang katanya surga terletak di sana.

Aku ingin membuatmu tersenyum dengan cerita-cerita.

Aku ingin membuatmu bahagia…

Bunda…

Tuhan sayang banget ya sama bunda? Bunda dipanggilnya duluan. Tuhan ingin memangku bunda. Merangkul bunda dalam pelukanNya. Meski jika ingat itu, aku ingin rasanya menangis. Membenci, kenapa Tuhan tak mengizinkan aku berlama-lama dengan engkau, Bunda. Namun, aku sadar. Entah sampai kapan serpih-serpih hikmah ini akan setia kupunguti. Sampai aku bertemu denganmu, sepertinya. Yah…sampai aku bersua denganmu, Bunda.

Catatan tentangmu tidak ada habis-habisnya.

Bunda, aku takkan bosan menulismu.

Sebab, aku cinta dan tetap sayaaaaaaaaaang…sama Bunda.